Heboh! Remaja Putri Bisa Jalan Lagi Setelah Menerima Vaksin Nusantara Dokter Terawan

Baru-baru ini media dihebohkan dengan seorang remaja wanita yang dikabarkan bisa berjalan kembali usai menerima vaksin Nusantara dari Dokter (dr)

Remaja Putri Bisa Jalan Lagi Setelah Menerima Vaksin Nusantara Dokter Terawan
Foto: Dok. Twitter @gantinamaakunnn.

SUARAUMAT.com -
Baru-baru ini media dihebohkan dengan seorang remaja wanita yang dikabarkan bisa berjalan kembali usai menerima vaksin Nusantara dari Dokter (dr) Terawan Agus Putranto di RSPAD Gatot Soebroto, melansir detikHeatlh, Sabtu, 30 April 2022.

Dalam video dari akun Twitter @gantinamaakunnn, terlihat jelas seorang gadis berusia 13 tahun bernama Vanessa sudah bisa berjalan kembali setelah menerima vaksin Nusantara buatan Dokter Terawan Agus Putranto. 

Video tersebut menunjukkan Vanessa berterima kasih kepada dr. Terawan dan dokter Terawan menjawab dengan mengatakan "You are strong." Kejadian ini terekam di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, pada Jumat, 8 April 2022.

Video tersebut berasal dari pihak RSPAD Gatot Soebroto untuk dimasukan dalam jurnal internasional untuk membantu pasien lain yang mengalami hal serupa terkait kasus Vanessa. 


"Iya, jurnal case report, harus. Internasional jurnal itu harus diterbitkan," ucap Dokter Terawan. 

Video berdusari 1 menit 41 detik tersebut mengundang kontroversi bagaimana tidak, pasalnya usai mendapatkan vaksin Nusantara Vanessa dapat berjalan lagi dan melakukan tahap pemeriksaan melalui pengambilan darah untuk diinkubasi dengan reagen vaksin Nusantara.

Dengan adanya fenomena tersebut masyarakat mulai mencari tahu terkait vaksin Nusantara. 

Dilansir dari Tempo.co berikut adalah fakta menarik dari vaksin Nusantara yang wajib kalian ketahui. 

1. Akses masyarakat bebas terbatas. Hal ini dikarenakan vaksin Nusantara bersifat autologus sehingga tidak diperjualbelikan. Vaksin Nusantara bisa didapatkan pada pelayanan berbasis nelitian yang bersifat terbatas.

2. Memiliki sifat individual. Materi pembawanya yaitu diri sendiri, sehingga tidak bisa diberikan untuk orang lain karena produknya hanya bisa digunakan untuk diri pasien sendiri.

3. Berbentuk dendritik. Memiliki sifat kekebalan yang adaptif sehingga mampu beradaptasi dengan berbagai jenis virus baru di dalam tubuh.

4. Sudah dilakukan penelitian. Hal ini karena penelitian dengan autologus sudah disepakati oleh Kementerian Kesehatan dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan TNI AD. Kesepakatan tersebut ditetapkan pada bulan April 2021 sebagai riset yang berjudul “Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2”.

5. Sebelumnya bernama ‘Joglosemar’. Vaksin Nusantara sebelumnya bernama ‘Joglosemar’ digarap oleh PT. Rama Eemerald Multi Sukses dan bekerja sama dengan AIVITA Biomedical Inc. yang merupakan perusahaan AS pemasok teknologi dentrintik.

6. Masih diperbincangkan dunia. Dr. Terawan menyebutkan pada bulan Juli 2021 tahun lalu Vaksin Nusantara sudah dipublish dalam jurnal international PubMed yang ditampilkan pada webinar eks Menkes terkait vaksin Nusantara yang dijadikan ‘the beginning of the end’ dari penyakit COVID-19.’ Namun klaim tersebut dibantah oleh Dr. Ines Atmosukarto seorang peneliti vaksin dan doktor spesialis Biokimia dan Biologi Molekuler dari Universitas Adelaide Australia. Beliau menjelaskan bahwa jurnal tersebut hanya berisikan hipotesis terkait kemungkinan efektivitas melawan virus Corona. “Jadi sifatnya spekulatif tidak didukung pembuktian,” ucap Dr. Ines.

7. Disebut mampu mengatasi varian baru. Dr. Terawan mengatakan, vaksin Nusantara berbasis sel dendritik berpotensi mengatasi mutasi atau jenis varian baru dari Covid-19.

8. Belum BPOM. BPOM beranggapan vaksin Nusantara tidak sesuai dengan kaidah klinis dan tidak memenuhi kriteria dari pengembangan vaksin. Hal ini yang melatarbelakangi BPOM tidak memberikan izin “Itu namanya vaksin terapi, jadi bukan vaksin yang seperti biasa. Uji klinik berbasis pelayanan, hanya di fasilitas pelayanan,” ucap Penny Lukito selaku Kepala BPOM. 


Editor: Konradus Pfedhu

COMMENTS

BEST MONTH