Maura Magnalia Madyaratri Putri Nurul Arifin Meninggal Dunia diduga Henti Jantung, Ketahui Perbedaan Henti Jantung dan Serangan Jantung

perbedaan henti jantung dan serangan jantung yang harus diketahui Maura Magnalia Madyaratri putri nurul arifin meninggal dunia karena henti jantung

Serangan jantung dapat terjadi dalam kondisi yang tidak terduga seperti halnya henti jantung. Oleh karena itu, kenali tahapan pertolongan pertama pada serangan jantung. (Istockphoto/Patrickheagney)


SUARAUMAT.com - Penyakit jantung terdiri dari berbagai jenis, seperti serangan jantung dan henti jantung. Keduanya memiliki kondisi jantung yang berbeda. Sayangnya, masih ada yang menganggap keduanya adalah kondisi yang sama karena menimbulkan akibat yang fatal.

Oleh karena itu yuk ketahui apa perbedaan antara henti jantung dan serngan jantung, dengan membaca artikel di bawah ini sampai selesai.

Perbedaan antara serangan jantung dan henti jantung

Serangan jantung dan henti jantung sama-sama menyerang jantung, yaitu organ tubuh yang bertugas memompa darah. Namun, bukan berarti kondisi mereka sama.

Agar tidak salah kaprah tentang serangan jantung dan henti jantung, berikut beberapa perbedaan yang bisa Anda perhatikan.

Pengertian penyakitnya

Perbedaan kedua kondisi ini dapat dilihat dari definisinya. Henti jantung adalah kondisi fatal di mana jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba akibat gangguan listrik pada otot jantung.

Kondisi ini membuat jantung tidak bisa berdetak dengan normal dan memicu kondisi aritmia (gangguan detak jantung). Akibatnya, berdampak pada distribusi darah ke seluruh tubuh terganggu. 

Kematian dapat terjadi dalam beberapa menit karena organ-organ dalam yang vital, terutama otak, tidak cukup menerima pasokan darah.

Sementara itu, serangan jantung (heart attack) adalah kondisi fatal yang terjadi ketika jantung tidak mendapat aliran oksigen yang cukup dari aliran darah ke jantung. 

Hal ini disebabkan adanya penyumbatan pada pembuluh darah arteri, sehingga jantung mengalami kekurangan asupan darah yang mengandung oksigen.

Kondisi serangan jantung bisa terjadi dalam durasi hingga hitungan jam. Selama durasi waktu ini bagian jantung yang tidak menerima oksigen terus mengalami kerusakan berupa kematian otot jantung, jika tidak cepat ditangani dapat menyebabkan kematian. 

Tidak seperti henti jantung, jantung tidak berhenti berdetak selama mengalami serangan.

Gejala yang ditimbulkan

Selanjutnya, perbedaan antara henti jantung dan serangan jantung juga bisa dilihat dari gejala yang ditimbulkan. Menurut situs Mayo Clinic, henti jantung mendadak umumnya menimbulkan gejala, seperti:

  • Tubuhnya ambruk dan kehilangan kesadaran.
  • Tidak ada denyut nadi dan tidak ada napas.
  • Sebelum gejala di atas terjadi, beberapa di antaranya terkadang mengalami tanda-tanda seperti rasa tidak nyaman atau nyeri dada, sesak napas, dan jantung berdebar-debar atau palpitasi.

Sedangkan serangan jantung akan menimbulkan gejala yang sedikit berbeda, seperti:

  • Sesak napas disertai kelelahan dan keringat dingin.
  • Nyeri dada seperti ditekan atau diremas yang menjalar ke leher, rahang, dan punggung. Gejala ini terjadi berulang kali sebagai tanda peringatan.
  • Sakit kepala ringan atau pusing mendadak.
  • Perut terasa mual atau mulas.

Penyebab yang mendasari atau masalah kesehatan lain

Anda juga dapat melihat perbedaan antara keduanya dari penyebab atau masalah kesehatan yang mendasarinya.

Sebagian besar kasus henti jantung disebabkan oleh aritmia yang berasal dari bilik jantung, yaitu fibrilasi ventrikel. Namun, aritmia juga bisa berasal dari atrium kanan jantung, yaitu fibrilasi atrium yang menyebabkan gangguan sinyal untuk memompa darah ke otot-otot ruang jantung dan mengakibatkan henti jantung.

Henti jantung lebih mungkin terjadi pada seseorang yang lahir dengan kelainan jantung bawaan. Beberapa kejadian traumatis juga dapat menyebabkan henti jantung mendadak seperti tersengat listrik, overdosis obat, aktivitas fisik yang terlalu berat, kehilangan darah, sumbatan saluran pernapasan, kecelakaan, tenggelam, dan hipotermia.

Tidak seperti henti jantung, serangan jantung umumnya disebabkan oleh penyumbatan progresif arteri jantung oleh plak kolesterol dan kalsium, seperti aterosklerosis. Penyumbatan itu mempersempit pembuluh darah sehingga aliran darah tidak lancar.

Selain itu, serangan jantung juga lebih sering terjadi pada penderita hipertensi (tekanan darah tinggi), obesitas, atau pola hidup yang kurang sehat.

American Heart Association menyatakan bahwa meskipun berbeda, henti jantung dan serangan jantung saling terkait. Pasalnya, henti jantung mendadak bisa terjadi setelah seseorang mengalami serangan jantung. Artinya, serangan jantung merupakan salah satu faktor pemicu henti jantung.

Tindakan atau penanganan


Perbedaan henti jantung dan serangan jantung yang harus diketahui agar dapat melakukan tindakan pencegahan maupun pengobatan yang tepat.

Selain perbedaan gejala dan penyebab, dapat diketahui dari tindakan atau penanganan yang berbeda juga.

Pada henti jantung, tenaga medis profesional akan memberikan CPR (CPR / Cardiopulmonary Resuscitation) atau resusitasi jantung dan paru-paru. Tujuannya adalah untuk menjaga darah beroksigen tetap mengalir ke otak dan organ vital lainnya.

Selain itu, penderita henti jantung juga mendapat pengobatan berupa defibrilasi, yaitu mengirimkan kejutan listrik melalui dada ke jantung agar jantung berdetak kembali ke ritme yang normal.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin merekomendasikan prosedur medis seperti operasi bypass koroner, ablasi jantung, angioplasti koroner, dan operasi korektif jantung.

Sedangkan pada pasien serangan jantung, dokter akan memberikan obat-obatan seperti beta-blocker, aspirin, obat pengencer darah, dan obat antiplatelet.

Selain pengobatan, dokter ahli jantung juga merekomendasikan angioplasti koroner dan operasi bypass koroner. Perawatan akan dilengkapi dengan rehabilitasi jantung untuk membantu pasien kembali ke aktivitas normal.

Meskipun ''mereka" berbeda, keduanya mengandung kondisi darurat

Meskipun henti jantung dan serangan jantung memiliki perbedaan, keduanya merupakan keadaan darurat yang memerlukan segera perhatian medis. Pasalnya, dalam beberapa menit henti jantung terjadi, otak bisa rusak bahkan kematian.

Demikian pula, serangan jantung dapat merusak jaringan sehat di jantung dan menyebabkan kematian. Jika Anda mengalami gejala yang umumnya menyebabkan nyeri dada dan sesak napas, segera periksakan ke dokter. Lakukan panggilan darurat ke 119 jika Anda melihat seseorang mengalami tanda-tanda serangan jantung.

Di Indonesia nomor telepon darurat adalah 112. Anda juga dapat menghubungi ambulans di 118 atau 119. Membawa seseorang dengan serangan jantung ke rumah sakit mungkin merupakan pilihan terakhir.

Beritahu petugas apa yang terjadi, lengkap dengan alamat atau lokasi Anda. Orang dengan serangan jantung membutuhkan perhatian medis segera. Ambulans dan petugas akan segera datang untuk memberikan penanganan segera.

Perawatan yang cepat dan tepat dapat mencegah kerusakan pada organ vital, bahkan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup penderitanya.

(su/kp)

COMMENTS

BEST MONTH