Labuan Bajo dan literasi pariwisata

Literasi pariwisata merupakan langkah untuk meningkatkan kepercayaan (trust) wisatawan terhadap Labuan Bajo.

Giorgio Babo Moggi. (Foto: Facebook @Giorgio Babo Moggi)


Oleh: Giorgio Babo Moggi

SUARAUMAT.com - Berbicara brand dan branding seolah-olah itu domain dunia bisnis atau perusahaan saja. Begitu pula ketika kita berbicara entrepreneurship, seolah-olah itu urusan ranah para pebisnis.

Sebenarnya brand atau pun branding melekat pada semua sektor yang bergerak di bidang jasa dan pelayanan publik termasuk pemerintah.

Pemerintah yang berorientasi jauh ke depan harus memiliki brand serta mampu mem-branding keunggulannya. Selain brand,  ada pula tagline yang menjadi nilai jual pemerintah tersebut.

Sejumlah pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota telah mem-branding-kan diri sebagai bentuk promosi atau marketing guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Sebagai contoh, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, memiliki sejumlah brand seperti “Bela Beli Nagekeo” dan Nagekeo The Heart of Flores – jantung dari Pulau Flores sekaligus menjadi  theme song-nya. 

Sebelum itu, Kabupaten Nagekeo memperkenalkan diri sebagai Kabupaten Literasi. Mempopulerkan sebagai Kabupaten Literasi mungkin bukan lagi menjadi hal unik. Karena literasi telah menjadi gerakan nasional dan telah “mewabah” ke seluruh daerah.

Dalam kaitan dengan gerakan literasi, suatu ketika dalam rangkaian tugas penilaian kompetensi manajerial dan sosial kultural Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo.

Pada sesi pemotretan, Bupati Nagekeo dr. Johanes Don Bosco Do mengajak kami mengangkat ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf L. L adalah simbol literasi – publik sudah tahu itu.

Hal ini agak berbeda dengan pengalaman kami di Labuan Bajo – masih dalam tema tugas yang sama (22/01/22) – penilaian kompetensi manajerial dan sosial kultural JPTP, Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, M.Kes, mengajak kami mengangkat ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf L.


“Ayo angkat jari, “ ajak wakil bupati.

“Labuan Bajo. Labuan Bajo.” Lanjutnya.

Kami semua serentak mengikuti ajakan Dokter Weng – demikian panggilan populernya. Tetapi, di dasar hati saya, berkata “Menarik neh. Labuan Bajo.” 

Saya teringat sehari sebelumnya, saya dan beberapa kawan mampir di Puncak Waringin dan membuat video pendek dengan latar belakang perairan Labuan Bajo, saya mengucapkan kalimat, “Saya di Labuan Bajo.”

Kembali ke pengalaman di Mbay dan Labuan Bajo. Dua pengalaman yang sama membentuk formasi huruf dari ibu jari dan jari telunjuk. Dua pengalaman itu diajak oleh para pemimpin daerah – Nagekeo dan Manggarai Barat. Formasi yang sama, memiliki makna yang berbeda.

Ternyata L itu Labuan Bajo, bukan Literasi. Pengalaman sederhana. Pula ajakan yang sederhana. Tetapi, menurut saya, simbol ini memiliki pesan yang kuat dari sekadar akronim Labuan Bajo.

Sebagaimana kita ketahui, semua mata sedang tertuju ke sana. Bukan saja karena Komodo ada di sana, juga sejak ditetapkan Labuan Bajo sebagai 10 Kawasan Strategi Pariwisata Nasional. 

Pembangunan infrastruktur terus digalakan pemerintah pusat guna mendukung Labuan Bajo sebagai kawasan pariwisata yang berlabel “premium”.

Pembangunan dan sektor pariwisata tak hanya soal infrastruktur. Pun bidang literasi pun harus digaungkan untuk menarik wisatawan sebanyak mungkin dan wisatawan pun merasakan kenyamanan selama keberadaannya di sana. 

Seperti dilansir dari Tempo.Co (20/02/2022), wisatawan yang juga adalah artis TikTok, Kelly Courtney, menceritakan pengalamannya ditipu oleh sebuah agen perjalanan (14/02). 

Setiba di Labuan Bajo, ia tidak dijemput serta mendapatkan pelayanan yang sepantasnya walaupun ia telah membayar paket senilai Rp 12 juta untuk 6 orang selama 3 hari 2 malam. 

Kasus ini telah mendapat respons dari Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pihak perusahaan travel pun telah menggantikan uang Kelly karena setelah ditelusuri hal tersebut dilakukan oleh seorang oknum karyawannya untuk keuntungan pribadi.

Kasus Kelly mungkin salah satu kasus yang sempat terungkap ke media. Mungkin masih banyak kasus penipuan, pelayanan atau perlakuan buruk yang dialami oleh para wisatawan.

Ini sebenarnya menjadi warning bagi Pemerintah Daerah Manggarai Barat. Praktik-praktik penipuan dengan berbagai bentuk sedang merebak dan mengincar Labuan Bajo. 

Terhadap kasus Kelly dan kasus-kasus lainnya, saya menjadi teringat dengan ajakan Wakil Bupati Manggarai Barat.

Bagi saya, simbol L tidak sekadar akronim Labuan Bajo, lebih dari itu, bertalian erat dengan Literasi. 

Topik bahasan pariwisata melingkupi semua aspek – tak sebatas infrastruktur, transportasi, dan akomodasi, atau lainnya. 

Salah satu aspek penting lainnya yang tak kalah penting adalah literasi. 

Literasi dan pariwisata merupakan dua hal yang sangat berkaitan erat meskipun defenisi literasi secara sempit hanya melingkup kemampuan membaca dan menulis. 

Namun, dalam sejarah perkembangan literasi itu sendiri telah berkembang dalam macam ragam misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media, literasi teknologi dan lain sebagainya.

Semula defenisi literasi yang terbatas mencakup membaca dan menulis kemudian berkembang dengan banyak ragam, maka dapat ditarik kesimpulan literasi kemampuan membaca, menulis, menganalisa sesuatu untuk memamparkan ide atau gagasan, pemikiran kritis, saran serta solusi terhadap masalah kehidupan sehari-hari.

Di sini, literasi beperan penting dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata dengan cara menyebarluaskan informasi, ide, gagasan dan pemikiran terhadap pengelolaan pariwisata serta menawarkan solusi terhadap masalah yang terjadi di sektor pariwisata. 

Dalam kaitan dengan pariwisata, manfaat kegiatan literasi secara tidak langsung mempromosikan destinasi wisata yang akan memancing penasaran seseorang sehingga menimbulkan rasa minat untuk  mengunjunginya.

Selain itu kegiatan literasi dapat memotivasi para pelaku wisata dan pengelola wisata untuk menyampaikan informasi kepada publik secara naratif dan deskriptif. 

Kegiatan seperti ini disebut dengan “literasi pariwisata”.

Literasi pariwisata merupakan langkah untuk meningkatkan kepercayaan (trust) wisatawan terhadap Labuan Bajo. Maka dari itu, kita diajak untuk berliterasi; menulis dan melakukan story telling hal-hal positif serta memerangi opini atau penyesatan yang bertebaran di media online. 

L adalah Labuan Bajo, L pula adalah Literasi. Ingat L, ingat Labuan Bajo. Ingat Labuan Bajo, ingat Literasi. 

Mari kita  turut membangun pariwisata Labuan Bajo (Pariwisata NTT)  dengan cara berliterasi. (*)

Editor: Redaksi Suaraumat.com

COMMENTS

BEST MONTH