Jadikan Bermain Sepak Bola Sebagai Budaya

Kita hanya kurang serius menjadikan sepak bola sebagai jalan hidup melepaskan diri dari kemiskinan. Kita butuh peran dan dukungan semua pihak agar

NTT All Star Jakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

------------------


Oleh: Honing Sanny


SUARAUMAT.com - Saya menyukai sepak bola, sebagai penonton baik langsung maupun melalui televisi. Banyak sekali nama pemain, nama klub sepak bola beserta sejarah dan prestasinya saya pelajari. 


Bahkan saya mengikuti perkembangan sepak bola dunia termasuk negara-negara yang terkenal karena sepak bola, sebut saja Brazil, Argentina, beberapa negara Amerika Latin dan negara-negara di Afrika.

 

Juga beberapa pemain yang menjadi terkenal, kaya dan menduduki jabatan tinggi dari sepak bola misalnya Pele, Maradona, George Weah dan Samuel Etoo serta banyak lagi lainnya. Saat ini juga ada Messi, Ronaldo dan Neymar yang kaya raya dari sepak bola.


Menariknya semua nama pesepak bola di atas datang dari latar belakang sosial yang sama yakni miskin. Juga dari negara-negara yang sama levelnya yakni menengah atau berkembang. Sepak bola-lah membuat negara mereka dikenal. 


Karena sepak bola-lah maka banyak individu yang berubah derajat sosial menjadi kaya raya sekalipun ada beberapa yang setelah pensiun kembali miskin karena kepribadian yang suka foya-foya dan glamour. Namun tidak sedikit yang kemudian menjadi pengusaha dari modal selama menjadi pemain sepak bola.


Sepak bola sebuah budaya


Dari dari beberapa negara yang pernah saya kunjungi terlihat bahwa sepak bola adalah kebudayaan. Semua terlibat. Semua ambil bagian. Tua, muda, anak-anak, laki, dan perempuan semua ambil bagian di dalamnya. Mereka bisa ramai-ramai setiap hari menghabiskan siang dengan bermain bola bersama. Akhirnya bagi mereka sepak bola adalah ekspresi tentang seni, kepribadian selain olahraga.


Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba ada sahabat saya @Frans Watu (mantan pemain profesional asal Nusa Tenggara Timur/NTT) dan Hans Gore yang memasukan saya untuk ambil bagian dalam kegiatan sepak bola NTT All-star.


Dengan jujur saya katakan bahwa saya tidak bisa main bola. Sepanjang umur saya hanya main waktu kecil di Ende, tepatnya di halaman belakang SDK Ende II, atau di Kalimati Napu Banda dekat rumah yang sekarang sudah penuh dengan pemukiman. 


Namun dengan enteng Frans bilang, "Kalo begitu na bu pelatih sa".


Saya langsung bilang, "Bagaimana melatih, main serius saja tidak pernah. Beta tidak usah saja bro". 


"Sudah, kalo begitu na bu jadi manajer". Akhirnya dalam hati saya berkesimpulan jangan-jangan kawan-kawan ingin saya ikut ambil bagian. 


Begitulah ceritanya saya jadi manajer dari eks pemain-pemain hebat pada eranya. Bahkan berapa dari mereka sudah jadi pemain hebat saat saya masih di Ende. Sebut saja Farry Francis, Frans Watu, Yun Bali, Kak Carel Dae yang sudah 63 tahun dan masih banyak lagi yang lain.

 

Akhirnya kemarin Jumat tanggal 18 Maret semua pemain-pemain hebat asal NTT yang rerata 40 tahun ke atas berkumpul di JIS, stadion baru megah yang dibangun Pemda DKI Jakarta. 


Sekalipun belum rampung namun lapangan latihannya sudah bisa digunakan. Kami semua kumpul di sana karena jadwal pertandingan jam 16.00 WIB melawan para orang tua dari ASIOP (sekolah sepak bola terkenal di Jakarta).


Dari wajah-wajah yang sudah tidak muda lagi namun sisa-sisa kejayaan serta keterampilan bermain masih terlihat dari cara mengambil posisi, cara passing dan koordinasi antar lini. 


Selama berkumpul para pemain seperti menemukan ruang ekspresi yang egaliter sebagai sesama orang NTT. Ringan dalam komunikasi, riang dalam canda dan guyub. 


Sepak bola adalah jalan  

                 

Pengalaman ini menarik bagi saya untuk mencoba mengambil benang merah antara suasana NTT yang guyub, anak-anak kecil yang habiskan hari dengan bermain sepak bola di kampung-kampung, keterampilan menguasai bola dari bakat alami, sekalipun tidak mengenal sekolah sepak bola, maka boleh disimpulkan bahwa sepak bola sebagai budaya dan seni juga ada di NTT.

 

Kita hanya kurang serius menjadikan sepak bola sebagai jalan hidup melepaskan diri dari kemiskinan. Kita butuh peran dan dukungan semua pihak agar bakat-bakat yang ada bisa berkembang dan kelak menghasilkan pemain-pemain sepak bola yang handal. 


Sangat diharapkan perpustakaan sekolah-sekolah tingkat SD perlu banyak buku-buku biografi pemain sepak bola sebagai pemicu adrenalin anak-anak untuk keluar dari kemiskinan dengan menjadikan sepak bola sebagai jalan. 


Kita butuh para pemimpin yang rutin melakukan kompetisi antar SD, antar SMP, antar SMA. Juga kejuaraan klub yang fair. Dan hanya kompetisilah anak-anak dilatih dan mengasah keterampilannya. 


Benar kita punya Piala Eltari yang sudah menjadi agenda dua tahunan sepak bola NTT. Namun dari waktu ke waktu justru hanya menjadi ajang gengsi dari para kepala daerah bukan menjadi ajang pembinaan.


Dengan alasan ingin menang dan menjadi juara maka setiap tim berlomba-lomba mendatangkan pemain profesional dari luar kabupatennya bahkan pemain Liga yang dibayar mahal. Akibatnya anak-anak kita hanya menghangatkan bangku cadangan dan tidak berkembang. 


Belum lagi pemilihan wasit, yang dalam banyak hal lebih membela tuan rumah. Akhirnya sepak bola hanya sekedar hiburan dan tontonan saja tidak berarti banyak untuk pembinaan. 


Kita perlu mendorong semua stakeholder yang mengurus sepak bola untuk stop datangkan pemain dari luar selama kompetisi di NTT apa pun namanya. Dan memberi sanksi tegas bagi tim yang melanggar. 


Semoga saja tradisi bersepak bola kembali hadir di NTT. Pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten perlu menyediakan lapangan sepak bola rakyat dimana setiap sore semua bisa memanfaatkannya untuk bersepak bola ria. Hanya keterlibatan semua pihaklah bibit-bibit sepak bola NTT bisa tumbuh dan menghasilkan. Semoga. (*)


Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH