Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan?

"Stunting berbahaya, bila tidak diurus sekarang, pada 15-20 tahun ke depan, kita akan menghasilkan serombongan generasi "planga plongo", "zeta lau", "

Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan?
Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja (ketiga dari kiri) salah seorang Pembicara. /Foto: STS

BOAWAE, SUARAUMAT.com -
Kabag Humas Setda Kabupaten Nagekeo, Silvester Teda Sada, mengatakan dalam acara "Bedah Sebab-sebab Stunting" yang berlangsung di Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (21/4/2022). 

"Stunting berbahaya, bila tidak diurus sekarang, pada 15-20 tahun ke depan, kita akan menghasilkan serombongan generasi "planga plongo", "zeta lau", "gu ge", "dhora dhambi," ujarnya dalam bahasa daerah Negekeo. 

Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan?

Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan?
Bedah sebab-sebab stunting di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT. /Foto: STS

Terjemahan bebasnya, stunting menghasilkan generasi yang memprihatinkan dalam semua aspek kehidupan di masa depan sang anak atau generasi tersebut, karena sama sekali tidak bisa diandalkan dan diharapkan.

Baca juga: Stunting di Timor Tengah Selatan 48,3 persen, tertinggi di NTT bahkan di Indonesia

Stunting adalah kondisi bayi yang kurang sehat, lemah, tidak berimbang antara usia, tinggi badan dan berat badan. Mulai dari ASI (air susu ibu) yang kurang diberikan pada 6 bulan pertama.

Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan?
Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan? /Foto: STS

Mengapa bisa terjadi? Dalam acara tersebut, masing-masing desa diminta bedah satu per satu; siapa nama anak stunting, dari kampung mana, siapa orang tuanya, kerja di mana, bagaimana kondisi ekonominya, bagaimana status perkawinannya, bagaimana kondisi kesehatan ibunya, dsbnya.

Proses bedah soal sebab-sebab stunting dipimpin dan dipandu langsung Wabup Nagekeo, Marianus Waja. Ternyata ada fakta yang muncul; Anak stunting muncul dari orang tua, mama yang sibuk ingat kebun, ingat kantor. Ada yang guru, ada yang pegawai desa, dan ada yang bekerja sebagai pegawai tetap di bank nasional.

Baca juga: Presiden Jokowi Tinjau Sumur Pompa Hidram di Desa Oinlasi, TTS Timor NTT

"Selain itu, anak stunting lahir sebagai anak mama, karena bapak yang tidak bertanggung jawab; anak stunting muncul dari keluarga yang belum diselesaikan urusan adat perkawinannya, dan belum nikah gereja dengan 1001 macam alasan," urai Sil seperti dilansir dari akun Facebook pribadinya.

Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan?
Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan? /Foto: STS

Beberapa catatan penting yang dapat dipahami dan ditindaklanjuti yakni anak stunting  dari keluarga yang status pernikahannya tidak jelas, belum tercatat sebagai KK mandiri, masih tinggal bersama orang tua, anak stunting, muncul dari pola asuh yang konyol seperti; ASI tidak diberikan rutin (minimal tiap 2 jam), malah anak dititipkan di nenek atau kakak atau adik.

Selanjutnya anak stunting karena sang ibu memberikan ASI ketika bayinya menangis, dsbnya. 

Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan?
Silvester Teda Sada: Stunting berbahaya bila tidak diurus sekarang, 15-20 tahun ke depan? /Foto: STS

"Di sini, Kepala Desa, Lurah sebagai pemimpin terdekat, dibantu ibu/ bapa bidan desa, bertugas melakukan DETEKSI DINI, dan memberi penanganan segera," ujar Sil menegaskan.

Lanjut Sil, intervensi sektoral dituangkan dalam rencana aksi TIM Percepatan Penurunan Angka Stunting, yang dikomandoi Kepala P2KB (BKKBN) Nagekeo, Seli Seda.

Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH