Cek fakta: Independent Papuan Movement, "Papua berdiri di atas tanah sendiri" dan "Papua mandiri"

Juru Bicara (Jubir) Gubernur Papua, Lukas Enembe, M. Rifai Darus, SH, MH mengatakan pernyataan tentang deklarasai Independent Papuan Movement atau

Gubernur Papua Lukas Enembe meresmikan Bandar Udara Mamit, Kabupaten Tolikara, Papua. (Dok. Istimewa)

JAYAPURA, SUARAUMAT.com - Juru Bicara (Jubir) Gubernur Papua Lukas Enembe, M. Rifai Darus, SH., MH., mengatakan pernyataan tentang deklarasi Independent Papuan Movement atau Gerakan Papua Merdeka adalah hoax.

Seperti diketahui, beredar video deklarasi Independent Papuan Movement di Bali pada 16 Februari 2022 yang berujung menyeret nama Gubernur Papua Lukas Enembe.

“Gubernur Lukas Enembe senantiasa berkomitmen menjalankan tugasnya sebagai pimpinan di Pemerintah Provinsi Papua dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, guna mewujudkan kesejahteraan rakyat Papua,” kata juru bicara Gubernur Papua Muhammad Rifai Darus.

Selain itu, Rifai Darus juga mengklaim berita video yang beredar tentang pernyataan Gubernur Lukas Enembe bahwa semua orang Papua tidak senang.

Ia mengatakan video klip yang bertebaran itu bukanlah satu kesatuan video yang utuh dan mengakibatkan hilangnya makna asli yang coba disampaikan oleh Gubernur Papua.

Rifai menjelaskan, sebelum menuju Mamit, Tolikara, seperti biasa, Gubernur Lukas Enembe selalu menyempatkan diri untuk berdialog dengan masyarakat. Saat itu, Gubernur bersama rombongan menggelar pertemuan dengan masyarakat di Karubaga, ibu kota Kabupaten Tolikara.

“Masyarakat Tolikara yang datang hari itu dengan berbagai profesi, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan masyarakat umum lainnya mengungkapkan kegembiraannya karena telah melepaskan kerinduan terhadap putra asli Mamit, Lukas Enembe,” jelas juru bicara tersebut.

Saat peresmian Bandara Mamit, Gubernur Lukas Enembe beberapa kali terlihat meneteskan air mata, bukan hanya karena sedih, tapi semua perasaan senang, gembira, bangga, dan haru bercampur menjadi satu.

Bahkan, diakui Gubernur Lukas Enembe di tempat kelahirannya saat ini sudah maju. Seperti dijelaskan jubir Gubernur Lukas tentang pernyataan orang nomor satu Papaua itu; bisa dibayangkan, Mamit adalah daerah kecil dan terbelakang pada tahun 1963, tetapi karena berkat Tuhan yang melimpah, Mamit diberikan seorang putra asli daerah untuk menjadi Gubernur Provinsi Papua selama dua periode, ini adalah berkah bagi Mamit, bukan hanya untuk saya.

Juru Bicara Gubernur Papua Lukas Enember, M. Rifai Darus, SH, MH menegaskan deklarasi Independent Papua Movement adalah hoax. (Dok. Istimewa)

Tak hanya itu, dalam video tersebut Gubernur Lukas Enembe juga menceritakan bagaimana keberadaan injil melahirkan manusia dari Mamit menjadi manusia yang unggul dan hebat.

Gubernur Lukas Enembe juga mengaku lahir dan besar di Mamit, namun kehidupannya saat ini bukan hanya untuk Mamit, tapi untuk seluruh masyarakat di Papua. “Ko harus catat itu,” tutup Gubernur.

Narasi demi narasi terus bergulir dari mulut seorang Gubernur Lukas Enembe, hingga akhirnya ia mengatakan bahwa ia hidup untuk membela kepentingan rakyat Papua.

Masih banyak saudara-saudara yang menderita dan menangis, karena masih dalam taraf hidup yang belum mencapai titik kebahagiaan.

“Semua orang Papua di muka bumi ini, tidak bahagia dan tidak hidup bahagia”. Hal ini dikatakan karena di beberapa daerah seperti Puncak, Pegunungan Bintang dan Maybrat masih banyak masyarakat Papua yang menangis karena faktor keamanan.

Menurutnya, pernyataan "semua orang Papua tidak bahagia" adalah sikap yang wajar dan manusiawi. Bagaimana masyarakat Jayapura bisa bahagia jika kerabat mereka di tempat lain harus menderita, karena masalah keamanan sangat rentan.

Rifai menjelaskan, pernyataan tersebut merupakan sikap “satu rasa dan satu jiwa” yang ingin ditunjukkan Gubernur Lukas Enembe kepada publik.

“Dia ingin perasaan bahagia itu menjangkau seluruh rakyatnya di seluruh Papua, tanpa terkecuali,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Rifai, pernyataan Gubernur Lukas Enembe tercermin dari data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang memang mencatatkan Indeks Kebahagiaan Provinsi Papua dengan nilai 69,87 pada tahun 2021.

Dijelaskannya, meski nilai Indeks Kebahagiaan Provinsi Papua belum memuaskan jika dibandingkan dengan provinsi lain. Namun perlu dicatat bahwa kenaikan Indeks Kebahagiaan Papua dari tahun 2014 hingga 2021 menjadikan Provinsi Papua sebagai provinsi dengan peningkatan nilai paling signifikan.

Rifai mengatakan, hal ini tentunya menunjukkan kerja keras dan perjuangan Gubernur Lukas Enembe dalam membawa kebahagiaan bagi seluruh rakyat Papua adalah nyata dan terbukti.

Terkait hal itu, jelas Rifai, Gubernur Lukas Enembe meminta semua pihak tidak memaknai narasi yang disampaikannya secara sempit.

“Jangan sampai orang-orang yang memiliki kepentingan politik jangka pendek terus menggunakan potongan video ini untuk menjatuhkan Gubernur Papua,” kata Rifai.

(Sum/Kp)

COMMENTS

BEST MONTH