Terperangkap Dalam Keterbelakangan Menuju Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan, Sebuah Catatan Terbuka Merphin Panjaitan Untuk Para Pimpinan Parpol

Merphin Panjaitan menyampaikan suatu gagasan kepada para pimpinan partai politik (parpol) di Indonesia. Hal tersebut saya lakukan sebagai salah satu..

Terperangkap Dalam Keterbelakangan Menuju Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan, Sebuah Catatan Terbuka Merphin Panjaitan Untuk Para Pimpinan Parpol
Ilustrasi pakaian astronot salah satu tanda kemajuan sebuah bangsa, mereka sudah pulang pergi ke bulan dan planet lain selain bumi, sedangkan di Indonesia masih ribut antarsesama anak bangsa. (Foto: Pixabay)

Oleh: Dr. Merphin Panjaitan, M.Si., II Penulis Buku Logika Demokrasi, Peradaban Gotong Royong dan Revolusi Indonesia Menuntaskan Sejarahnya

JAKARTA, SUARAUMAT.com - Saudaraku sebangsa dan setanah air. Hari ini Senin, 30 Mei 2022, saya Merphin Panjaitan menyampaikan suatu gagasan kepada para pimpinan partai politik (parpol) di Indonesia. 

Hal ini saya lakukan sebagai salah satu upaya untuk keluar dari perangkap keterbelakangan yang menghambat gerak langkah Indonesia menuju cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, yaitu Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Di tengah masyarakat Indonesia, terlalu banyak gelar akademik, tetapi terlalu sedikit prestasi akademiknya. Bukti sederhana, lihat nama-nama orang kita, gelar akademiknya berderet-deret di depan dan di belakang namanya; tetapi coba cari nama-nama itu di perpustakaan dan di toko buku, tidak sebanding. 

Bagi kebanyakan orang Indonesia, gelar akademik adalah status, bukan prestasi. Bandingkan di tempat atau negara lain. 

Orang yang berminat jadi pejabat negara banyak. Menteri sekarang terdiri dari 4 menteri koordinator dan 30 menteri bidang, tetapi perekonomian timpang dan keadilan sosial masih jauh. Jabatan Menteri secara umum adalah status, bukan prestasi.

Mari lihat di Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Para pemakai rompi oranye, lewat di depan wartawan senyumnya masih berkembang. Seolah-olah dia mengatakan, saya memang koruptor dan akan masuk penjara tetapi ingat, keluar dari penjara saya masih kaya, dan kamu masih tetap miskin. 

Bagi masyarakat kebanyakan di Indonesia, kekayaan adalah status, bukan prestasi. Kita memang pemburu status kelas berat, dan hampir tidak kenal prestasi. Dan akibatnya, kita menderita dan terjebak dalam keterbelakangan.

Berikut paparan singkat perangkap keterbelakangan yang menjerat warga negara Indonesia, yang membuat kita sebagai bangsa menderita sekarang ini. 

Pertama, secara umum, masyarakat Indonesia memiliki pola pikir dan perilaku emosional berorientasi pada status. Sikap dan perilaku sehari-hari emosional; mudah marah dan sering konflik; bahkan konflik dengan kekerasan, tanpa alasan yang jelas. 

Kebanyakan masyarakat Indonesia sering mengambil keputusan yang tidak rasional, baik dalam kehidupan bermasyarakat ataupun bernegara. Masyarakat yang mudah dibohongi, mudah dihasut, dan mudah diajak melawan Pemerintah tanpa alasan yang jelas. 

Semua ini menyebabkan terjadinya unsur kebencian dan permusuhan antarberbagai kelompok masyarakat yang berbeda suku, ras, agama, golongan, dan bahkan perbedaan tempat tinggal. 

Sekarang ini Indonesia mempertontonkan kepada sesama anak bangsa dan dunia secara terang benderang para tukang hasut, tukang kipas kebencian dan permusuhan antarberbagai kelompok masyarakat, dan sangat anehnya lagi mereka dianggap serta diperlakukan sebagai pahlawan oleh kelompok tertentu. 

Di tengah masyarakat kita sekarang ini, bisa terjadi sampah masyarakat menjadi pahlawan, dipuja dan dihormati.

Terperangkap Dalam Keterbelakangan Menuju Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan, Sebuah Catatan Terbuka Merphin Panjaitan Untuk Para Pimpinan Parpol

Demikian Perangkap Keterbelakangan bagian pertama, akan dilanjutkan dengan perangkap keterbelakangan bagian kedua, yaitu Terlalu Cepat Menjadi Konsumen dan Terlalu Lambat Menjadi Produsen.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya. Dari saya Merphin Panjaitan, saudaramu sebangsa dan setanah air. Penulis buku Logika Demokrasi, Peradaban Gotong royong dan Revolusi Indonesia Menuntaskan Sejarahnya. Selamat Berjuang! MERDEKA.***

Editor: Konrad

COMMENTS

BEST MONTH