Elon Musk Khawatir 'Resesi Seks' Ancam Peradaban Bumi, Ungkap Bahayanya: Tandai kata-kataku!

Fenomena resesi seks atau tingkat kesuburan yang rendah sedang melanda beberapa negara di dunia. Baru-baru ini, salah satu negara yang mengalami

Elon Musk Khawatir 'Resesi Seks' Ancam Peradaban Bumi, Ungkap Bahayanya: Tandai kata-kataku!
Elon Musk bersama Tim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia yang dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan dalam pertemuan di Austin, Texas, Amerika Serikat. (Foto: Tangkapan Layar LinkedIn)

SUARAUMAT.com -
Fenomena resesi seks atau tingkat kesuburan yang rendah sedang melanda beberapa negara di dunia. Baru-baru ini, salah satu negara yang mengalami fenomena tersebut adalah Singapura.

Bahkan, hal ini mendapat perhatian salah satu orang terkaya dunia, Elon Musk. Pada bulan Desember, miliarder teknologi itu mengatakan tingkat kelahiran yang rendah dan menurun dengan cepat adalah "salah satu risiko terbesar bagi peradaban".

"Tidak ada cukup manusia. Saya tidak bisa cukup menekankan ini, tidak ada cukup manusia," kata Elon di acara Wall Street Journal, Senin (6/12/2021).

Baca juga: Mempersiapkan generasi penerus bangsa Indonesia bebas stunting sejak pra nikah

Elon menambahkan bahwa terlalu banyak "orang baik dan pintar" yang berpikir bahwa ada terlalu banyak orang di dunia dan bahwa populasi tumbuh di luar kendali.

"Ini benar-benar kebalikannya," ujar Elon, mendesak orang untuk melihat datanya. "Jika orang tidak memiliki lebih banyak anak, peradaban akan runtuh. Tandai kata-kataku."

Sebelumnya, fenomena penurunan angka kelahiran dan kesuburan (fertilitas) terjadi di banyak negara di dunia. Mulai dari Barat ke Asia, dalam beberapa tahun terakhir.

Selain faktor ekonomi, Covid-19 dan perubahan iklim, 'resesi' seks juga menjadi penyebab lainnya. Istilah ini mengacu pada penurunan mood pasangan untuk berhubungan seks, menikah dan memiliki anak.

Di Singapura, penelitian yang dilakukan oleh Rumah Sakit Wanita dan Anak KK (KKH) juga menyoroti bahwa 60% wanita di negara tersebut yang disurvei memiliki fungsi seksual yang rendah.

Baca juga: Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan?

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,6% wanita Asia di Singapura menunjukkan skor kurang dari 22, menunjukkan bahwa mereka berisiko mengalami disfungsi seksual wanita," ungkap penelitian tersebut.

"Wanita-wanita ini juga lebih kecil kemungkinannya untuk mencoba hamil dan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk hamil," kata rumah sakit itu.

Ini juga menjelaskan tingkat kelahiran yang rendah di Singapura. Pada tahun 2021, tingkat kelahiran negara kota itu hanya akan mencapai 1,12 bayi per wanita. Ini sangat rendah dibandingkan dengan rata-rata global 2,3.

Baca juga: Stunting di Timor Tengah Selatan 48,3 persen, tertinggi di NTT bahkan di Indonesia

Sementara untuk menanganinya, pemerintah Negeri Singa telah mengambil beberapa langkah terbaru. Salah satunya adalah mengadakan pembekuan telur.

Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong berharap pembekuan akan memungkinkan wanita untuk hamil bahkan jika tubuh wanita tidak mampu menghasilkan telur.

Konradus Pfedhu, Suaraumat.com

COMMENTS

BEST MONTH