Mempersiapkan generasi penerus bangsa Indonesia bebas stunting sejak pra nikah

Stunting tidak sebatas kekurangan asupan gizi pada anak dan bayi, namun masalah stunting terjadi sejak dalam kandungan dan baru akan terlihat saat

Dokter Sutria N. Syati. (Foto: Instagram @sutrians)
Jakarta, SUARAUMAT.com - Stunting tidak sebatas kekurangan asupan gizi pada anak dan bayi, namun masalah stunting terjadi sejak dalam kandungan dan baru akan terlihat saat anak berusia dua tahun. Oleh karena itu, generasi penerus bangsa Indonesia bebas stunting harus dipersiapkan sejak tahap pranikah.

Pernikahan adalah langkah awal untuk menciptakan generasi penerus. Sayangnya, banyak pasangan yang enggan melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama kesehatan reproduksi sebelum menikah. Padahal, kesehatan reproduksi merupakan salah satu faktor penting untuk melahirkan generasi yang sehat dan bebas stunting.

Stunting merupakan kondisi dimana anak gagal tumbuh kembang karena kekurangan gizi seimbang dalam jangka waktu yang lama. Stunting menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak yaitu tinggi badan anak lebih rendah atau lebih pendek (kerdil) dibandingkan tinggi badan anak seusianya.

Stunting juga dapat memengaruhi kecerdasan anak di masa depan. Oleh karena itu, stunting perlu dicegah sedini mungkin.

Dokter Sutria N. Syati menjelaskan, pencegahan stunting dapat ditekan melalui tiga fase krusial. Fase pertama adalah sebelum merencanakan kehamilan, fase kedua selama kehamilan, dan fase ketiga dalam seribu hari pertama kehidupan.

“Masa sebelum menikah sudah memasuki fase sebelum merencanakan kehamilan,” kata Sutria saat berbincang dengan awak media, Kamis (10/2).

Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah meliputi kesiapan fisik, seperti memastikan usia calon pengantin ideal untuk hamil. Kemudian, pastikan lingkar lengan tidak masuk dalam kategori kekurangan energi kronis (KEK) dengan nilai >23,5), tidak anemia, dan status gizinya baik.

Selain itu juga ada pemeriksaan urine dan pemeriksaan untuk memastikan calon mempelai bebas dari Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV, Malaria, Thalasemia, Hepatitis B, dan TORCH.

Mempersiapkan generasi penerus bangsa Indonesia bebas stunting sejak pra nikah. (Foto: Istimewa)

“Jika (dari hasil pemeriksaan) ditemukan aspek yang tidak memenuhi syarat, maka kehamilan dapat ditunda hingga calon mempelai dianggap siap hamil,” ujar wanita yang akrab disapa dr. Cucut ini.

Tak lupa, lanjutnya, calon pengantin juga wajib melakukan imunisasi TT, hal ini untuk melindungi ibu dan anak dari bahaya tetanus. Selain pemeriksaan dan kesiapan fisik, ada juga kesiapan mental dan pengetahuan yang perlu diketahui pasangan tentang pencegahan stunting.

Informasi dan pengetahuan tentang stunting harus diketahui sebagai bekal penting dalam menjalani kehamilan hingga kelahiran.

Dokter Sutri di akhir obrolan mengatakan, pencegahan stunting dimulai dari sebelum menikah hingga 1000 hari pertama kehidupan. Oleh sebab itu proses pembelajaran yang dilakukan oleh calon ibu dan bapak akan terus berlanjut.

Pewarta: Konradus Pfedhu II Editor: Mihardo Saputro

COMMENTS

BEST MONTH