Wae Rebo, Desa di atas awan dan cerita tanpa akhir

Sulit memang diucapkan dengan kata-kata. Situasi yang tenang, dikelilingi bukit-bukit dan diselimuti kabut, seperti negeri di atas awan, dan

Sherly Bhenge (paling kiri) mengunjungi Desa Wisata Wae Rebo. (Foto: Sherly Bhenge)
Penulis: Sherly Bhenge

MANGGARAI, SUARAUMAT.com - Desa Wae Rebo (Wae Rebo Village) yang terletak di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) layaknya sebuah surga di atas awan. 

Sherly Bhenge seorang traveler menulis pengalamannya tentang Wae Rebo untuk Suaraumat.com. 

Kami berangkat ke Wae Rebo di hari Minggu tanggal 27 Februari 2022, sekitar pukul 5.30 pagi WITA dari Kota Bajawa, Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Target kami sampai ke pos satu sebelum pendakian adalah enam jam. Ternyata meleset jauh, karena satu dan lain hal harus singgah dulu di beberapa tempat.

Perjalanan dari Ruteng sendiri sekitar 3-4 jam, jadi kami sampai di pos satu sudah pukul 5 sore.

Dari pos satu sampai ke Wae Rebo sendiri butuh waktu untuk mendaki sekitar 2,5-3 jam, dengan total jarak sekitar 5 Km. Kondisi  jalur pendakian sendiri sebagian sudah disemen dengan batu-batu, tapi sebagian lagi masih tanah. 

Kondisi topografinya juga cukup ekstrim, di sisi kiri jurang, dan di sisi kanan tebing. Jadi memang  agak lama untuk mendaki, karena harus ekstra hati-hati, ditambah kondisi yang sudah gelap. Selama dua jam perjalanan, jalur terus mendaki, namun satu jam sisanya sudah menurun sampai ke Wae Rebo. 

Kami tiba di Wae Rebo sudah pukul 8 malam, jadi tidak ada upacara adat untuk penyambutan tamu, dan langsung diantar ke salah satu rumah. Jumlah tamu hari itu cukup banyak, sekitar 40-50 orang. 

Fasilitas untuk tamu sudah cukup baik. Dalam satu rumah, bisa ditempati sekitar 30-an orang. Ada kasur busa, selimut dan bantal. 

Fasilitas MCK juga sangat bersih dan bagus, dimana sudah menggunakan toilet duduk. Untuk listrik sendiri, karena menggunakan genset, jadi dibatasi dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. 

Cuaca malam hari di Wae Rebo cukup dingin, dengan angin sangat kencang, sampai-sampai saya kira itu suara hujan. 

Berlanjut ke hari berikutnya. Jam 6 pagi sudah banyak tamu yang bangun untuk melihat pemandangan Wae Rebo pagi hari. 

Meskipun masih diselimuti kabut, tapi sudah pada semangat untuk foto-foto. Perlahan matahari mulai muncul, dan memperlihatkan kecantikan kampung ini yang sesungguhnya. 

Sulit memang diucapkan dengan kata-kata. Situasi yang tenang, dikelilingi bukit-bukit dan diselimuti kabut, seperti negeri di atas awan, dan menghadirkan perasaan damai yang berbeda. 

Desa Wae Rebo terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut layaknya surga yang berada di atas awan. (Foto: Sherly Bhenge)
Pagi itu juga kami akhirnya disambut secara adat, yang seharusnya sudah dilakukan ketika tamu datang. Hanya saja karena kami tiba di Wae Rebo sudah pukul 8 malam di hari sebelumnya, jadi baru bisa dilakukan penyambutan pagi itu. 

Bentuk penyambutan yang dilakukan adalah penyampaian dengan kalimat dalam bahasa daerah Manggarai oleh tetua adat untuk meminta izin kepada leluhur agar kami diperkenankan untuk ada di tempat itu dan dijauhkan dari gangguan. 

Menurut informasi dari penduduk asli Wae Rebo, jumlah penghuni yang ada di situ adalah sekitar 180-an orang. Hampir semua penduduknya tidak pernah berpindah tempat tinggal. Hanya sesekali mereka keluar untuk mencari nafkah di daerah lain. 

Sempat juga penasaran bagaimana anak-anak bisa bersekolah jika mereka harus tinggal terus di situ. Ternyata anak-anak bersekolah di sekolah umum,  di SD Lenggos, yang berada di luar kampung ini, dengan jarak mungkin sekitar 7 Km dari Wae Rebo.

Jadi anak-anak sekolah ini akan tinggal sementara di sekitar sekolah mereka, kemudian hari Sabtu atau Minggu mereka akan kembali ke Wae Rebo. 

Untuk keperluan logistik sendiri, penduduk setempat mengangkutnya secara manual dengan berjalan kaki. Tidak bisa dipungkiri, memang cukup berat, mengingat jarak yang sangat jauh dan kondisi jalan cukup ekstrim.

Sepanjang perjalanan pulang, kami juga menemui banyak warga yang mengangkut barang-barang keperluan sehari-hari di Wae Rebo. Luar biasa memang, namun mereka sepertinya sudah terbiasa dengan hal ini. 

Desa Wae Rebo begitu eksotis, UNESCO menjadikannya konservasi warisan budaya Asia Pasifik. (Foto: Sherly Bhenge) 
Wae Rebo mungkin hanya satu dari sekian banyak kampung adat yang ada di Indonesia. Namun originalitasnya mungkin yang membedakannya dari kampung-kampung adat lainnya. 

Saya menyebutnya desa di atas awan yang sangat indah dengan berbagai kisah tanpa akhir.

Dengan tidak pernah berpindah tempat tinggal, penduduknya masih terus dapat menjaga keaslian yang ada di kampung ini. 

Salah satu contoh adalah struktur bangunan yang memang memiliki ciri khas tersendiri. Meskipun saya memiliki sedikit kesan kenapa mereka terisolir, namun mungkin inilah yang membuat keunikan dan keaslian itu tetap terjaga sampai saat ini, dan yang menjadi nilai lebih tersendiri.

Wae Rebo Desa adat terpencil dan misterius di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Di kampung ini hanya ada 7 rumah utama atau yang disebut sebagai Mbaru Niang. 

Soal biaya perjalanan dari Bajawa menuju Wae Rebo Village bisa dikatakan murah. Untuk biaya, karena kami rombongan 14 orang, jadi kami bayar 250 ribu per orang untuk transport. Terus di sana sendiri 325 ribu per orang.

Desa Wae Rebo terletak di sebelah barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur. Untuk menuju lokasi tersebut tidaklah mudah karena berada di atas gunung. (Foto: Sherly Bhenge)

Dengan menikmati keindahan alam dan alami ciptaan Tuhan yang begitu memesona mata dan batin, rasanya tidak rugi merogoh kocek untuk Wae Rebo. 

Bagi para traveler yang berada di luar Flores, kalian bisa cek biaya di situs-situs perjalanan wisata dari kota atau daerah kalian menuju Wae Rebo.

Sebuah pengalaman berwisata yang sangat menyenangkan. Wae Rebo menyimpan kisah cerita tanpa akhir sepanjang hayat. Saya dan rombongan akan kembali menjumpaimu di lain waktu. 

Terima kasih Sang Pemilik Alam Semesta yang sudah menghadirkan Wae Rebo bagi kehidupan manusia.

Alamat: Kampung Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. (*)

Editor: Konradus Pfedhu

COMMENTS

BEST MONTH