Head

Artikel Opini
Editorial
Hiburan
Hukum
Jokowi
Leader Opinion
Liputan Khusus
Politik
Presiden RI
Profile
Seni dan Budaya
Wawancara Khusus

Translate

Membangun Rasa Saling Percaya dalam Berbangsa

Ekspresi Pdt. Yohannes Nahuway saat diwawancara oleh suaraumat.com di GBI Mawar Saron, Kelapa Gading, Jakarta. (Foto: Gabriel Hartanto)


Penulis: Mihardo Saputro

JAKARTA, suaraumat.com Indonesia merupakan negara dengan kultur budaya dan sosial yang sangat beragam. Berbagai suku, budaya, agama, ras dan cara berprilaku dalam bersosialisasi mewarnai kehidupan bertoleransi di negara Indonesia. Namun kenyataan saat ini, mayoritas masyarakat Indonesia kehilangan semangat toleransinya. Kasus kekerasan terhadap pemeluk agama dan tempat ibadah belakangan ini marak terjadi di Tanah Air. Masyarakat pun resah, khususnya para tokoh agama. Kekerasan ini jelas mencoreng wajah demokrasi Tanah Air. Bagaimana kalangan muda Kristen menanggapi masalah ini?

Berikut wawancara suaraumat.com dengan Gembala Komisi Pemuda dan Anak (KPA) GBI Mawar Saron Jakarta:

Terkait maraknya kasus-kasus intoleransi, sebenarnya fenomena apa yang terjadi di Indonesia terkait toleransi?

Jika kita melihat ke belakang, dulu saat saya sekolah masih ada upacara bendera dan penataran P4. Nah, sekarang adik-adik kita tidak lagi mengalami hal itu. Jangan-jangan ini yang menjadi faktor sehingga generasi muda kita sekarang ini lebih memikirkan diri sendiri dari pada memikirkan orang lain dalam koridor kebangsaan. Kemudian juga, dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, kita yang muda-muda ini punya kelemahan dalam hal menerima informasi tanpa mengoreksi sehingga mudah terprovokasi.

Apa yang harus dilakukan oleh gereja terkait masalah ini?



Jika dikerucutkan, ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh gembala-gembala jemaat. Pertama, gembala jemaat harus mengkhotbahkan pesan-pesan kebangsaan kepada jemaatnya. Gembala jemaat jangan alergi menyampaikan pesan-pesan nasionalisme dalam khotbanya.

Ke dua, harus ada komunikasi lintas gereja. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuka forum dialog antar umat Kristen di tingkat kelurahan, kecamatan, bahkan provinsi, sehingga anak-anak muda Kristen bisa bertukar pikiran mengenai tugas dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara.

Ke tiga adalah membangun komunikasi antar rumah ibadah. Misalnya antara gereja dengan masjid, pura, ataupun vihara. Komunikasi adalah hal yang penting untuk membangun persatuan dan kesatuan. Apalagi dengan adanya teknologi  komunikasi, khususnya media sosial, jadi kita bisa menggunakannya  untuk kampanye toleransi beragama.

Apa yang harus dilakukan jika kita mengalami kasus intoleransi?

Indonesia sangat diberkati dengan kultur kebudayaan dimana ada yang namanya kearifan lokal. Jadi, sebagai orang Kristen kita harus bisa menjalin hubungan dan membangun kepercayaan antar pemeluk agama serta tokoh-tokoh agama di sekitar kita. Ada pepatah mengatakan, “Tak kenal, maka tak saya.” Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen, kita harus pandai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar agar terhindar dari masalah-masalah tersebut.

Saya optimis, jika komunikasi antar pemeluk agama terjalin dengan baik maka rasa percaya itu ada. Jika sudah ada rasa saling percaya, maka toleransi di Indonesia bisa tercipta.

***

* Penulis adalah Redaktur Pelaksana Tabloid Suara Umat


Berikut video wawancara MUKI Channel dengan Pdt. Yohannes Nahuway:



Dilihat 0 kali

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Wikipedia

Search results

Start typing and press Enter to search