Head

Artikel Opini
Editorial
Hiburan
Hukum
Jokowi
Leader Opinion
Liputan Khusus
Politik
Presiden RI
Profile
Seni dan Budaya
Wawancara Khusus

Translate

Sebagai Entitas yang Berdaulat, Sangat Mungkin Indonesia Bubar

Yudhie Haryono, Ph.D. di tengah-tengah kegiatan wawancara dalam acara Diaolog Pagi MUKI. Yudhie Haryono adalah dosen sekaligus Sekretaris Majelis Wali Amanah (MWA) UTIRA Jakarta.
(Foto: Gabriel Hartanto

Penulis: Mihardo Saputro

JAKARTA, suaraumat.com Dosen sekaligus Sekretaris Majelis Wali Amanah (MWA) UTIRA Jakarta Yudhie Haryono, Ph.D mengatakan bahwa ada beberapa hal yang terlupakan dari nusantara sehingga akhir-akhir ini bangsa Indonesia sering mengalami konflik. Bahkan jika  hal tersebut terus berlanjut, sebagai entitas yang berdaulat sangat mungkin Indonesia akan bubar.

Berikut wawancara lengkap suaraumat.com bersama Yudhie Haryono, Ph.D:

Apa hal terpenting tentang nusantara yang dilupakan orang sekarang ini?

Dalam kajian yang kami lakukan, ada lima yang sudah terlupakan dari nusantara, pertama soal mental nusantara. Berapa banyak kita mewarisi mental nusantara seperti mental bahari, mental menjelajah, mental dispora dan itu makin hari makin dilupakan. 

Kedua mental belajar atau kurikulum. Kurikulum-kurikulum tentang nusantara yang dulu sempat luas sekali, misalnya pengobatan dan seterusnya mulai dilupakan. 

Ketiga soal agama-agama lokal atau agama-agama yang orang lain menuduhnya sebagai animisme dan dinamisme. Padahal semua kepercayaan itu punya nama, cuma mungkin orang nusantara atau orang indonesia purba tidak ingin menyampaikan namanya sehingga orang luar menamakan itu animisme atau dinamisme. Nah, di dalam agama-agama lokal itu sebenarnya kita memiliki banyak sekali kesejatian, banyak sekali apa yang disebut kedirian yang hari ini mulai dilupakan, bahkan dimusuhi sebagai  agama yang tidak bertuhan.

Keempat kita melupakan kejatidirian. Jadi beberapa hal yang dulu menjadi kebanggan kita sebagai orang yang menjadi penemu “A” atau penemu “B” misalnya, mulai kurang dipercayai sehingga orang mengkarboncopy jati diri dari bangsa asing untuk menjadi dirinya. Kita seakan-akan melupakan bahwa kita adalah orang bahari, orang yang bisa terbang, orang yang bisa berdiam diri, orang yang bisa bercocok tanam, orang yang bangga dengan dirinya sendiri lalu hilang dan menggantinya dengan jati diri orang lain atau bangsa lain. 


Terakhir yang juga sangat signifikan, kita kehilangan apa yang disebut cita-cita. Nusantara itu punya cita-cita untuk mengatakan “Dunia ini sebenarnya bagian dari kita,” bagian dari mana? Bagian dari cara kita mengelola untuk bersama-sama menjadi manusia, bersama-sama saling menghormati. Namun sekarang cita-cita itu terkubur dan berubah menjadi “Kita bagian dari mereka,” kita mencontoh mereka, kita berekonomi ala mereka, kita beragama ala mereka dan kita hidup ala mereka sehingga akhir-akhir ini kita sering konflik karena kita melupakan cita-cita bersama. 

Itulah lima hal yang menurut saya telah hilang dari nusantara.

Jika lima hal itu berlanjut, apakah Indonesia akan bubar?

Kalo sebagai sebuah nama mungkin tidak akan bubar, mirip seperti nama Majapahit, nama Sriwijaya, nama Demak, nama Ngayogyakarta masih ada sampai sekarang, tapi sebagai entitas yang berdaulat sangat mungkin bubar. Kenapa demikian? Karena kita juga melihat entitas kedaulatan Majapahit hilang, entitas kedaulatan Sriwijaya hilang, bahkan entitas kedaulatan Ngayogyakarta juga menurut saya sudah mulai hilang walaupun masih ada sisa-sisanya, artinya Indonesia juga bisa  mengalami kehilangan kedaulatan dan itu mulai terasa akhir-akhir ini, terutama kedaulatan atas uang. 

Kita sama sekali tidak punya daulat untuk mengatakan rupiah kita berapa, dipakai dimana dan dalam rangka apa uang asing boleh atau tidak masuk ke dalam negara ini. Jadi agar tidak bubar otomatis discourse tentang kedaulatan, discourse tentang kemerdekaan kembali itu perlu disampaikan dan metodenya adalah mengembangkan kurikulum Ketahanan Nasionanl (Tannas).

Lantas apa tanggapan anda tentang remaja yang belakangan ini marak ikut berdemo turun ke jalan?

Menurut saya, secara makro peristiwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan  masa depan bangsa Indonesia. Indonesia itu adalah ‘Kurukshetra,’ tempat bertempurnya antara kuasa-kuasa global menggunakan pendekatan yang destruktif maupun menggunakan pendekatan yang konstruktif, jadi mereka main pada wilayah deconstruktionism dan mereka juga main di wilayah contruktionism sepanjang dua hal itu menguntungkan. Jadi aksi maupun reaksi yang dikerjakan oleh anak-anak maupun mahasiswa sebenarnya tidak ada urusannya dengan masa depan Indonesia. Masa depan bangsa Indonesia ditentukan oleh petarungan besar antara privat kapitalism dan  side kapitalism antara China dan Amerika. 

Tetapi dari pendekatan mikro memang kehadiran mereka menurut saya sangat bagus sebagai otokritik kepada dua hal, pertama kritik kepada lembaga legislatif karena seharusnya yang mengkritik pemerintah itu legislatif dan kita tidak melihat satu kritik yang konstruktif dari legislatif terhadap eksekutif. Lalu yang ke dua tentu saja kepada pemerintah, karena bagaimanapun juga pemerintah itu berkewajiban menjalankan janji-janjinya saat pemilu maupun saat berkuasa. 

Dari mana janji itu ditunaikan? dari konstitusi. Kalo dianggap agak melenceng, bahkan menghianati konstitusi, maka siapapun yang ada dalam negara itu, mau dia anak-anak, mau dia remaja, mau orang tua, mau dewasa, mau dia perempuan atau laki-laki punya kewajiban yang sama untuk melakukan  kritik. Dan harusnya kritik itu ditanggapi dengan  biasa-biasa saja. Kalo toh seandainya terjadi destrukif, terjadi semacam anarkis, saya kira itu bagian dari ‘drama’ yang dimainkan oleh kepolisian dalam rangka memastikan mendapatkan anggaran, sebab kalo cuma damai maka alat alutista tidak bisa ditambah, kalo damai tidak mendapatkan anggaran untuk penanganan yang sifatnya menakutkan dan seterusnya. 

Jadi kita harus memahami bahwa ‘ketakutan’ itu seringkali dipakai oleh siapapun, termasuk polisi dan tentara untuk bargaining kepada pemerintah dalam rangka meninkatkan anggaran. Dan cara untuk mendapatkan itu salah satunya dengan menciptakan drama chaos antara rakyat dengan rakyat, rakyat dengsn legislatif atau rakyat dengan eksekutif.

Jika demikian, bagaiman cara mengembalikan persatuan Indonesia?

Satu-satunya cara melalui pendidikan. Pendidikan yang harus dihadirkan kembali yang hari ini tidak ada  adalah pendidikan Meta Sains. Pendidikan Meta Sains itu mengajarkan siapapun, dalam umur bearapapun, dalam sekolah apapun, baik formal, informal maupun non formal,  untuk mengetahui sebenarnya posisi kita dan kewajiban kita itu apa? Nah, kitakan tidak diajarkan itu. 

Miasalnya begini, Anak-anak ketika masuk SMP dia tidak tahu bahwa dia Warga Negara Indonesia (WNI), dia cuma tahu bahwa dia berbahasa Indonesia, tapi akhir-akhir ini juga bahasa Indonesia sudah mulai “ditendang” oleh datangnya arus-arus sekolah-sekolah internasional sehingga identitas bahasa Indonesipun mulaia terkikis. 

Nah, mata kuliah atau mata pelajaran keindonesiaan itu sebenarnya yang harus kita sampaikan kembali dengan cara Meta Sains yang luas, sehingga ketika terjadi disharmonisasi atau ketika terjadi ketidak-mampuan pemerintah menyampaikan dan menyelesaikan janjinya, maka kritik yang akan disampaikan itu jauh lebih pancasilais dan lebih bermakna dari pada sekedar membuat keributan. 

Hal itu juga akan dipahami oleh polisi jika polisi-polisi itu mendapatkan mata kuliah keindonesiaan yang Meta Sains. Sepanjang itu tidak ada, maka akhirnya mereka merasa bahwa Indonesia itu versiku, bukan indonesia versi kita bersama, pancasila versiku bukan pancasila versi kita bersama, padahal seluruh diktum kita di dalam berbangsa dan bernegara itu mestinya bersatu, berdaulat, adil dan makmur. 

Bersatu itu asumsinya berarti menanggalkan seluruh identitas personal untuk mencari kesamaan partikel-partikel persamaan sehingga bisa berdaulat untuk mencapai kemakmuran. Sepanjang itu tidak ada, maka orang kemudia merasa bahwa merekalah yang paling benar. Tapi kalo mata kuliah keindonesiaan dan kurikulum keindonesiaan muncul, sebagai sesama orang indonesia kita bisa menemukan kesamaan-kesamaan yang bisa dijadikan platform bersama dan itu satu-satunya adalah mata kuliah Meta Sains.

***

* Penulis adalah Redaktur Pelaksana di Tabloid Suara Umat


Berikut video lengkap hasil wawancara MUKI Channel dengan Yudhie Haryono, Ph.D.:




Dilihat 0 kali

No comments:

Post a Comment

Wikipedia

Search results

Start typing and press Enter to search