ASATI gandeng Disbudpar Aceh berbenah menuju Destinasi Wisata Halal Nusantara Bangkit

"Untuk destinasi wisata halal, Aceh tidak perlu membandingkan dan mengadopsi dari luar. Kearifan lokal yang merupakan jejak leluhur peradaban ini saja

ASATI gandeng Disbudpar Aceh berbenah menuju Destinasi Wisata Halal Nusantara Bangkit
Ketua Umum ASATI, M. Syukri Machmud (tengah) "Destinasi Wisata Halal di Aceh luar biasa, paling lengkap". /Foto: Dok. ASATI

BANDA ACEH, SUARAUMAT.com - Kebanyakan orang Indonesia mengenal Aceh sebagai Serambi Mekah, warganya yang Syar’i dan Islami. Aceh juga merupakan tempat persinggahan sementara sebelum menuju tanah suci, Mekah. Di Tanah Rencong ini julukan Aceh, juga tempat berdirinya Kerajaan Islam pertama di Indonesia, Peureulak dan Pasai. 

Adanya Masjid Raya Baiturrahman (Grand Mosque) dan Masjid Baiturrahim Ulee Lheue (Mosque Ulee Lheue), dua Masjid bersejarah yang tetap tegar dibalik kisah tragis tsunami yang memporak-porandakan. Makam dan Universitas Syiah Kuala, para ulama, pejuang dan pahlawan nasional yang tangguh. 

ASATI gandeng Disbudpar Aceh berbenah menuju Destinasi Wisata Halal Nusantara Bangkit

Aceh Provinsi paling Barat, sangat strategis di Selat Malaka. Menjadi pintu gerbang masuknya wisatawan mancanegara. Anugerah luar biasa yang ada di Aceh ini mesti disyukuri dan diaktualisasikan dalam bentuk kebanggaan karya nyata. 

Ketua Umum DPP ASATI M. Syukri Machmud mengatakan," ditunjuknya Aceh sebagai salah satu dari 5 Destinasi Wisata Halal selain NTB, Sumbar, DKI dan Jabar. Tentu sangat beralasan selain kehidupan sosial masyarakat yang Islami juga telah memiliki Qanun syariat Islam yang didukung regulasi."

Adalah larangan menjual minuman keras, larangan menjual bebas daging babi, larangan berduaan di tempat sepi bagi yang bukan pasangan resmi (pemisahan laki-laki dan perempuan) serta hal-hal lain yang dianggap kriteria pendukung wisata halal. 

Termasuk hukum cambuk yang berlaku sekarang, bisa menjadi pelengkap produk wisata religi unggulan berbasis Muslim Holidays.

Pada Focus Group Discussion (FGD) ke-II terkait penyusunan buku Pariwisata Halal Aceh yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Aceh, Rabu 30 Maret 2022 di hotel Kumala. 

ASATI gandeng Disbudpar Aceh berbenah menuju Destinasi Wisata Halal Nusantara Bangkit

Ketua Umum Asosiasi Sales Travel Indonesia (ASATI) M. Syukri Machmud memberi tanggapan simpatik perihal wisata halal Aceh. 

"Untuk destinasi wisata halal, Aceh tidak perlu membandingkan dan mengadopsi dari luar. Kearifan lokal yang merupakan jejak leluhur peradaban ini saja sudah luar biasa, tinggal dipoles lalu kita packaging, labeling, branding dan selanjutnya jadi produk marketing dengan narasi, literasi dalam bentuk story telling yang menarik," tegas Syukri. 

Kepala Disbudpar Provinsi Aceh, Jamaluddin, SE, Msi., Ak., mengatakan penyusunan buku ini penting dilakukan, karena Aceh daerah syariat yang didukung dengan regulasi. 

"Perlu penerapan kaidah Islam dalam produksi makanan ditempat wisata dan pengembangan wisata,” tegasnya saat sambutan sekaligus memberikan materi. 

ASATI gandeng Disbudpar Aceh berbenah menuju Destinasi Wisata Halal Nusantara Bangkit

Buku tersebut ditulis oleh Dr. Israk Ahmadsyah, Mec., MSc., dan Jalaluddin, ST., MA., sekaligus menjadi pemateri. Dua pemateri lainnya Dr. Iskandarsyah Madjid, MM., dan M. Syukri Machmud.

Sebagai narasumber, Syukri sangat mengapresiasi terobosan cerdas yang dilakukan masyarakat peduli dengan menyusun buku Pariwisata Halal menuju Destinasi Wisata Halal Unggulan Indonesia. 

"Bangsa kita ini terkenal sebagai bangsa tutur, bukan literasi, tidak biasa membuat narasi karena leluhur kita biasa ber-syair, ber-pantun, gurindam dan ber-senandung, banyak jejak peninggalan luhur itu dalam bentuk kearifan lokal yang tertinggal berupa bangunan, artefak, prasasti dan candi. Tidak dalam bentuk naskah dan buku. Maka dari itu penyusunan buku ini akan melengkapi kita untuk menjadi bangsa yang diperhitungkan kembali. Dan saatnya Nusantara Bangkit," lanjut Syukri.

Hanya dengan bertutur, Nusantara yang monotheis (Tauhid) sudah menjadi bangsa tangguh, penguasa 2/3 permukaan bumi yang memiliki peradaban tinggi, bahkan setara dengan peradaban tertua dunia, Mesir kuno. 

"Kita adalah bangsa Arya sang penakluk. Salah satu kuil Mesir kuno yang terkenal, Kuil Hatshepsut mencatat di dindingnya bahwa “Mesir Kuno bangga bermitra dengan Nusantara," jelas Syukri.

ASATI gandeng Disbudpar Aceh berbenah menuju Destinasi Wisata Halal Nusantara Bangkit

Syukri menjelaskan; "Tarian Saman yang fenomenal bersama kompaknya penari dan bergeloranya musik menyambut kehadiran wisatawan dengan nuansa Halal Tourism, selanjutnya wisatawan dapat menikmati destinasi-destinasi yang tersedia seperti; Wisata Religi (peringatan hari besar Islam menjadi khazanah destinasi, tinggal dikemas dengan story telling yang baik, Tradisi Meugang, selama 3 hari sebelum Ramadan dapat dijadikan paket wisata religi menarik), Wisata heritage (bangunan bersejarah dan bernilai), Wisata sejarah (makam pahlawan dan peninggalannya), Wisata Budaya (kehidupan sosial masyarakat setempat), Wisata alam (darat-laut-gunung, pulau Sabang, Takengon danau air tawar dll), Wisata pendidikan (Museum Tsunami yang fenomenal dll), Wisata Agro (coffee trip Gayo). Semua ini dibungkus dengan wisata halal. “Maka akan bersinar pelita penyejuk di ujung Barat negeri bertajuk, Muslim Holiday," pungkas ketua ASATI yang merasa sangat menikmati berada di Banda Aceh.

Dua hal utama dari wisata halal itu adalah, makanan dan jadwal salat, selebihnya mengikuti. "Jadi tidak perlu mengubah standar itinerary yang sudah ada," tutup Akmal Iman, Ketua DPD ASATI Banda Aceh.

Pewarta: Kun/Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH