Akademisi Mikhael Raja Muda Bataona: Pancasila Sebuah Ingatan, Warisan dan Tersimpan Dalam Kesadaran Kolektif

Pancasila adalah sebuah ingatan, memoria, juga sebuah warisan yang diturunkan dan disimpan dalam kesadaran kolektif agar kita tahu saja bahwa ada...

Akademisi Mikhael Raja Muda Bataona Pancasila Sebuah Ingatan, Warisan dan Tersimpan Dalam Kesadaran Kolektif
Akademisi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Rajamuda Bataona. (Foto: ANTARA/Bernadus Tokan)

Penulis: Konrad

KUPANG, SUARAUMAT.com - Pancasila sebagai sebuah produk pengetahuan, buah refleksi kritis Soekarno, sangat dipengaruhi oleh niai-nilai lokal, relasi-relasi sosial, inspirasi-inspirasi filosofis, sosial dan ekonomi yang Soekarno alami dalam hidupnya selama pembuangan di Ende Flores, Nusa Tenggara Timur atau NTT.

Akademisi yang juga Dosen Komunikasi Politik dan Teori-Teori Kritis pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Mikhael Raja Muda Bataona menilai, kunjungan Presiden Joko Widodo atau Jokowi ke Ende, secara langsung bermakna historis bahwa sejarah kota Ende dan perjuangan Soekarno adalah nilai-nilai vital yang harus terus menjadi imajinasi sekaligus pengetahuan bagi generasi penerus bangsa ini. 

Mengapa karena sejarah tentang Pancasila adalah sebuah ingatan, memoria, juga sebuah warisan yang diturunkan dan disimpan dalam kesadaran kolektif agar kita tahu saja bahwa ada orang sebelum kita, yang sangat berjasa, yaitu Soekarno saat hidup dalam pembuangan di sebuah kota yaitu Kota Ende, kata Mikhael Rajamuda Bataona di Kupang, Rabu, (31/5/2022).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Selasa, 31 Mei 2022 tiba di Kabupaten Ende, Pulau Flores bagian tengah, Provinsi NTT dan menjadi Inspektur Upacara pada Peringatan Hari Lahir Pancasila Rabu, 1 Juni 2022.

Mikhael mengatakan, kunjungan presiden Jokowi ini, secara semiotik juga bisa dibaca sebagai sebuah penghormatan dan legitimasi politik Negara bahwa Kota Ende memang kota sejarah yang patut mendapat pengakuan resmi dan spesial dari Negara yaitu sebuah pengakuan dan penghormatan bahwa di kota bersejarah inilah, sang Proklamator Soekarno, bisa merenung dan mendapat ilham pengetahuan yang melahirkan ide-ide utama, poin-poin vital yang melahirkan apa yang kita sebut sebagai Pancasila.

Artinya, meskipun selama ini hal itu sudah diakui, tetapi dengan kehadiran Presiden Jokowi yang adalah seorang Kepala Negara, peran dan jasa Soekarno sebagai perumus genial Pancasila dan kontribusi Kota Ende serta masyarakatnya di masa itu yang memungkinkan Soekarno untuk berpikir dan merenung, sekali lagi mendapat penghormatan dan apresiasi dari Negara. 

"Kunjungan Presiden Jokowi secara langsung bermakna historis bahwa sejarah kota Ende dan perjuangan Soekarno adalah nilai-nilai vital yang harus terus menjadi imajinasi sekaligus pengetahuan bagi generasi penerus bangsa ini," katanya.

Karena sejarah tentang Pancasila adalah sebuah ingatan, memoria, juga sebuah warisan yang diturunkan dan disimpan dalam kesadaran kolektif agar kita tahu saja bahwa ada orang sebelum kita, yang sangat berjasa, yaitu Soekarno saat hidup dalam pembuangan di sebuah kota yaitu Kota Ende. 

Di kota inilah, Soekarno telah berjuang mengumpulkan nilai-nilai utama yang kemudian menjadi Pancasila. Di mana Pancasila adalah sebuah filosofi dan dasar bagi berdirinya bangunan negara ini. 

Bahkan menjadi satu kekuatan utama yang melindungi bangsa ini dari perpecahan dan keterbelahan. Itulah poin penting yang saya kira sedang ditunjukan oleh Presiden Jokowi dalam kunjungannya di Kota Ende. 

"Karena itu saya membaca bahwa kunjungan ini sakral. Bukan hanya sebuah kunjungan biasa. Karena dilakukan di hari Lahirnya Pancasila. Presiden sebagai Kepala Negara ingin agar generasi saat ini memahami bahwa Ende dan Pancasila itu satu," kata Pengajar Investigatif News dan Jurnalisme Konflik pada FISIP Unwira Kupang ini. 

Di kota Endelah kekuatan utama pelindung Negara ini dilahirkan oleh Proklamator Soekarno. 

Presiden Jokowi sekaligus juga lewat kunjungan ini secara resmi mengakui bahwa tanpa permenungan Soekarno di Ende, Pancasila, bisa saja tidak pernah ada atau, jikalau pun ada konsepnya, nilai-nilai fundamental yang terkandung di dalamnya tidak akan sama. 

Sebab, Pancasila sebagai sebuah produk pengetahuan, buah refleksi kritis Soekarno, sangat dipengaruhi oleh niai-nilai lokal, relasi-relasi sosial, inspirasi-inspirasi filosofis, sosial dan ekonomi yang Soekarno alami dalam hidupnya selama pembuangan di Ende. 

Di mana, saat itu, Soekarno sendiri mengalami bagaimana multikulturalisme dan keberagaman itu nyata dan hidup di dalam masyarakat Ende. 

Tetapi, semuanya hidup harmonis dan saling mengasihi sebagai sesama manusia. Itulah kekuatan utama yang ditimbah Soekarno di Ende. Karena itu, kunjungan Presiden Jokowi ini merupakan sebuah penegasan sekaligus pengakuan bahwa Soekarno dan Ende yaitu masyarakatnya adalah satu. 

Akademisi Mikhael Raja Muda Bataona Pancasila Sebuah Ingatan, Warisan dan Tersimpan Dalam Kesadaran Kolektif
Rumah pengasingan Bung Karno di jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Ende Utara, Kabupaten Ende, Flores NTT. (Foto: Kompas.com/Nansianus Taris)

Soekarno tanpa kontribusi kultural, sosial, dan politik masyarakat Ende di masa itu tidak akan bisa berpikir dan merenung tentang Pancasila secara genial. Dan tentu saja, salah satunya adalah  pengaruh persahabatan Soekarno dengan para Pastor Eropa di Ende, di masa itu, membuat Soekarno mendapat akses membaca banyak buku tentang bangsa dan kebangsaan, juga bagaimana mendesain sebuah bangsa dan negara yang merdeka dari imperialisme dan kolonialisme. 

Sehingga kunjungan Presiden Jokowi ini menurut saya, sengaja dilakukan Presiden Jokowi untuk membangkitkan memoria passionis atau kenangan akan penderitaan yang dialami Soekarno, bahwa di masa itu, saat dibuang dan diasingkan, sang founding-fathers tidak menyerah karena sepi dan menderita secara batin, tetapi justru bangkit dan tegar. 

Di mana dalam relasinya dengan masyarakat Ende saat itu, dan perjumpaannya dengan para Pastor pemikir di Ende di kala itu, ia menemukan inspirasi-inspirasi luar biasa tentang Pancasila yang akhirnya menjadi dasar Negara ini, demikian Mikhael Rajamuda Bataona. 

Editor: Kun II Sumber: Antara

COMMENTS

BEST MONTH