Dokter Sunardi yang ditembak Densus 88 sosoknya diungkap Ketua RT

Densus 88 Anti Teror POLRI menembak mati terduga teroris yang berprofesi sebagai seorang dokter di Sukoharjo Jawa Tengah

Ketua RT tempat Dokter Sunardi tersangka teroris yang ditembak Densus 88. (Foto: Dok. Istimewa)

SUKOHARJO, SUARAUMAT.com - Tim Densus 88 Anti Teror POLRI diberitakan menembak mati seorang yang diduga teroris berinisial SU alias Sunardi di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah.

Sunardi diketahui berprofesi sebagai seorang dokter. Namun dalam keseharian pergaulannya tertutup. Sang dokter itu juga  jarang bergaul dengan masyarakat sekitarnya.

Ketua RT 3 RW 7 Bangunsari, Gayam Sukoharjo, Bambang Pujiana menceritakan tentang sosok Dokter Sunardi.

Kepada media, Bambang mengungkapkan Dokter Sunardi tidak pernah bergaul dengan masyarakat atau berkumpul bersama warga.

Selama menjabat sebagai Ketua RT, dia mengaku almarhum tidak pernah datang dalam pertemuan yang mengundang warga setempat.

"Sejak saya memegang Ketua RT sejak April 2019 sampai saat ini itu saya mengadakan pertemuan dan kegiatan warga, tetapi Pak Nardi tidak pernah datang dan tidak pernah sosialisasi, apalagi kerja bakti, tidak sama sekali," ungkap Bambang, saat ditemui media dikantornya, Sukoharjo, Kamis (10/3).

Tak pernah bayar iuran RT 

Ketua RT Bambang juga tidak tahu menahu kenapa salah seorang warganya itu tidak mau dan tidak pernah menghadiri pertemuan warga yang digelar di kampung tersebut.

Bahkan jelas Bambang, Sunardi juga tidak pernah membayar iuran RT seperti pada warga lain. 

"Tidak sama sekali (bayar iuran), boleh dicek di bendahara saya kalau yang namanya Pak Dokter Sunardi itu iuran, tidak pernah. Padahal iuran di tempat saya itu cuma satu bulan sebanyak 25 ribu rupiah setiap tanggal 10," ujarnya.

Sebagai Ketua RT 3 RW 7 Bangunsari, Bambang mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan Sunardi. 

Meski begitu, ia sering melihat Sunardi sosok dokter itu saat menunaikan ibadah salat di masjid setempat.

"Tidak pernah (komunikasi). Kalau ketemunya dia itu di masjid tempat saya ketika salat, biasanya saat magrib dan isya. Saat ketemu juga tidak pernah saling menyapa," bebernya.

Tidak ada keinginan untuk bersosialisasi dengan warga, Bambang pun tidak memasukkan Dokter Sunardi ke dalam Grup WhatsApp warga RT setempat. 

Grup tersebut berfungsi untuk menyampaikan maupun kegiatan warga RT setempat. 

"Dia itu juga tidak saya masukan dalam grup. Kan dia kelihatannya tidak mau kumpul-kumpul dengan warga, karena apa karena percuma tidak ada tanggapan apa-apa. Kalau ada informasi apa-apa kan lewat grup kapling itu," ujarnya.

(Red/kp)

COMMENTS

BEST MONTH