Panglima Burung, Mangkuk Merah dan Mandau Terbang

Satu hal lagi yang membuat Dayak makin disegani. Apakah itu? Adalah tentang eksistensi sosok penting mereka yang sering disebut sebagai Panglima

Ilustrasi Panglima Burung / Pangkalima seorang tokoh legendaris yang dipercayai sebagai pelindung dan pemersatu suku Dayak. (Foto: Dok. Istimewa)

Penulis: Sigit Raharja

SUARAUMAT.com - Pengalaman Penulis yang lama tinggal di Pulau Kalimantan, khususnya di Kalimantan Barat; apalagi dulu, Almarhumah Sang Tercinta Isteri masih berdarah Biru Keturunan Keluarga Temenggung Kapuas Hulu, Suku Dayak Iban.

Disamping Penulis selama mengenyam pendidikan dan setelahnya sering bertualang ke daerah pedalaman dan lintas provinsi melalui jalan darat mulai dari Pontianak – Palangkaraya – Banjarmasin dan mendekati hingga perbatasan Kalimantan Timur; mengakui tentang kehebatan suku Dayak, dan sepertinya kita semua sudah tak perlu lagi mempertanyakannya, bukan? Ya, di Tanah Kalimantan (Borneo Land), merekalah yang paling disegani dan dihormati.

Sakti, jumawa, kharismatik, mistiknya yang masih kuat, membuat salah satu suku tertua di Indonesia ini juga begitu ditakuti. 

Satu hal lagi yang membuat Dayak makin disegani. Apakah itu? Adalah tentang eksistensi sosok penting mereka yang sering disebut sebagai Panglima Burung. Sosok satu ini begitu dipuja dan dihormati oleh orang Dayak. Ia adalah pahlawan yang akan membantu orang-orang Dayak menyelesaikan masalah pelik yang berat.

Dan tahukah kamu? Panglima Burung / Pangkalima seorang tokoh legendaris yang dipercayai sebagai pelindung dan pemersatu suku Dayak. 

Panglima Burung digambarkan sebagai tokoh yang memiliki sifat serta karakter sebagai “Orang Dayak Sejati”, yaitu cinta damai, mengalah, suka menolong, pemalu, sederhana, tapi akan berubah kejam dan gagah berani ketika posisi terancam. 

Biasanya masyarakat Dayak melakukan ritual Tari Perang khusus untuk memanggilnya, hingga melakukan ritual “Mandau Terbang”. 

Ritual dimulai dengan menyiapkan mangkuk merah, yang merupakan sebuah tradisi dalam adat Dayak yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar sesama rumpun Dayak serta sebagai penghubung dengan roh nenek moyang.

Hanya Panglima Adat yang berwenang untuk memanggil dan berhubungan dengan para roh suci atau dewa. 

Perlengkapan untuk ritual: Panglima adat perlu mempersiapkan sejumlah perangkat dalam upacara memanggil roh atau dewa.

  1. Mangkuk dari teras bambu atau tanah liat yang berbentuk bundar, sebagai wadah untuk meletakkan peralatan yang lain.
  2. Dasar mangkuk diolesi getah jaranang berwarna merah yang mengandung pengertian pertumpahan darah.
  3. Perlengkapan lain nantinya dikemas dalam mangkuk kemudian dibungkus kain merah.
  4. Bulu atau sayap ayam yang mengandung pengertian cepat, segera, kilat seperti terbang.
  5. Daun rumbia mengandung pengertian bahwa pembawa berita tidak boleh terhambat oleh hujan karena sudah dipayungi.
  6. Longkot api (bara api kayu bakar yang sudah dipakai untuk memasak di dapur) yang mempunyai pengertian bahwa pembawa berita tidak boleh terhambat oleh petang (gelap) malam hari karena sudah disediakan penerangan.
  7. Tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan.
  8. Umbi jerangau merah yang melambangkan keberanian.
  9. Mandau. Panglima Adat membawa mangkuk merah ke panyugu (tempat suci yang dianggap keramat) pada saat matahari terbenam. Di sana, ia meminta petunjuk dewa.

Diyakini bahwa roh suci akan menjawab melalui tanda-tanda alam yang kemudian diterjemahkan oleh panglima apakah mangkuk merah sudah saatnya diedarkan atau belum. 

Jika dianggap layak, tubuh panglima akan dirasuki oleh roh dewa dan pulang ke desanya dengan meneriakan kata-kata magis, kemudian beberapa orang diutus untuk membawa mangkok merah ke desa lain untuk menyampaikan berita yang telah diberi arahan mengenai maksud dan tujuan kepada ahli waris di desa tersebut. 

Konon mereka yang terpilih membawa mangkok merah tidak boleh menginap atau singgah terlalu lama meski hujan lebat bahkan hari menjelang petang mereka harus meneruskan perjalanannya.

Upacara mengedarkan mangkuk merah berlangsung di seluruh wilayah yang bisa dijangkau hingga dianggap cukup untuk menghadapi musuh. 

Jika diperlukan untuk hal-hal bersifat pertahanan dan perlawanan kepada musuh, barulah Mandau Terbang “dimainkan”… Mengagumkan bukan? Oh.. Iya… Ultimatum permintaan maaf Edy Mulyadi (Eks Caleg Kader PKS) terhadap kasus penghinaan masyarakat dan Suku Dayak Kalimantan, bukan main-main.

Sepengetahuan dan pengalaman Penulis, Jangan sampai kalangan adat melakukan Ritual Mangkuk Merah dan Mandau Terbang. 

Dampaknya sungguh MENGERIKAN! Kepala orang yang dijadikan target bisa putus secara tiba-tiba…! Percayalah.. (Ingat kasus Kerusuhan Sampit dan Sambas 1997 dan 2001?

Dampak psikologis masih terasa hingga sekarang. Jelas dan detail nya seperti apa, silakan Googling..).

”Adil Ka’Talino Bacuramin Ka’SarugaBasengat Ka’Jubata”Rahayu, Satyam Eva Jayate.

Sumber : Status Facebook Sigit Raharja

(su/knp)

COMMENTS

BEST MONTH