Harga minyak goreng meroket, laba perusahaan melesat rakyat terjerat

Sejak penyakit akibat virus corona (Covid-19) dinyatakan sebagai pandemi, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melonjak sangat tajam dan

Harga minyak goreng meroket, laba perusahaan melesat rakyat terjerat
Ilustrasi buah kelapa sawit. /Pixabay

JAKARTA, SUARAUMAT.com - Sejak penyakit akibat virus corona (Covid-19) dinyatakan sebagai pandemi, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) melonjak sangat tajam dan berulang kali mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Lonjakan harga CPO berdampak ganda, ada yang sangat diuntungkan dan ada yang merugi. Tentu yang paling menguntungkan adalah perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit.

Laba meningkat signifikan, bagi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga sahamnya juga mengalami kenaikan. Bos perusahaan CPO dan pemegang sahamnya semakin kaya.

Namun yang dirugikan adalah masyarakat luas. Harga minyak goreng kelapa sawit meroket gila-gilaan.

Di masa-masa awal pandemi Covid-19, harga CPO sempat anjlok. Pada Mei 2020, harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange untuk kontrak 3 bulan menyentuh harga 1.939 ringgit (MYR) per ton. Namun sejak itu, harga minyak nabati ini terus naik.

Sepanjang tahun 2020, minyak sawit mentah mencatatkan penguatan sebesar 18%, dan pada tahun 2021 melonjak lebih dari 30%. 

Kuartal pertama 2022 adalah puncak dari meroketnya harga, setidaknya untuk saat ini karena tidak menutuk kemungkinan untuk melesat lebih tinggi.

Pada 9 Maret, CPO menyentuh MYR 7.268/ton, tertinggi sepanjang masa, berdasarkan data Refinitiv. Dari posisi akhir tahun 2021 hingga rekor tersebut, CPO melejit lebih dari 55%.

Tren kenaikannya berhenti di rekor tersebut, setelah itu terus menurun dan menutup bulan Maret di MYR 5.705/ton. Dengan demikian, selama kuartal I 2022, CPO meningkat sekitar 21%.

Banyak faktor yang melatarbelakangi lonjakan harga CPO, namun yang utama adalah ketidakseimbangan antara supply dan demand. 

Di masa-masa awal pandemi, Indonesia dan Malaysia sebagai dua produsen utama CPO menerapkan kebijakan social distancing yang ketat. Akibatnya, tingkat produksi menurun.

Namun, permintaan juga mengalami penurunan, karena negara konsumen seperti China dan India juga sudah menerapkan lockdown. 

Seiring berjalannya waktu, China berhasil menahan penyebaran Covid-19, ekonominya perlahan mulai berputar kembali dan permintaan CPO meningkat.

Sayangnya, peningkatan permintaan tersebut belum diimbangi dengan produksi, sehingga harga CPO terus menanjak. 

Kondisi ini diperparah oleh faktor musiman yang membuat tingkat produksi menurun, kemudian masalah logistik, hingga puncak perang antara Rusia dan Ukraina.

CPO sebagai minyak nabati memiliki beberapa substitusi, seperti minyak bunga matahari dan minyak kedelai.

Saat perang antara Rusia dan Ukraina terjadi, pasokan minyak bunga matahari terganggu, karena kedua negara tersebut merupakan produsen terbesar.

Mengutip data Statista, Ukraina memproduksi 17,5 juta metrik ton biji bunga matahari pada musim panen 2021/2022, sedangkan Rusia memproduksi 15,4 juta metrik ton. 

Terganggunya pasokan memaksa konsumen beralih ke minyak sawit yang membuat harga terus melambung tinggi dalam tiga bulan pertama tahun ini.

(Red/Sum)

COMMENTS

BEST MONTH