Kisah inspiratif Misionaris Awam di Bumi Khatulistiwa Kalimantan Barat

Kisah inspiratif Misionaris Awam di Bumi Khatulistiwa Kalimantan Barat Laurensius Leba dan Yakobus Reta asal Nagekeo, Flores Nusa Tenggara Timur

Pater Yoseph Wiese, SVD Misionaris Jerman yang berjasa besar dalam perjalanan hidup Laurens dan Kobus. (Kolase foto: Suaraumat.com/Kun)

Oleh: Redaksi

SUARAUMAT.com - Laurensius Leba, mantan Katekis Paroki Hati Yesus Hati Maria Boanio, Kabupaten Nagekeo (sebelumnya Ngada) Keuskupan Agung Ende, Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sudah menjadi pewarta sabda membawa misi Kerajaan Allah di bumi khatulistiwa Kalimantan Barat (Kalbar).

Laurens, sapaan karibnya! Bersama sahabatnya, Yakobus Reta yang dulu sama-sama bekerja di Boanio, mereka memutuskan berangkat merantau ke Kalimantan Barat tahun 2000. 

Laurensius Leba (kiri) dan Yakobus Reta (tengah). /Foto Kolase/Suaraumat.com

Di Kalbar Laurens dan Kobus menumpang di rumah paman dari Laurens, Lukas A. Puka yang juga berasal dari Ngegedhawe Kabupaten Nagekeo Flores NTT. "Kami diajak paman saya (baca Lukas A. Puka) ke Kalimantan," ujar Laurens kepada Suaraumat.com. 

Kisah ke Kalbar bermula ketika sang paman berlibur di kampung halaman, Flores. 


Laurens bersama istri dan buah hatinya. /Foto Kolase/Suaraumat.com/Kun

"Saat itu om Lukas sekeluarga berlibur ke kampung halaman setelah puluhan tahun tidak pernah pulang liburan bersama," ungkap Laurens ayah 4 anak. 

Laurens dan Kobus awal meniti karir di bidang pendidikan di Kota Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat dengan status guru honorer di beberapa sekolah di Bumi Uncak Kapuas itu.


Laurens dan aktivitasnya, rumahku istanaku sumber segala inspirasi pelayanan dan pengabdian bagi Tuhan juga masyarakat. /Foto Kolase/Suaraumat.com/Kun

Yakobus Reta yang akrab disapa Kobus saat itu mengajar di SMP PGRI dan di SMAN 1 Putussibau sedangkan Laurens mengajar di SMKN 1 Putussibau dan SMP juga SMA Karya Budi sekolah Katolik yang cukup favorit di Kota Putussibau.

Pada akhir 2003 tepatnya bulan Oktober Laurens dan Kobus mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kota Bengkayang dan lulus. 

Awal tahun 2004 pindah ke Bengkayang dengan mendapat SK tugas di tempat yang berbeda. Kobus di SMPN 1 Jagoi Babang dan Laurens di SMPN 1 Lumar. 

Laurens bersama rekan-rekan guru di SMPN 1 Lumar, Kalimantan Barat. /Foto kolase/Suaraumat.com/Kun

Yakobus Reta mempersunting wanita Dayak untuk menjadi teman menua bersama dan telah dikaruniai 3 buah hati, sedangkan Laurens mengambil istri dari Soa Ngada Flores NTT dan telah dikaruniai 4 orang anak. 

Laurens dan Kobus sudah memiliki tempat tinggal tetap di kota Bengkayang (rumah berdampingan). 

"Selain tugas utama di sekolah, kami juga giat di paroki dan di Stasi dimana kami berada. Semoga misi Kerajaan Allah terus bertumbuh dan berkembang dengan baik dan harmonis di Keuskupan Agung Pontianak Kalimantan Barat," tutur Laurens.

Jalan hidup dua sahabat

Yakobus Reta dan keluarga (kiri). /Foto: Dok. Pribadi
Laurens dan Kobus dari awal sekolah sampai mengenyam pendidikan sarjana strata satu (S1) di sekolah dan perguruan Katolik. 

Laurens lahir di Batakawa, 8 Februari 1969 merupakan alumni SDK Lape di Roe, SMPK St. Yoseph Kalasansa Boanio, Kabupaten Ngada (dahulu) sekarang Nagekeo, dan melanjutkan Pendidikan Guru Agama Katolik (PGAK) St. Petrus Ende serta menamatkan S1 di Sekolah Tinggi Pastoral Atmareksa (STIPAR) Ende, Kabupaten Ende. 

Yakobus Reta bersama istri dan ketiga buah hatinya. /Dok. Pribadi

Sedangkan sahabatnya, Yakobus Reta lahir di Kobakua, Tendatoto Wolowae, dahulu masih Kabupaten Ngada, sekarang sudah pemekaran menjadi Kabupaten Nagekeo, 3 Maret 1969 alumni SDK Wolowajo, SMPK St. Yoseph Kalasansa Boanio, PGAK St. Petrus Ende, dan sarjana dari STIPAR Ende. 

"Kami berasal dari keluarga sangat sederhana dan sangat sulit ekonomi keluarga waktu itu," ujar Laurens. 

Kondisi ekonomi keluarga yang sangat sulit sejak kecil memberi pemahaman lebih kepada Laurens dan Kobus untuk tidak mudah putus asa. 

Berkat kejujuran, ketekunan dan kesabaran serta kerja keras, dua sahabat ini sama-sama menjadi 'pembantu' di Pater Yoseph Wiese, SVD., seorang misionaris Jerman yang lama melayani di Paroki Ndora, Boanio dan juga Wekaseko waktu itu.

Laurens dan Kobus bekerja tanpa pamrih, mereka tidak menuntut banyak hal dari Pater Yoseph. 

"Pada suatu saat ketika saya selesai makan bersama dengan almarhum Pater Yoseph beliau bergurau dengan saya 'apa kamu masih mampu kuliah lagi'!" kisah Laurens.

Malam itu juga Laurens diminta untuk beritahu Kobus yang waktu itu bertugas di paroki Ndora agar sama-sama ke Kupang.

"Kami pergi dan ikut tes masuk di sana namun kami tidak lulus di situ. Kami pulang ke Boanio dan beritahu Pater bahwa kami tidak lulus," kenang Laurens. 

Pater Yoseph tidak marah, bahkan Laurens dan Kobus disuruh pergi ke Ende untuk kuliah di situ.

Tidak sulit bagi kedua sahabat itu untuk diterima di kampus STIPAR karena masih satu yayasan dengan PGAK St. Petrus Ende dan guru atau dosen di STIPAR banyak mereka kenal.

"Semangat hidup rohani saya terbentuk ketika saya sering ikut dengan kakek saya yang juga seorang Imam dari konggregasi Serikat Sabda Allah (SVD) yakni Pater Gaspar Sa, SVD. Setelah tamat PGAK kakek saya titipkan saya bekerja dengan Pater Yoseph Wiese, SVD pastor paroki Boanio waktu itu. Inilah perjalanan hidup kami berdua. Semoga menjadi berkat bagi keluarga dan sesama," ujar Laurens.

Sungguh sebuah perjalanan hidup sebagai misionaris awam yang sangat menginspirasi. Laurens dan Kobus sahabat dalam kemanusiaan sejati yang dipelihara Sang Pencipta. 

"Kisah hidup misionaris awam yang panjang dan penuh liku, kalau mau ditulis semua, bisa satu buku tebal," gurau Laurens.

Perjalanan kisah hidup mereka sampai saat ini telah menjadi saksi kebaikan dan keagungan Tuhan dalam karya pewartaan Injil dan kebenaranNya. 

"Dan tangan Tuhan senantiasa menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan".; (Kisah Para Rasul 11:21).

"Terima kasih Tuhan, terima kasih Pater Yoseph Wiese, SVD dan Pater Gaspar Sa, SVD serta para misionaris awam lain yang tidak disebutkan namanya," pungkas Laurens. Karya Tuhan nyata bagi anak-anakNya, Laurens dan Kobus adalah buktiNya. (*)

Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH