Head

Artikel Opini
Editorial
Hiburan
Hukum
Jokowi
Leader Opinion
Liputan Khusus
Politik
Presiden RI
Profile
Seni dan Budaya
Wawancara Khusus

Translate

Pluralisme Bukan Toleransi Biasa

Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Harsono Adi saat diwawancarai suaraumat.com di kantor Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI). (Foto: Gabriel Hartanto
Penulis: Mihardo Saputro

JAKARTA, suaraumat.com Pluralisme menjadi sebuah paham yang amat lekat dengan kehidupan bangsa Indonesia. Paham inilah yang mengakar kuat dan membuat kita semua dapat mentoleransi semua perbedaan yang ada. Nilai-nilai akan pluralisme juga telah tertuang jelas dalam dasar negara kita yakni pancasila. Dimana terdapat semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda namun tetap satu tujuan.

Meski semboyan “Bhineka Tunggal Ika” telah melekat dalam dasar negara, namun masih ada saja individu serta kelompok yang mengabaikan atau bahkan menolak individu atau kelompok masyarakat lain yang memiliki pandangan atau prinsip yang berbeda dengan kelompoknya. Pluralisme di Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia sendiri, dimana masih terjadi keributan-keributan antar etnis atau antar agama di beberapa daerah di Indonesia. Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia belum memahami makna dari Plurarisme itu sendiri.

Berkaitan dengan hal tersebut, berikut wawancara suaraumat.com dengan Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Harsono Adi:



Bagaimana sebenarnya kondisi masyarakat Indonesia saat ini terkait dengan toleransi?

Menurut pengamatan saya, kualitas toleransi masyarakat Indonesia belakangan ini menurun. Indikator ini bisa kita lihat ketika pemilihan gubernur DKI Jakarta, dimana pada saat itu ada dua pihak yang pro dan kontra. Kemudian hal itu  berlanjut pada PEMILU 2019 kemarin, antara “01” dan “02”. Contoh sederhana bisa kita lihat di sekitar kita, dari media sosial hingga lingkungan sosial, masyarakat kita hampir terbelah. Inilah yang menurut saya membuat kondisi tidak sehat untuk kita semua. Karena itu saya berharap setelah PEMILU kondisi masyarakat kita bisa lebih baik lagi.

Pemahaman masyarakat Indonesia tentang toleransi itu sendiri seperti apa?

Saya ambil contoh dalam kehidupan bertetangga. Ketika ditanya, apakah anda tahu bahwa tetangga anda berlainan agama? Ya, saya tahu. Apakah kamu tahu tetangga kamu berlainan suku? Ya, saya tahu. Apakah kamu menerima? Ya, saya menerima. Tapi jika ditanya lebih lanjut, apakah kamu setuju dengan tetanggamu yang berlainan agama melaksanakan ibadahnya? Di sinilah letak permasalahannya. Dan dari jawaban pertanyaan tersebutlah kita bisa menilai apakah orang tersebut memahami pluralisme atau hanya toleransi sekadarnya.

Apa yang harus dilakukan guna mewujudkan masyarakat yang pluralis?

Keluarga adalah bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat, maka harus dimulai dari keluarga. Toleransi dan pluralisme dapat kita tanamkan di keluarga kita dengan cara mengajarkan anak-anak kita tentang bagaimana kita menerima keberagaman, artinya, untuk hidup secara toleran pada tatanan masyarakat yang berbeda suku, gologan, agama, adat, hingga pandangan hidup dan kemanusiaan. Jika hal tersebut kita lakukan secara terus-menerus, saya yakin, toleransi dan pluralisme yang selama ini kita impikan dapat terwujud.

Dilihat 0 kali

No comments:

Post a Comment

Wikipedia

Search results

Start typing and press Enter to search