Fenomena Wabah Virus PMK Pada Ternak, Adi Supriadi: Keanehan Jelang Hari Raya Kurban

Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK pada hewan ternak semakin mewabah di Indonesia akhir-akhir ini. Menarik untuk dilihat adalah fenomenanya baru ramai

Fenomena Wabah Virus PMK Pada Ternak, Adi Supriadi Keanehan Jelang Hari Raya Kurban
Penyerahan sapi Banpres oleh Wagub H. Edy Pratowo, A.n. Gubernur Kalteng H. Sugianto Sabran di Kapuas. [Foto: Asef]

JAKARTA, SUARAUMAT.com -
Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK pada hewan ternak semakin mewabah di Indonesia akhir-akhir ini. Menarik untuk dilihat adalah fenomenanya baru ramai tanggal 3 Mei 2022 sehari setelah Idulfitri, dan 2 bulan jelang Iduladha.

PMK atau dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) dan Apthtae Epizooticae adalah penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan virus.

Analis dan Pengamat Masalah Sosial Politik dan Keagamaan, Adi Supriadi menilai seperti ada yang aneh dengan kondisi ini. Ia bertanya, mengapa hebohnya sehari setelah Idulfitri dan 2 bulan jelang Iduladha atau Hari Raya Kurban.

"Aneh aja! Ini seperti teror yang dapat mematikan usaha para peternak, siapa yang membuat ini, sebenarnya sangat mudah terbaca, jika berkaca dengan kasus-kasus serupa terkait isu masif di Indonesia," ujar Adi Supriadi melalui keterangan tertulis yang diterima Suaraumat.com.  

Aktivis dan Penggiat Media Sosial ini juga menuliskan analisisnya di akun Twitternya @coachaddie_off pada Senin, 16 Mei 2022 dengan menyatakan bahwa virus dan bakteri apa pun bisa diriset dan bisa dibuat dan bisa disebarkan sesuai kebutuhan mereka yang memiliki kepentingan terhadap virus dan bakteri ini. 

Motifnya adalah pembatasan distribusi hewan ternak petani antardaerah, sehingga ada keterbatasan stok hewan ternak di daerah-daerah tertentu.

"Virus dan bakteri itu bisa dikreasikan oleh tim peneliti yang ahli dalam bidangnya, bukan serta merta datang dari Tuhan, tetapi bisa manusia ciptakan karena masuk ranah sains. Kondisi inilah di berbagai negara menjadikannya sebagai alat ekonomi untuk membuat pemilik modal hasil riset tersebut menjadi kaya-raya, sehingga dengan kekayaannya bisa mengendalikan pengelola negara baik di level nasional maupun daerah," papar Adi. 

Seperti diketahui bahwa ciri-ciri hewan yang terpapar PMK yaitu mulut berbusa, dan berliur kemudian suhu tubuh hewan mencapai 41 derajat celcius, dan hewan cenderung untuk rebahan. Dampaknya bisa menyebabkan hewan mati, karena tidak nafsu makan dan tidak bisa berdiri karena kaki sakit.

"Siapa yang punya kepentingan terhadap menyebarnya virus ini! Jelas mereka pemilik modal dalam hal impor sapi, cukong-cukong impor yang merasa terganggu atau tidak mendapatkan keuntungan maksimal jika dalam perayaan Hari Kurban banyak umat Islam yang berkurban hanya membeli dari peternak kampung, atau hasil peternakan lokal, jelas Adi Supriadi lagi 

Ia melanjutkan bahwa dengan adanya virus PMK ini yang dapat membuat hewan ternak mati atau sakit yang tidak mungkin jadi hewan kurban maka dengan otomatis hewan ternak akan mahal. Kekhawatirannya turunnya tingkat kepercayaan pembeli hewan kurban pada peternak lokal, jika kasus kematian hewan kurban terus meningkat. 

"Dampak buruknya adalah hewan ternak menjadi langka. Peternak lokal tidak bisa menjual hewan ternaknya. Para pemberi kurban turun drastis dan mengalami ketakutan serta tidak percaya pada hewan ternak dari peternak lokal. Saking mahalnya nanti para pemberi kurban membatalkan niat berkurban, otomatis peternak rugi, dan umat Islam mengalami kerugian," ujar Adi Supriadi menjelaskan. 

Ketika hewan ternak langka dan mahal, peternak lokal akan menurun penjualannya, di sisi lain kaum oligarki dengan para cukong impor yang diduga dibalik penyebaran wabah ini, memberikan alternatif “Binatang Ternak Sehat” hasil impor dari negara lain. 

Dalam hal ini Pemerintah melalui Kementerian Pertanian, Menteri Perdaganghan dan Bulog menyatakan telah membuat alternatif bagi para pekurban yang mau berkurban pada Iduladha 1443 H. 

Fenomena Wabah Virus PMK Pada Ternak, Adi Supriadi: Keanehan Jelang Hari Raya Kurban
Adi Supriadi. [Dok.Istimewa]

"Semua ini mamang bisnis, virus itu bisnis, vaksin itu bisnis, kelangkaan kebutuhan pokok itu bisnis, lagi-lagi petani dan peternak pribumi gigit jari, mengalami kerugian dan pemiskinan secara masif dan struktural, belum lagi modal pengembangbiakan hewan ternak potong sangat mahal, baik pakan, jamu atau vitamin buat hewan ternak tersebut," katanya. 

Kondisi ini sudah seperti lingkaran setan di negeri yang oligarki, dimana pengelola negara diduga bekerja untuk kaum oligarki berdasarkan perjanjian pemilu antara pemilik modal, pengelola negara dan ilmuwan yang serakah dalam hidupnya. 

"Kita hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT dalam kondisi seperti ini. Bukan pesimis tetapi sulit untuk nasib Bangsa ini berubah ketika pengelola Negara dari tingkat Nasional sampai daerah dikendalikan oleh para pengusaha/cukong yang membiayai politik mereka sebelum menjabat," tutupnya.

[kp]

COMMENTS

BEST MONTH