Jatuh pada 2 April, Hari Peduli Autisme Sedunia, apa tujuannya?

Jatuh pada 2 April, Hari Peduli Autisme Sedunia, apa tujuannya?

Jatuh pada 2 April, Hari Peduli Autisme Sedunia, apa tujuannya?
Mulai sekarang, mari perlakukan anak autis dengan baik! /Pixabay

JAKARTA, SUARAUMAT.com - Sebelum mengetahui tujuan memperingati Hari Autisme Sedunia (Autism Awareness Day) kita simak sejarah singkatnya terlebih dahulu, yuk!

Autisme adalah kondisi neurologis seumur hidup yang bermanifestasi selama masa kanak-kanak.

Hari Peringatan Autisme Sedunia ini digagas oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan masyarakat terhadap hak penyandang autisme agar dapat menentukan arah perkembangannya.

Nah, hari peringatan ini pertama kali dirayakan pada tahun 2008, dan mendapat sambutan luas oleh masyarakat dunia.

Awalnya, negara pertama yang mengusulkan penetapan Hari Peduli Autisme Sedunia adalah Qatar. Negara tersebut memandang orang dengan autisme sering mengalami pengucilan dari masyarakat.

Padahal, dengan dukungan yang tepat, akomodasi dan penerimaan variasi neurologis memungkinkan mereka menikmati kesempatan yang sama dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial, lho.

Oleh karena itu, Hari Peduli Autisme Sedunia dibuat dengan beberapa tujuan.

Lalu, apa tujuan diperingatinya Hari Peduli Autisme Sedunia?

Tujuan Hari Peduli Autisme Sedunia

1. Mengenali Autisme

Tujuan pertama diadakannya perayaan Hari Peduli Autisme Sedunia adalah untuk memperkenalkan autisme kepada masyarakat.

Seseorang dengan autisme biasanya tidak mendengar atau melihat ketika mereka sedang berkomunikasi. Nah, itulah salah satu tanda pengenal di samping gejala lainnya.

Selain itu, umumnya penyandang autisme akan ditandai dengan gejala lain, seperti emosi yang tidak stabil, perilaku yang tidak biasa, atau komunikasi yang sulit dipahami.

Hal ini membuat penyandang autisme dijauhi atau bahkan dihina di masyarakat.

Nah, dengan adanya hari perayaan ini, diharapkan masyarakat dapat merawat penyandang autisme dengan pengobatan atau treatment yang tepat.

Leo Kenner, seorang psikiater dari Amerika Serikat, membuktikan hipotesis bahwa anak autis memiliki kecerdasan normal yang berfungsi dengan baik, tetapi ada hal lain yang membuatnya salah.

Padahal, sejumlah hasil penelitian mengungkapkan bahwa anak autis memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi, lho.

2. Sering Mengalami Bullying

Nah, minimnya pengetahuan terkait autisme di masyarakat menyebabkan seseorang dengan autisme mengalami bullying atau gangguan dari orang lain.

Banyaknya perlakuan yang tidak tepat ini menyebabkan anak autis terhambat untuk mengakses berbagai peluang secara optimal.

3. Edukasi Cegah Autisme Sejak Dini

Nah, selain untuk mengedukasi masyarakat dan melindungi penyandang autisme, peringatan ini juga diperingati untuk mendeteksi autisme pada ibu hamil.

Kementerian Kesehatan telah melakukan beberapa upaya untuk mencegah dan mengendalikan Gangguan Spektrum Autisme dengan beberapa cara.

Diantaranya melakukan tindakan preventif dengan melakukan deteksi dini, melaksanakan pelatihan keterampilan bagi guru dan remaja serta pola asuh bagi orang tua.

Selain itu, Kemenkes juga memberdayakan peran keluarga, guru, dan masyarakat umum untuk mencegah dan mendeteksi dini gejala autisme agar segera dilakukan tindakan.

Nah Sobsum, itulah tujuan dari Hari Peduli Autisme Sedunia.

Yuk mulai sekarang, mari perlakukan anak autis dengan baik!

Pewarta: Kun/Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH