Head

Artikel Opini
Editorial
Hiburan
Hukum
Jokowi
Leader Opinion
Liputan Khusus
Politik
Presiden RI
Profile
Seni dan Budaya
Wawancara Khusus

Translate

Mempersiapkan Generasi Muda yang Menangkap Panggilan Tuhan bersama Transforming Indonesia Movement

Pdt. Ronald Tampubolon saat diwawancarai Suaraumat.com. (Foto: Gabriel Hartanto)

Penulis: Konradus Pedhu

JAKARTA, suaraumat.com Generasi muda zaman sekarang atau generasi milenial semakin ditantang untuk menemukan panggilan Tuhan namun sayang dalam prosesnya para anak-anak muda ini terjebak dalam kebingungan mereka sendiri. Oleh sebab itu, Transforming Indonesia Movement hadir menjadi partner sekaligus pembimbing yang baik bagi anak-anak muda milenial dalam pencarian mereka guna menemukan panggilan Allah. 
Beberapa waktu lalu Suaraumat.com berhasil mewawancarai salah seorang dari Transforming Indonesia Movement, Pendeta Ronald Tampubolon. Berikut informasi selengkapnya hanya untuk Anda.


Apa pesan Anda terhadap generasi muda saat ini untuk menjadi pribadi-pribadi yang mengenal dan menangkap panggilan Tuhan?

Mereka harus fokus kepada pelatihan-pelatihan generasi muda dan mengharapkan setiap generasi muda dapat menangkap panggilan Tuhan, selanjutnya mereka fokus dipanggilannya sehingga mereka bisa memberi dampak bagi bangsa dan negara. Transforming Indonesia Movement ini sendiri sudah bergerak dari 2009 dan perkembangannya sangat luar biasa.  Kita perlu pertajam ini sehingga anak-anak muda bisa memberkati bangsa. Anak-anak muda perlu dituntun untuk menemukan panggilan hidup mereka karena ini masalah besar sebenarnya karena banyak anak-anak muda hari ini mereka tidak mengerti tujuan mereka.

Saya kasih  contoh gampangnya, ketika anak-anak itu SMP mereka tidak tahu arahnya mau ke mana, tapi ketika mereka masih  umur 4 tahun ketika ditanya kamu mau jadi apa pasti jawabannya adalah mau jadi pendeta, mau jadi polisi, mau jadi tentara, mau jadi dokter dan seterusnya. Tapi masuk remaja, pemuda, apalagi masuk SMA dia bingung masuk ke jurusan apa, mau masuk kuliah lebih bingung lagi, fakultasnya apa, fokusnya ke mana, akhirnya ikutan temannya, temannya ke fakultas hukum, dia juga ikut.

Ini berbahaya buat anak itu sendiri, kalau kita berpikir secara tajam, apalagi kita bicara untuk kepentingan bangsa  dan negara. Kita akan melahirkan generasi muda yang tidak mempunyai panggilan karena memang mereka tidak mengenal dan menangkap panggilan Tuhan. Oleh sebab itu kita ambil disegmen anak-anak muda, dan kita harapkan anak-anak muda ini menemukan panggilannya, serta mereka mengejar panggilannya itu sehingga harapan kita dibonus demografi nanti 2028, 2030 mereka bisa bersaing melalui panggilan mereka masing-masing untuk berlomba-lomba membangun bangsa ini.

Jadi kita harus mempersiapkan orang-orang yang terbaik, jadi bukan orang-orang yang ikut-ikutan tapi orang-orang yang memang fokus dibidangnya, dia memang benar-benar yang terbaik, dia mampu bersaing di sana, sehingga pada saat bonus demografi kita bisa berperan aktif untuk memajukan bangsa.

Transforming Indonesia Movement ini sejak 2009 dan embrio sebenarnya dari GBI Gereja Bethel Indonesia dari anak-anak muda di GBI, kita bergerak terus sampai akhirnya di 2017 kita sudah melatih kurang lebih 8 ribu anak muda di seluruh Indonesia, di 32 propinsi bahkan di luar negeri. 8 ribu orang ini, ketika kami tidak menjabat di kepengurusan itu, bingungkan mau kemana, akhirnya kita melahirkan satu yayasan yang bernama Indonesia Berubah dengan pergerakannya yang bernama generation of transforming atau generasi transforming Indonesia movement. 

Kita terus melakukan kegiatan-kegiatan untuk melatih, menghubungkan antarmereka, dan sekarang ini dari hasil yang 2009 itu, sesudah kita data ternyata banyak orang yang sudah mengambil peran atau berperan melalui panggilan mereka, ada yang di bisnis, ada yang di bidang politik, ada yang macam-macam. Di bidang politik misalnya, hari ini ada beberapa teman-teman kita yang sudah duduk di dewan perwakilan rakyat. Ya ini artinya satu keberhasilan yang  merupakan mimpi kami juga. Ketika mereka menemukan panggilan, kita mentoring, dan seterusnya, sehingga membawa dia pada sasaran yang tepat, nah kita harapkan mereka-mereka ini akan menjadi berkat bagi bangsa melalui peran yang mereka lakukan hari ini.

Apa pendapat Anda mendengar tentang Indonesia akan bubar?

Ya memang ini cerita dulu yang bermula dari pernyataan bahwa Indonesia 2030 bubar. Kelihatannya skenario itu ada peran, Papua bergolak dan sebagainya, tapi saya meyakini hari ini Indonesia masih jauh si dari bubar, ya walaupun kelihatan benihnya ada, tapi itu akan terjadi bisa saja, kalau kita lengah, kalau bangsa kita lengah, pemimpin kita lengah, itu bisa saja terjadi. Karena banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang yang memang tidak suka atau negara-negara lain yang tidak suka.

Tetapikan kita melihat kemarin hasil dari sidang PBB faktanya tidak ada referendum, artinya itu terbantahkan juga. Saya pikir kemungkinan kecil Indonesia bubar, apalagi saya lihat pemerintahan sekarang gencar membangun infrastruktur kedepan, membangun sumber daya manusia, dan itu tentunya berhubungan dengan kami, kami juga fokusnya membangun sumber daya  manusia. Saya rindu memang bahwa gereja dalam hal ini harus sinergi dengan pemerintah untuk membangun sumber daya manusia, itu juga harus masuk dalam gereja, membina, membimbing setiap generasi muda sehingga mereka juga ambil peran dalam menguatkan dan memahami wawasan kebangsaan supaya  Indonesia ini tetap  bertahan.

Melihat fenomena anak-anak muda yang harusnya  duduk di bangku sekolah tetapi turun kejalan bagaimana pendapat Anda, ada apa dengan Indonesia ini?

Saya melihat sekolah di Indonesia, pemerintah harus mengkaji ulang tentang kurikulum, karena apa, saya perhatikan wawasan kebangsaan di sana sudah hampir hilang itu yang  pertama, yang kedua adalah didalam kurikulum itu nilai-nilai budi pekerti itu juga mulai merosot, lalu yang ketiga, ada orang-orang atau organisasi-organisasi yang memang punya kepentingan di sana, dan mereka sudah mempersiapkan kader-kadernya sudah masuk kedalam sekolah-sekolah tersebut sebagai guru, sebagai dosen dan seterusnya. Nah ini pemerintah harus memfilter, apalagi pengajar-pengajarnya, ini harus difilter kalau nggak perubahan ideologi itu akan masuk di sana, karena generasi muda ini kan rawan. Ketika dia didoktrin dari SD, SMP itu maka akan sangat sulit kita mengubah doktrin itu. Itu sebabnya, saya pikir kurikulum dan yang mengajar itu perlu difilter dengan baik.

Dalam hal ini siapa yang bertanggung jawab untuk memfilter para guru dan pengajarnya ini!

Memang seharusnya di Depdikbud yang harus berperan turun ke bawah, kedinas, dan seterusnya. Ini yang harus kita sikapi, dalam hal ini yang harus bertanggung jawab pemerintah pastinya.

Apakah ini bisa dianggap kegagalan pemerintah dalam membuat sistem penangkal bagi guru-guru sebagai pengajar di sekolah?

Kalau dibilang kegagalan, mungkin tidak ya,  karena ini sudah sangat panjang, mungkin 10 atau20 tahun lalu. Perubahan kurikulum kita berapa kali terjadi, ya kan. Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah yang sekarang karena ini sudah lama, pekerjaan yang cukup lama, sudah pergantian pemerintah dan seterusnya. Jadi saya pikir ini harus dipikirkan bersama oleh pemerintah dengan para pendidik dengan  ahli-ahli pendidikan yang ada di Indonesia untuk mengkaji ulang kurikulum itu.

Bagaimana anak-anak muda sekarang ini mengimplementasikan sumpah pemuda dalam kehidupan mereka!

Sumpa pemuda merupakan satu sejarah yang luar biasa buat Indonesia bagaimana pemuda-pemuda bersatu, memiliki komitmen yang sama. Harusnya nilai-nilai ini diambil oleh generasi muda yang sekarang ini untuk mempertahankan persatuan itu. Dengan cara apa mempertahankan kesatuan itu, ya dengan cara kita masing-masing berperan aktif dalam membangun bangsa ini sesuai dengan panggilan mereka. Dalam segi panggilan ini, orang pastinya berbeda-beda, si A mau ini, si B mau ini dan seterusnya.

Nah, perbedaan ini adalah kekuatan, tetapi fenomena yang ada, kelihatannya sering kali informasi atau berbeda pilihan itu menjadi satu hal yang sangat riskan di bangsa ini. Saya merasa bahwa pemuda Indonesia harusnya menyadari bahwa perbedaan itu adalah kekayaan. Kalau kita semua atau pemuda atau masyarakat di Indonesia ini merasa bahwa Indonesia ini adalah milik bersama maka untuk membangun Indonesia ini bukan hanya satu bidang, pastinya untuk membangun bangsa ini semua bidang harus menjadi satu kekuatan. Nah bidang-bidang inilah yang harus disatukan untuk membangun bangsa sehingga bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar, seperti yang diharapkan kita semua. 

Jadi kembali kepada anak-anak muda, ayo mari kita berperan aktif untuk membangun bangsa ini, jangan berpikir bahwa perbedaan itu menjadi satu masalah, tetapi perbedaan itu menjadi satu kekayaan, seperti budaya kita juga berbeda-beda, pulau juga, gaya, bahasa, semuanya berbeda-beda. Tapi kalau kita menganggap semua ini menjadi hal yang memperlengkap Indonesia, menjadi satu kekayaan yang hebat maka Indonesia akan semakin hebat.

Apa yang harus dilakukan pemimpin-pemimpin gereja, pemimpin-pemimpin di masyarakat juga yang ada di pemerintahan, supaya mereka bisa menjadi teladan untuk anak-anak muda ini.

Saya berpikir sebenarnya secara umum gereja masih lemah dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Saya mendorong pemimpin-pemimpin gereja, gembala, semuanya bergerak untuk membawa jemaat yang mereka pimpin atau pemimpin-pemimpin mudanya juga  harus membawa mereka untuk mengerti akan wawasan kebangsaan. Sehingga ketika kita bicara kebangsaan diluaran sana kita tidak menjadi satu hal yang asing.

Ketika kita ketemu dengan saudara-saudara kita dari agama yang berbeda itu bukan perbedaan yang menjadi satu masalah, tetapi merupakan satu kekayaan, satu keluarga kita di Indonesia ini, itu yang sebenarnya didorong oleh pemimpin-pemimpin kita. Harapan saya dalam memperingati hari sumpah pemuda pada tahun 2019 ini, secara khusus bagi generasi muda gereja, mari setiap kita mengupgrade diri kita melalui pelatihan-pelatihan yang ada sesuai dengan panggilan kita sehingga dengan modal kemampuan atau profesional dalam setiap bidang yang Tuhan sudah percayakan kepada kita, bisa kita maksimalkan untuk memberkati bangsa kita. Ya di bidang-bidang yang Tuhan percayakan itu sehingga ketika kita menguasai atau bisa beperan aktif dengan kemampuan yang kita miliki, dan saya percaya gereja Tuhan juga akan bisa berperan untuk menjadi berkat bangsa ini. Pdt. Ronald Tampubolon.

***

*Penulis adalah Kontributor Suaraumat.com
Dilihat 0 kali

No comments:

Post a Comment

Blog Archive

Wikipedia

Search results

Start typing and press Enter to search