Head

Artikel Opini
Editorial
Hiburan
Hukum
Jokowi
Leader Opinion
Liputan Khusus
Politik
Presiden RI
Profile
Seni dan Budaya
Wawancara Khusus

Translate

Syaykh Al-zaytun, A.S. Panji Gumilang: “Hanya Kemanusiaan yang Dapat Menyatukan Bangsa Indonesia, Bukan Agama!”

Pimpinan Ponpes Al-zaytun Syaykh As. Panji Gumilang menyampaikan sambutan dalam Acara Peringatan 1 Suro 1441 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin (Foto: Mihardo Saputro)

Penulis: Mihardo Saputro

INDRAMAYU, suaraumat.com Aroma toleransi terasa kental saat kami  memasuki kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun yang terletak di desa Mekar Jaya, kecamatan Gantar kabupaten Indramayu, provinsi Jawa Barat. Tulisan “Al-Zaytun; Pusat Pendidikan Pengembangan BudayaToleransi dan Perdamaian" yang terpampang di depan pintu masuk menyambut kedatangan kami saat menghadiri acara Peringatan 1 Suro 1441 Hijriah, Minggu (1/9/2019).
Acara akbar tahunan ini dipusatkan di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Masjid yang dibangun di atas area seluas 6,5 hektar ini diperkirakan bisa menampung 150.000 jamaah dan memiliki 7 lantai yang berukuran 99 x 99 meter. Sedangkan Ponpes yang disebut oleh Washington Times (29 Agustus 2005) sebagai pesantren terbesar se-Asia Tenggara itu sendiri berdiri di atas lahan seluas 1200 hektar.
Hamparan pohon jati dan kopi tampak mengiringi perjalan kami dari pintu gerbang Ponpes hingga ke Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Ratusan kendaraan juga tampak sudah terpakir di seputar area Masjid. Kami perkirakan, acara ini dihadiri tidak kurang dari 30 ribu orang yang terdiri dari walisantri, tokoh agama, budayawan, politisi dan organisasi kepemudaan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari manca negara.


Berbeda dengan perayaan tahun baru Islam di tempat lainnya, yang biasanya diisi dengan kegiatan pengajian dan zikir akbar, di sini justru mengajak sejumlah tokoh lintas agama untuk masuk ke masjid dan memberi sambutan berisi pesan perdamaian dan toleransi.
Beberapa tokoh agama yang hadir antara lain Ketua Majlis Klenteng Budha Tridarma, Bpk. Heru Wibawanto, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Bpk. Surya Pranata, Asosiasi Pendeta Indonesia API), Bpk. Pdt. Harsanto Adi, Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Bpk. Djasarman Purba dan beberapa tokoh lintas agama lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu.
Para tokoh lintas agama yang hadir di acara ini menyambut baik pertemuan tokoh lintas agama yang dikemas dalam peringatan 1 suro karena dapat meningkatkan silaturahmi dan toleransi antar umat beragama. Peringatan 1 suro kali ini mengangkat tema "menzahirkan jati diri indonesia yang hakiki" mengajak masyarakat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sehingga Indonesia bisa damai dan bangkit jadi bangsa dan negara yang lebih maju.
Selain tokoh agama, hadir juga mantan menteri kabinet pembangunan ke 8 era Soeharto, Fuad Bawazir yang dalam pidatonya menegaskan akan pentingnya Indonesia melepaskan ketergantungan pada luar negeri.
“Indonesia ini kaya akan sumber daya, maka Indonesia harus berani mandiri dan tidak ketergantungan kepada luar negeri, salah satunya ketergantungan pangan. Indonesia import 12 juta ton gandum pertahun, nah saya sarankan Syaykh untuk tanam gandum, eh ternyata disini sedang dalam proses tanam gandum, luar biasa Al-zaytun,”  tandas Fuad.
Sementara itu, pimpinan Ponpes Al-zaytun Syaykh As. Panji Gumilang dalam sambutannya menyampaikan agar bangsa Indonesia kembali kepada Jatidirinya, yakni UUD 45.
“Indonesia harus kembali kepada UUD 45 sebagai Jati diri bangsa yang Hakiki. Indonesia sudah memiliki lima dasar negara yang sangat fundamental, jika lima dasar negara ini dipraktekkan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, niscaya Indonesia akan maju sebagai negara yang kuat dan sejahtera,” katanya.
“Yang harus dibangun adalah kesadaran akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, karena orang yang meyakini Tuhan akan adil dan beradab, saling menghormati sehingga melahirkan toleransi dan perdamaian. Dan yang tak kalah penting adalah persatuan Indonesia. Sebuah persatuan yang didasari kemanusiaan, bukan agama. Karena hanya kemanusiaan yang dapat menyatukan bangsa Indonesia sehingga tercipta demokrasi yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan permusyawatan perwakilan menuju keadilan sosial,” tambahnya.
Apa yang disampaikan tentang persatuan Indonesia oleh Syaykh Al-zaytun, A.S. Panji Gumilang bukanlah retorika, sejarah mencatat setiap tahun Al-zaytun menjadikan peringatan 1 Syuro (Muharam) sebagai momentum mempersatukan seluruh elemen bangsa dalam bingkai kebhinekaan yang bernama Indonesia. Beruntung kami dari Tabloid Suara Umat bisa hadir serta menyaksikan langsung praktek budaya toleransi dan perdamaian di Al-Zaytun. 


***


* Penulis adalah Redaktur Pelaksana Tabloid Suara Umat


Dilihat 0 kali

No comments:

Post a Comment

Wikipedia

Search results

Start typing and press Enter to search