Sinergi investor dan petani kopi - jahe Manggarai Flores sebuah urgensi di era pandemi

"Kita memiliki harapan agar berbagai pihak atau eksportir atau pembeli besar yang berminat bermitra dengan kita ya, kita siapkan produknya lalu kita

Menjemur biji Kopi Manggarai Flores. (Foto: Dok. APEKAM)

MANGGARAI, FLORES, SUARAUMAT.com - "Kita memiliki harapan agar berbagai pihak atau eksportir atau pembeli besar yang berminat bermitra dengan kita ya, kita siapkan produknya lalu kita sama-sama berjalan" Petrus Salestinus Palis Ketua APEKAM

Di era pandemi para petani kopi dan jahe di Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap produktif walau ada kekhawatiran. Hal ini terungkap dalam wawancara Suaraumat.com dengan Ketua APEKAM Kamis (17/2/2022).

"Kita punya harapan ada pembeli besar yang mau bermitra dengan kita bekerja sama untuk membeli produk kopi dan jahe tersebut," ungkap Petrus Salestinus Palis Ketua APEKAM.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang biasa disapa Sales itu menceritakan awal mula berdirnya APEKAM. Berikut informasinya untuk Anda. 

Tentang APEKAM

“APEKAM: Asosiasi Petani Kopi dan Jahe Manggarai. Oktober 2014 ada 5 orang petani dari kampung Bohang, Desa Bangka Lelak, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, jadi berdiskusi terkait  dengan hasil komoditi pertanian yang konteks kabupaten kami atau daerah kami tu tidak mendapatkan harga yang layak,” sebut Sales.

Petrus Salestinus Palis Ketua APEKAM. (Foto: Dok. APEKAM)

Misalnya kopi dan jahe. Dari hasil diskusi di antara mereka dan juga dengan beberapa orang di kampung, sepakat mendirikan kelompok tani bernama Bantang Cama. Dari kelompok tani ini Sales dan kawan-kawan coba berjalan ke berbagai kampung di wilayah kecamatan Lelak. 

“Kebetulan ada beberapa kampung di sekitar wilayah Kecamatan Lelak itu memiliki hasil tanaman kopi juga tanaman jahe. Dari hasil diskusi kami dengan berbagai teman-teman di setiap kampung, akhirnya kami menemukan sebuah data terkait jumlah produksi jahe dan kopi arabika di daerah kami,” bebernya.

Sales dan teman-teman merasa bahwa persoalan ini sangat besar dan kompleks yang dialami oleh semua kaum tani, maka pihaknya bersepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang cukup besar yang mewadahi semua kelompok-kelompok tani yang ada di Kec. Lelak. 

“Puji Tuhan, pada 3 Oktober 2017 bertempat di Bohang kami berhasil mendirikan organisasi yang bernama Asosiasi Petani Kopi dan Jahe Manggarai dengan disingkat APEKAM,” ujarnya.

Sales menyebutkan, nah, aktor atau orang-orang yang terlibat penuh dalam mendirikan organisasi ini lagi-lagi ada 5 orang petani termasuk saya sendiri (Petrus Salestinus Palis) selaku ketuanya saat ini, dan ada tokoh gereja yaitu Romo Beny Jaya Projo.

“Kami bersama pastor ini sama-sama terus berdiskusi, dan organisasi ini memiliki berbagai visi dan misi. 

Visinya; terwujudnya petani Manggarai menuju kehidupan sejahtera mandiri dan ekonomi kerakyatan. 

Misinya; adalah membuka lapangan kerja seluas-luasnya, melakukan studi banding di daerah lain, peningkatan kapasitas organisasi, mendidik dan melatih para petani dalam pengelolaan pertanian yang profesional, membuka akses pemasaran komoditi pertanian baik lokal nasional maupun internasional. Membangun kemitraan kerja sama dengan dengan berbagai pihal atau stakeholder dan pemerintah. Total dan loyal demi terciptanya ekonomi berbasis berdiri di atas kaki sendiri. Berjuang dengan terlibat untuk mencapai petani yang makmur dan sejahtera melalui tali persaudaraan sejati.

Butuh investor

Sarana prasarana proses pascapanen kopi Manggarai Flores masih terbatas.

Dari berbagai misi di atas, menurut Sales, APEKAM mempunyai persoalan yang sangat mendasar saat ini yaitu terkait dengan pemasaran produk.

Sales menjelaskan, pada tahun 2019 APEKAM berhasil bekerja sama dengan perusahaan PT Agro Indonesia untuk pembelian kopi green bean, dengan tujuan akhir Australi.

Sedangkan jahe pada tahun yang sama (2019), menurut data yang dikumpulkan dari kecamatan produksi per tahunnya bisa mencapai 1500 ton. 

“Dari 1500 ton ini ada 3 varietas jahe, yang paling banyak atau dominan yaitu jahe gajah bisa mencapai 80% dari angka yang saya sebutkan di awal. Sedangkan sisanya jahe merah dan jahe emprit,” lanjut Sales. 

Ketika APEKAM bekerja sama dengan perusahaan, para petani atau anggota merasa terbantu. Karena harga kopi yang dibeli dari petani menurut mereka sesuai dengan perhitungan usaha, dan para petani cukup puas.

Begitupun jahe, dengan hadirnya organisasi APEKAM petani merasa terbantu, namun sejak pandemi terkait dengan penjualan komoditi ini agak sulit. Namun demikian tidak ada kata menyerah, APEKAM mencoba mencarikan pasar, seperti pasar lokal, nasional bahkan pasar ekspor.

“Jadi untuk pasar lokal kami coba membangun sebuah kafe, tujuannya untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan para pengurus sehingga mendapatkan hasil minuman kopi yang citarasanya baik sesuai yang dimuat dalam buku SIG Sertifikasi Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Manggarai (SIG-KAFM),” ujar Sales.

Lebih lanjut menurutnya, untuk keanggotaan APEKAM saat ini memiliki kurang lebih 1152 orang, menyebar di dua kecamatan yaitu Kecamatan Lelak dan  Ruteng.

Persoalan sarana dan prasarana

Biji kopi Manggarai Flores NTT.

Sales mengatakan, di tengah menjalankan berbagai misi APEKAM, pihaknya memiliki berbagai persoalan. 

“Misalnya untuk kopinya, kopi untuk sarana panen dan pascapanen itu masih kurang. Selama ini memang ada bantuan dari pemda Manggarai, ya tapi kita akui peralatan masih kurang," ungkapnya.

Dengan keterbatasan namun bukan berarti tidak berprestasi. Kopi Manggarai Flores tercatat beberapa kali menjuarai event kopi kelas dunia. 

Seperti juara pertama Kontes Kopi Specialty Indonesia Robusta tahun 2015, dan mendapatkan Gold Gourment pada Penghargaan AVPA Gourmet Product di Pameran SIAL Paris Prancis 2018. 

Sedangkan kopi arabika Flores Manggarai menjadi Juara Pertama Kontes Kopi Specialty Indonesia Arabika tahun 2015, dan mendapatkan Bronze Gourment pada Penghargaan AVPA Gourmet Product di Pameran SIAL Paris Prancis 2018.

"Lalu hasil kopi yang kita buat selama ini dengan ada beberapa varian, yang pertama S795, Red catura, Yellow catura sendiri sama robusta,” ujarnya.

Pandemi mungkin belum berakhir dalam waktu dekat, dan tahun ini APEKAM mencoba menjual produk-produknya dengan membuka kafe-kafe kecil di Manggarai.

Harapan selalu ada di tengah pandemi, karena APEKAM lahir bukan untuk berkutat dengan persoalan melainkan menjadi solusi bagi para petani kopi dan jahe yang sudah memercayainya.

Untuk produksi tahun ini, APEKAM memiliki harapan agar berbagai pihak atau eksportir atau pembeli besar yang berminat bermitra dengannya. 

“Ya, kita siapkan produknya lalu kita sama-sama berjalan, itu terkait dengan kopi, begitupun jahe. Jahe, kita punya hasil produksi per tahun itu bisa sampai 1500 ton, kita punya harapan ada pembeli besar yang mau bermitra dengan kita bekerja sama untuk membeli produk jahe tersebut,” pungkas Sales.

Galeri foto APEKAM:









Pewarta: Konradus Pfedhu

Editor: Konradus Pfedhu

COMMENTS

BEST MONTH