ASATI: Pariwisata harus berdampak masyarakat lokal dan Indonesia umumnya

Asosiasi Sales Travel Indonesia (ASATI) kembali menggelar diskusi Nusantara Bangkit Jelajah Negeriku. Kali ini mengangkat tema "Muara Takus Mendunia"

Nusantara bangkit jelajah negeriku Muara Takus mendunia. (Foto: Tangkapan layar)

Bandung, SUARAUMAT.com - Asosiasi Sales Travel Indonesia (ASATI) kembali menggelar diskusi Nusantara Bangkit Jelajah Negeriku. Kali ini mengangkat tema "Muara Takus Mendunia" sebuah upaya nyata untuk mengenalkan Candi Muara Takus ke dunia internasional.

Menghadirkan para pakar sejarah, geologi, perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Kadispar serta para pemilik bisnis pariwisata dari berbagai daerah.

Diskusi ini buka oleh moderator Arief asal Kampar Riau. Sambutan Ketua Umum ASATI yang dibuka dengan pemutaran video peninggalan sejarah singkap misteri kejayaan negeri. Lahir dari leluhur budaya tinggi di Bukit Barisan menampilkan monumen kapal Sriwijaya.

"Program ketiga di tahun 2022, Nusantara Bangkit, lebih berbicara sejarah, pra sejarah dan purbakala. ASATI bertugas membuat produk pariwisata untuk dipasarkan ke mancanegara. Sebelum Masehi kita sudah mengerti filsafat, sudah mengerti kedokteran. Milenial Kampar dan Riau sekitarnya harus mempunyai giroh. Produk-produk pariwisata akan dijual ke dalam negeri maupun ke luar negeri ada eduwisata, wisata budaya (culture), dan wisata petualangan/ adventure wisata," sebut M. Syukri Machmud Ketum ASATI.

Sedianya Bupati Kampar akan hadiri webinar tersebut, namun diwakilkan tetapi tidak bisa hadir juga karena ada urusan mendadak. Dilanjutkan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar, Zulia Dharma. 

Menurutnya, Candi Muara Takus tertua di Sumatera dan menjadi bagian dari kejayaan Nusantara. Kawasan Candi Muara Takus sebagai obyek wisata cagar budaya yang sedang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kampar. 

"Kendala revitalisasi kawasan candi Muara Takus seperti pembebasan lahan, dan pihaknya sangat berharap direvitalisasi secepatnya karena sudah melalui SK bupati, bisa segera terealisasi," kata dia. 

Pihaknya juga sudah melakukan komunikasi tapi belum ada kejelasan sampai saat ini, berharap webinar berikutnya PLN diundang serta. Membutuhkan dana yang besar untuk kembali membebaskan lahan. Kalau direvitalisasi, Pemda akan membangun gerai-gerai untuk masyakarat berjualan.

"Sejatinya tanah tersebut tanah Pemda yang harusnya masyarakat atau pengguna lahan yang membayar ke pemerintah, ini malah kebalik," beber Zulia. Ia menambahkan, titik poinnya Pemerintah Daerah Kampar berharap Candi Muara Takus secepatnya menjadi warisan budaya dunia.

Diskusi berlangsung dengan pemutaran video tentang Candi Muara Takus. Datok Malik Niniok Datuk Rajo Dubalai Pewaris Sah Candi Muara Takus mendukung sepenuhnya program-program ASATI untuk menduniakan candi Muara Takus. Karena selama ini Candi Muara Takus tidak mendapat perhatian serius.

Selama ini karena belum punya identitas yang jelas seperti candi-candi lainnya di Palembang dan Indonesia," ujar Datuk Malik. Ia berharap orang-orang yang peduli dengan Muara Takus seperti Prof. Santo Saba dan ASATI menyumbangkan segala potensi untuk kemajuan Candi Muara Takus yang mendunia.

"Eksistensi candi Muara Takus itu lebih jelas dari candi-candi di Indonesia, saya klarifikasi Datok pewaris tahta candi Muara Takus," sebut Prof. Santo Saba. Lanjut Santo, kitalah yang mewarnai 3/4 muka bumi, bukan India.

Penggerak True Back History Prof. Santo Saba mempertanyakan, "apa dasarnya penghitungan tahun saka mulai 78 Masehi, sebenarnya 6123 SM awal tahun saka. Candi-candi di Indonesia tidak berdasar pada ajaran-ajaran yang lahir dari India termasuk Borobudur."

Lebih jauh, Prof Santo menyebut, pusat ritualnya ada di Muara Takus kota suci landmark berdasar ajaran-ajaran leluhur kita, jadinya tidak berdasar di India. Garis tepat di atas kepala tanpa bayangan ada di Muara Takus, equinok. 

Seluruh situs-situs di Nusantara menurutnya, tidak berdasar pada ajaran di India. Justru situs-situs Nusantara mendasari lahirnya 3 ajaran di India. Prof Santo Saba juga mempersilakan bagi yang mau menyangga penelitian-penelitian, untuk hubungi pihaknya guna sama-sama duduk bersama meluruskan sejarah Nusantara kita. 

"Ayo kita kembali sejarah benar Nusantara kita inspirasi generasi milenial untuk mengenal benar sejarah leluhurnya," tegasnya.

Perwakilan Kemenparekraf RI

Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf, Alexander Reyaan juga hadir dalam webinar tersebut. 

"Kami dari Kemenparekraf menyambut baik webinar ini. Fungsi pariwisata adalah fungsi pemanfaatan, dan bisa berjalan apabila produk pariwisata seperti muara Takus ini sudah siap untuk dijual," sebut Alex.

Menurutnya ada 3 syarat A: atraksi, amenitas, aksesibilitas agar orang-orang bisa ke Muara Takus. Konstruksi bangunan, ada lembaga pengelola destinasi wisata. Organisasi kelembagaan harus sudah dimiliki. 

"Untuk dapat world heritage dari dunia harus memiliki kekhususan dibandingkan peninggalan-peninggal sejarah lainnya. 2023 Muara Takus diharapkan masuk dalam list kemenparekraf untuk diperjuangkan menjadi world heritage," kata Alex.

Ia juga menekankan pentingnya untuk memperkuat story telling melalui guide, dan panel-panel interpertasi non personal. Pariwisata pandemi harus memenuhi hygiene, low mobility, less crowd, dan low touch atau yang biasa disebut dengan personalized, customized, localized, and smaller in size. Selain itu peran serta pemda setempat juga sangat membantu Candi Muara Takus menjadi world heritage dunia.

Candi Muara Takus. (Foto: Disparekraf Riau)

Diskusi tersebut juga menghadirkan penyangga Prof. Danny Hilman Natawidjaja dari BRIN. Menurutnya ada beberapa hal yang disoroti. 

"Kalau ini dianggap benar oleh khalayak ramai harus dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional karena tidak muda merubah sejarah yang sudah mendahului kita ribuan tahun. Tahun 338 SM letusan Krakatau purba yang sangat hebat dan memisahkan pulau Jawa dan Sumatera juga masih dalam perdebatan," ujarnya.

Lebih jauh ia mengatakan, pada tahun saka pemisahan Jawa dan Sumatera, tapi menurut ahli geologi 7000 tahun sebelum masehi terjadi pemisahan Jawa dan Sumatera. Muara Takus perlu satu eksplorasi bawah permukaan untuk menemukan warisan leluhur bangsa kita. "Eksplorasi komprehensif karena letaknya secara geologi berada di wilayah yang cukup besar seperti Bandung ini," bebernya. 

Amir Guntur dari Malaysia masih keturunan pewaris tahta Candi Muara Takus juga hadir. "Pendekatan-pendekatan dengan ahli-ahli sejarah dan ahli geologi jangan hanya di kalangan kita saja," ujarnya. 

Ia mengusukan agar ASATI dan pihak terkait ketengahkan fakta-fakta riset tanpa meremehkan pendapat orang lain. "Menengahkan, menggali secara ilmiah sejarah adat istiadat kita di Muara Takus," sebut Putra daerah Kampar yang berkarier di Malaysia sebagai tentara. 

Prof. Nicolaus Lumanauw Dewan Penasihat ASATi mengungkapkan, bahwa kita harus menghargai orang-orang budaya yang telah menentukan oh itu ada ini, ada begini. "Tourism geology harus mendekati akar sejarah bumi nusantara, begitu sebaliknya," pungkasnya.

Di sesi akhir diskusi ada tanya jawab peserta dengan para panelis. Ashraf, menanyakan Rama dan Shinta itu asli dari Indonesia atau India. Baratayuda juga. "Semuanya berasal dari Nusantara dan semua terjadi di Nusantara Mahabarata Ramayana itu," ujarnya.

Santo menjelaskan, bahwa cerita Mahabarata terlengkap tergambar di candi hanya di kita bukan di India. "Kapan dan siapa orang India yang membawa kisah Mahabarata dan Ramayana ke Indonesia?" tanya Santo.

"Jawa dan Bali dulu itu satu karena ada semacam jembatan di pelabuhan Ketapang Banyuwangi Sekitar 60 meter pada kedalaman laut," ujar Prof. Danny Hilman menambahkan. Jadi menurutnya semua bisa klaim dulu meminjam istilah Prof. Santo Saba, tapi perlu eksplorasi lebih jauh.

Apa kaitan dengan dewa Wisnu dengan dewa Zeus dan lainnya.. diskusinya seru sekali lupa waktu sampai-sampai moderator harus mengingatkan untuk closing statement dari Ketum ASATI.

"Butuh literasi dan story telling yang kuat dan itu menjadi perhatian kita, siapa pun bisa datang dan mendengarkan cerita. Kita akan labeling, branding dan marketing produk-produk pariwisata ini sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah tersebut," pungkas Ketum ASATI.

Pewarta: Konradus Pfedhu II Editor: Konradus Pfedhu

COMMENTS

BEST MONTH