Menyikapi Fenomena Asusila Remaja di Taman dan Tempat Umum Lainnya, Ini Kata Pakar

vira video asusila remaja di taman dan tempat umum sebagai signal bagi para orang tua dan guru untuk tidak ragu berbicara seks pada remaja di sekolah


Ilustrasi remaja pacaran. (Shutterstock)

SUARAUMAT.com -
Masyarakat dunia maya maupun nyata kembali dihebohkan dengan fenomena aksi asusila remaja. Salah satunya, viral video perbuatan asusila sepasang remaja di Alun-Alun Pacitan, Jawa Timur yang beredar di media sosial beberapa waktu lalu.

Perbuatan asusila yang dilakukan sepasang muda mudi alias remaja ini bukanlah kasus pertama. Kasus seperti ini sudah banyak dilakukan oleh remaja pada waktu-waktu sebelum yang ini menjadi viral. 

Pengamat pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Holy Ichda Wahyuni memberikan tanggapannya.

Menurutnya, pendidikan di sekolah saat ini mengajarkan aspek kesehatan reproduksi, namun masih sangat terbatas pada arahan untuk tidak melakukan hubungan seks dan penyakit menular seksual (PMS).

Hampir tidak ada materi yang berfokus pada seksualitas, menyetujui hubungan atau menyentuh dengan orang lain yang biasa disebut sebagai persetujuan dan isu-isu sensitif gender dan sadar gender lainnya.

“Disadari atau tidak, membicarakan seks di lingkungan keluarga atau di sekolah masih menjadi hal yang sangat tabu,” ujarnya, dikutip dari situs UM Surabaya.

Misalnya, dalam menyebut alat reproduksi, orang masih sering menggunakan nama lain.

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini menjelaskan, secara langsung maupun tidak langsung remaja yang memasuki masa pubertas memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.

Kemudian pada saat itu, hormon seks berkembang menuju pematangan.

“Pada masa pubertas itu, jika tidak ada pendampingan dan pendidikan seks sejak awal, kemungkinan besar anak akan mencari pelampiasan seksual dengan cara yang salah. Misalnya dengan video porno, bereksperimen dengan kekasih dan sebagainya,” tambahnya.

Holy menambahkan, fenomena aksi asusila di taman merupakan masalah sistemik yang kompleks dan multifaktorial.

Pasalnya, pencegahan tidak hanya dilihat dari pengetatan pengawasan terhadap taman dan tempat umum.

Menurut Holy, melakukan pengetatan pengawasan terhadap taman atau tempat umum sebenarnya hanya salah satu dari sekian banyak cara untuk menghadapi fenomena perbuatan asusila di kalangan para remaja.

Karena pelaku masih akan mendapatkan celah untuk melakukan perbuatan asusila di tempat lain.

Sehingga hal tersebut dapat disikapi mulai dari penguatan karakter pribadi khususnya pendidikan seks di sekolah.

(su/kpn)


COMMENTS

BEST MONTH