Bangsa Indonesia Dibentuk Dari Masyarakat Gotong Royong, Bagian IV: Perjumpaan Dengan Peradaban Barat

Perjumpaan dengan peradaban Barat diawali dengan perdagangan, berlanjut ke penjajahan dan pekabaran Injil.

Bangsa Indonesia Dibentuk Dari Masyarakat Gotong Royong, Bagian IV, Perjumpaan Dengan Peradaban Barat
Gereja Kristen Protestan GBIP Immanuel Kota Lama dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk, terlihat mencolok dibanding bangunan lainnya di Semarang. Gereja itu merupakan peninggalan Belanda yang masih asli. (TEMPO/Fitria Rahmawati)

Oleh: Dr. Merphin Simanjuntak, M.Si

SUARAUMAT.com - Perjumpaan dengan peradaban Barat diawali dengan perdagangan, berlanjut ke penjajahan dan pekabaran Injil. Pada masa modern awal (Early Modern Period), bangsa-bangsa Barat mulai memasuki Asia. Kegiatan perdagangan yang pada mulanya terbatas di Laut Tengah, mulai berubah ketika bangsa Portugis mengembangkan teknologi maritim. 

Kapal layar yang tadinya digunakan untuk pelayaran sekitar Laut Tengah diperbarui menjadi caravel dengan dua atau tiga tiang layar, agar dapat digunakan untuk pelayaran lintas benua. 

Bangsa Portugis menyadari bahwa kekayaan alam Afrika (terutama emas) dan Asia (terutama rempah-rempah) dapat mendatangkan keuntungan besar. 

Kapal dagang Portugis dilengkapi dengan senapan dan meriam. Portugis tidak lama berkuasa di Nusantara karena kalah bersaing dengan Belanda.

VOC dinyatakan bangkrut tahun 1799, dan sejak itu kekuasaannya diambil alih oleh Kerajaan Belanda. Pada waktu itu belum semua daerah di Nusantara dikuasai oleh Belanda.

Masih banyak daerah di luar Jawa baru dikuasai dalam abad ke-19 dan awal abad ke-20. Minangkabau dikuasai Belanda setelah perang Padri berakhir tahun 1837; tanah Batak yang mulai dimasuki tahun 1841, dan dikuasai setelah menaklukkan orang Batak Toba tahun 1883; Lombok mulai dimasuki 1843, dan dikuasai setelah perang sengit tahun 1894; Bali dimasuki tahun 1814, dan dikuasai setelah pertempuran di Badung tahun 1906; dan Aceh dapat dikuasai Belanda setelah menyelesaikan perang selama 30 tahun, dari tahun 1873 hingga 1903. 

Perlawanan bersenjata secara tradisional timbul hampir di seluruh Indonesia, tetapi Belanda dapat memadamkannya dengan kekuatan militer berteknologi perang modern.

Perjumpaan masyarakat gotong royong dengan peradaban Barat, terjadi dalam dua bentuk yang sangat berbeda 

Pertama, dalam bentuk perdagangan rempah-rempah, yang kemudian secara bertahap berubah menjadi penjajahan, dan berlangsung ratusan tahun.

Penjajahan ini menimbulkan banyak penderitaan di kalangan masyarakat luas, tetapi juga menghasilkan kemajuan ilmu, teknologi dan seni. Banyak orang Indonesia menjadi pintar, seperti R.A. Kartini, Soekarno, Hatta dan Supomo. 

Kaum pergerakan Nasional mengintegrasikan cara hidup gotong royong masyarakat Nusantara dengan ideologi Nasionalisme dari Barat, dan menghasilkan kesadaran bersama, bahwa masyarakat Nusantara adalah satu bangsa, yaitu Bangsa Indonesia, dan berhak menjadi bangsa merdeka, dan mendirikan satu negara berdaulat.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya, gubahan W.R. Supratman, adalah jiwa dan semangat Indonesia yang dijalin dengan musik Barat. Raden Saleh menjadi pelukis terkenal; dan seterusnya.

Kedua, dalam bentuk pekabaran Injil (PI) di berbagai daerah pedalaman, berlangsung ratusan tahun, dengan berbagai bentuk kegiatan, antara lain, pengajaran agama, pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Pekabaran Injil menghasilkan kemajuan pendidikan, pekerjaan dan kehidupan masyarakat setempat, dan sebagian warga masyarakat Indonesia menjadi penganut agama Kristen Protestan dan Katolik.

Semua kemajuan tadi, apakah kemajuan akibat efek samping penjajahan, maupun kemajuan sebagai hasil langsung pekabaran Injil, dan berbagai kemajuan lainnya, berintegrasi menjadi satu kekuatan, yaitu kekuatan nasional Indonesia, dari Sumatera di Barat hingga Papua di Timur, yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, dan kemudian dilanjutkan dengan mendirikan negara Republik Indonesia.

Pekabaran Injil adalah jawaban Gereja dan orang percaya terhadap panggilan Tuhan, untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus kepada semua bangsa; mengajarkan perintah Tuhan kepada mereka. 

Kepada orang percaya yang menjalankan perintah ini diberikan kuasa sebagai saksi-Nya di mana pun mereka itu berada.

Perintah ini berlaku sampai sekarang, dan akan terus berlaku di segala waktu dan di semua tempat. 

Pekabaran Injil di Indonesia telah berlangsung selama berabad-abad, dan hasilnya jutaan warga gereja yang berhimpun dalam ratusan organisasi gereja, tersebar di seluruh Indonesia. 

Kemajuan ini adalah berkat Tuhan untuk Indonesia, bangsa merdeka yang berhasil menyelenggarakan Negara Republik Indonesia.

Para Pekabar Injil datang ke Indonesia

Para Pekabar Injil dari Eropa datang ke Indonesia, ikut serta dalam kapal-kapal dagang. 

Dimulai pada akhir abad ke-15 oleh Spanyol dan Portugis, dan kemudian diikuti oleh Belanda, Inggris, Prancis dll. Tahun 1546-1547 Fransiskus Xaverius bekerja di Maluku. 

Tahun 1561 NTT menjadi daerah misi Ordo Dominikan. Tahun 1605 Benteng Portugis di Ambon diserahkan kepada VOC, dan warga Katolik dijadikan Protestan. 

Tahun 1666 VOC membangun benteng di Menado, warga Katolik menjadi Protestan. Tahun 1823 Joseph Kam mengunjungi Maluku Selatan. Tahun 1831 Zending menetap di Minahasa, dan tahun 1836 Zending menetap di Kalimantan. Tahun 1843 sejumlah orang Jawa dibaptis di GPI Surabaya. 

Tahun 1845: Mojowarno didirikan. Tahun 1861 baptisan pertama di Tapanuli Selatan. Tahun 1862 Nommensen tiba di Sumatera. Tahun 1865 RMG mulai bekerja di Nias. Tahun 1866 UZV mulai bekerja di Bali dan Halmahera. Tahun 1890 NZG mulai bekerja di Tanah Karo. 

Tahun 1901 RMG mulai bekerja di Mentawai. Tahun 1927 Huria Christen Batak, yang kemudian berubah menjadi Huria Kristen Indonesia (HKI) berdiri, 1931 GKJ dan GKJW mandiri, 1933 KGPM berdiri, 1934 GMIM, GKP, dan GKI Jatim mandiri, 1935 GPM dan GKE mandiri. 

Juli 1940 HKBP mengadakan “Sinode Kemerdekaan” dan memilih Pendeta K. Sirait menjadi Ephorus yang pertama dari suku Batak, 1947, GMIT, GKS, GMIST, GT, dan GKST mandiri, dan 1948 pembentukan GPIB. Pada 25 Mei 1950 Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), yang kemudian berubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), didirikan.

Pada 1860 Kristen Protestan di Indonesia antara 100.000- 120.000 orang, kurang dari 1 % penduduk Indonesia. Masyarakat Kristen Protestan pribumi di Indonesia telah hadir di Maluku, Minahasa, Sangir Talaud, dan NTT. 

Belum ada masyarakat Kristen pribumi di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Jumlah warga Kristen pribumi di masing-masing wilayah tersebut hanya ratusan orang. 

Tahun 1938 Kristen Protestan di Indonesia: 1.665.771 orang, sekitar 2,5 % penduduk Indonesia, terdiri dari: GPI: 700.000 orang; HKBP: 415.000; Nias: 125.000; Sangir Talaud: 120.000. Pulau Jawa: 98.000, termasuk GPI: 27.000. 

Kristen telah menyebar ke seluruh Nusantara. Lebih dari setengah warga Kristen Indonesia tinggal atau berasal dari daerah yang telah menjadi Kristen di masa VOC, dan sepertiga warga Kristen Indonesia adalah anggota gereja-gereja yang lahir dari RMG. 

Tahun 2010 Penduduk Indonesia: 237,5 juta; penduduk Pulau Jawa: 58% dari penduduk Indonesia; Kristen Protestan diperkirakan sekitar 10 persen. Kristen Protestan di Indonesia tahun 1860 kurang dari 1 %, 1938 sekitar 2,5 %, dan 2010 sekitar 10 %.

Kristen Protestan di Jawa juga berkembang dengan cepat. A. Kruyt (di Mojowarno 1882-1916) menyatakan: Apabila waktu yang ditetapkan Tuhan telah tiba, maka orang banyak bahkan para pembesar pun akan datang kepada Tuhan, lalu pulau Jawa akan memasuki masa serba indah dan serba gemilang. Selanjutnya akan disajikan beberapa orang Penginjil yang melayani di Indonesia.

Pelayanan pekabaran Injil Pendeta (Pdt) J.F. Riedel

Pada tahun 1831, Pdt. J.F. Riedel dan Pdt. Schwarz tiba di Minahasa setelah selama satu tahun menerima bimbingan dari Pdt. Joseph Kam di Ambon. Mereka bertugas mengabarkan Injil kepada warga masyarakat yang masih menganut agama suku, sedangkan GPI memelihara jemaat lama dari masa VOC. 

Pdt. J.F. Riedel adalah seorang Jerman, berasal dari keluarga yang setia kepada gereja negara tetapi juga mengalami pengaruh Pietisme. Pdt.J.F.Riedel menetap di Tondano, karena ia ingin fokus di wilayah ini. Ia sering mengundang beberapa orang warga setempat. Mereka berbicara tentang kebun, tanaman, usia tua dan remaja. 

Istri Riedel menyediakan kopi dan kue. Pertemuan ini pada awalnya tidak seperti pertemuan agama. Kemudian pertemuan ini dilanjutkan pada suatu hari Minggu, dan dalam pertemuan ini Pdt. Riedel mulai bicara tentang agama Kristen.

Kopi dan kue masih tetap disuguhkan. Setelah beberapa kali pertemuan Minggu, dan pengunjung telah cukup banyak, hidangan kopi dan kue dihentikan. 

Pertemuan sudah menjadi persekutuan Kristen, dan Pdt. Riedel mulai khotbah. Oleh karena kopi dan kue telah dihentikan, banyak pengunjung tidak datang lagi, tetapi banyak juga yang tetap hadir karena ingin mendengar khotbah.

Banyak warga menyukai pertemuan Minggu ini, dan mereka tetap datang pada Minggu berikutnya. Mereka berdoa, bernyanyi lagu gereja dan mendengarkan khotbah. 

Peserta ibadah Minggu semakin banyak, dan Pdt. Riedel memilih beberapa warga jemaat yang terbaik menjadi pembantu untuk mengumpulkan warga sekitarnya. Mereka dilatih dan dipersiapkan untuk mengikuti baptisan. 

Pdt. Riedel juga mempunyai kebiasaan jalan-jalan pagi, antara pukul lima hingga pukul tujuh. Sebentar-sebentar dia berhenti, menyapa dan ngobrol dengan seseorang; dia menyapa warga masyarakat yang masih menyembah berhala; dia juga berkunjung ke rumah-rumah warga di sekitarnya.

Pdt. Riedel tampak seperti seorang “bapak” yang mengunjungi “anak-anaknya. Pada tahun 1834 mulai ada warga Tondano yang dibaptis oleh Pdt. Riedel, di antaranya seorang tokoh agama suku (walian).

Melalui penginjilannya jumlah orang Kristen meningkat pesat, dan setelah 8 tahun perlu didirikan gedung gereja baru dengan 800 tempat duduk. Begitu banyaknya peserta baptisan, hingga Pdt. Riedel mendapat teguran dari NZG, karena ia dianggap terlalu mudah membaptis orang. 

Sekitar tahun 1850, 70 persen penduduk Tondano telah dibaptis; dan Pdt. Riedel menjawab: “Saya tidak menyesal bahwa saya telah melayankannya kepada banyak orang, sebab baptisan ini menjadi dasar untuk menegur mereka dengan mengingatkan mereka akan perjanjian babtisan.” 

Yang dimaksud dengan “perjanjian baptisan” bukan janji Allah, yaitu bahwa Ia akan setia pada perjanjian yang diikat-Nya dengan kita dalam baptisan tersebut, melainkan adalah janji si calon baptisan, yaitu bahwa untuk selanjutnya ia akan setia kepada Kristus dalam kepercayaan dan kehidupannya.

Pdt. Ludwig Ingwer Nommensen (1834-1918) berasal dari keluarga petani miskin di Jerman Utara, dan dibesarkan dalam lingkungan pengaruh pietisme.

Pada tahun 1862 ia mendarat di Padang, dan sesuai dengan pesan RMG ia menetap di Barus. Tetapi karena Barus terletak di pinggir wilayah Batak, ia mendesak agar boleh pindah ke pedalaman; dan akhirnya Residen mengabulkan permohonan, dan memberi izin menetap di Silindung. 

Nommensen menetap dan melayani di tengah masyarakat Batak, yang pada waktu itu masih sering mengadakan perang antarkampung. 

Bisa saja di tengah perjalanan Nommensen bertemu dengan orang menenteng kepala manusia yang baru dipenggalnya. Orang-orang Kristen pertama diusir dari kampung halamannya, karena tidak lagi mau membayar sumbangan untuk upacara agama suku; dan untuk mengatasi masalah ini, Nommensen mengumpulkan mereka di kampung sendiri, yang diberi nama Hutadame.

Ribuan manusia yang menjadi Kristen kehilangan tatanan hidup lama, dan untuk menutupi kekosongan itu, Nommensen segera menetapkan tatanan hidup baru; dan pada tahun 1866, dua tahun setelah melayani di Silindung, Nommensen menetapkan aturan Jemaat.

Peribadatan dalam lingkungan keluarga diatur dengan teliti; orang Kristen berdoa pada waktu bangun tidur, sebelum tidur malam, serta sebelum dan setelah makan. Jemaat Hutadame yang masih kecil itu memiliki 4 sintua, 3 diaken, 1 diakones dan 1 guru TK. 

Pada awalnya, rekan-rekan Nommensen dan juga pimpinan Zending di Barmen waswas menghadapi arus ribuan orang Batak masuk gereja; tetapi Nommensen menjawab: “sudah waktunya menggunakan jala, bukan kail.” 

Di dalam wilayah pengaruhnya tidak ada orang diterima sebagai calon baptisan, dan juga tidak diadakan pemisahan sakramen. Pada tahun 1881, RMG mengangkat Nommensen menjadi Ephorus, dan jabatan ini dipegangnya hingga ia meninggal pada 23 Mei 1918; dan masyarakat Batak memberi ia gelar Ompui. 

Setelah 7 tahun menjalankan penginjilan, orang Kristen Batak berjumlah 1.250 jiwa, dan pada tahun 1918, jumlah orang Kristen di wilayah kerja RMG 185.731 jiwa.

Pekabaran Injil di Jawa Tengah

Tunggul Wulung (1803-1885) berasal dari daerah Juwono dekat gunung Muria. Pada masa itu penduduk Jawa Tengah mengalami kesulitan ekonomi, dan Tunggul Wulung berkenalan dengan agama Kristen. 

Pada tahun 1853 Tunggul Wulung muncul di Mojowarno, dan 2 tahun kemudian ia dibaptis oleh Jellesma. 

Setelah itu ia mengadakan perjalanan PI ke Pasuruan, Malang, Rembang, kawasan gunung Muria, dan kemudian juga Jawa Barat. Di beberapa tempat ia menjadi perintis jemaat-jemaat Kristen baru. 

Pada waktu itu, pemerintah Hindia Belanda dan juga para zendeling menilai negatif pekerjaan Tunggul Wulung. 

Kekristenan Tunggul Wulung dianggap sinkretis dan berisi unsur-unsur Jawa; misalnya, mengobati orang sakit seperti cara dukun, dengan menggunakan Doa Bapa Kami seperti mantera. 

Pemerintah Hindia Belanda takut penyiaran agama Kristen oleh Tunggul Wulung akan menimbulkan gangguan keamanan; dan para pengikut Tunggul Wulung juga mengharapkan pembebasan dari kerja rodi.

Tunggul Wulung memperlihatkan harga diri yang cukup besar, ia tidak mau berjongkok bila berhadapan dengan orang Eropa, apalagi kalau orang tersebut seorang utusan zending. 

Walaupun menghadapi berbagai hambatan, Tunggul Wulung terus berkeliling menjalankan PI, selama 20 tahun. Dan pada waktu ia meninggal dunia, pengikutnya dalam arti sempit saja ditaksir lebih dari seribu orang.

Fakta di atas memperlihatkan bahwa kehadiran Gereja-gereja di Indonesia adalah hasil kerja para Penginjil yang diutus oleh berbagai lembaga penginjilan di Eropa dan Penginjil Lokal, seperti Tunggul Wulung, yang adalah berkat Tuhan untuk Indonesia. 

Pekabaran Injil di Indonesia telah berlangsung selama berabad-abad, dan hasilnya jutaan warga gereja yang berhimpun dalam ratusan organisasi gereja, tersebar di seluruh Indonesia. 

Kemajuan ini adalah berkat Tuhan untuk Indonesia, bangsa merdeka yang berhasil mendirikan negara-bangsa Republik Indonesia, suatu negara besar di Asia Tenggara.

Negara-bangsa yang demokratis, yang menghormati hak-hak asasi manusia, termasuk hak kebebasan beragama. 

Warga masyarakat Indonesia banyak yang menjadi pengikut Yesus Kristus, pada awalnya terutama warga masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman, yang jauh dari pusat-pusat peradaban, dan dari sana menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Pemahaman bersama iman Kristen Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia pasal 20 menyatakan bahwa Tuhan sendiri menempatkan Gereja di Indonesia untuk melaksanakan tugas panggilanNya di tengah bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berdaulat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang diyakini sebagai anugerah Tuhan. 

Kehadiran Gereja-gereja di Indonesia merupakan pengutusan Tuhan sendiri agar Gereja-gereja secara aktif mengambil bagian dalam mewujudkan perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaanNya di Indonesia.

BERSAMBUNG...

Editor: Konradus Pfedhu

COMMENTS

BEST MONTH