Dr Merphin Panjaitan: Indonesia Terperangkap Dalam Keterbelakangan, Peringatan Bagi Para Pemimpin Parpol

Saudaraku sebangsa dan setanah air, sebagai sesama anak bangsa saya mencoba mengungkapkan pendapat dan isi hati saya terkait Indonesia saat ini.

Dr Merphin Panjaitan Indonesia Terperangkap Dalam Keterbelakangan, Peringatan Bagi Para Pemimpin Parpol

SUARAUMAT.com -
Saudaraku sebangsa dan setanah air, sebagai sesama anak bangsa saya mencoba mengungkapkan pendapat dan isi hati saya terkait Indonesia saat ini. 

Sebuah negara kepulauan terbesar salah satunya di dunia, yakni Indonesia kini menurut saya sudah masuk dalam perangkap keterbelakangan, yang mana ini berarti masyarakat kita terlalu cepat sebagai konsumen tetapi terlalu lambat sebagai produsen.

Saudaraku, penduduk bumi sekarang mendekati 8 miliar jiwa. Dengan penduduk sebanyak itu, interaksi antarmanusia semakin intensif. Begitu pula interaksi antara manusia dengan bumi, hewan tumbuhan dan mikro organisme. 

Interaksi ini harus seimbang, eksploitasi bumi oleh manusia harus seimbang dengan regenerasi bumi, interaksi antarmanusia, baik interaksi antarindividu, antarkelompok maupun antarbangsa juga harus seimbang.

Interaksi yang tidak seimbang antara manusia dengan bumi dan makhluk hidup lainnya bisa membawa bencana, misalnya berupa kerusakan bumi dan pandemi COVID-19 saat ini walau semakin melandai. Dalam interaksi di bumi ini pilihannya hanya dua, saling menghidupi atau saling memusnahkan.

Mari kita lanjutkan pembicaraan ini. Kita bicara tentang interaksi antarbangsa, khususnya dalam menjalankan peran sebagai produsen sekaligus konsumen. Semua bangsa di muka bumi ini, memiliki hak, kewajiban dan tanggungjawab menjadi produsen dan konsumen. 

Peran ini juga harus dijalankan secara seimbang. Kita bangsa Indonesia harus memelihara keseimbangan sebagai produsen dan sebagai konsumen. Misalnya, kita suka menggunakan barang dan jasa berkualitas tinggi, maka kita juga harus mampu memproduksi barang dan jasa dengan kualitas tinggi. 

Sekarang ini tidak, kita suka membeli barang dan jasa berkualitas tinggi, tetapi kita hanya memproduksi barang dan jasa sekedar ada, ya maksud saya kualitas kaleng-kaleng. Kita selalu membanggakan diri dengan alam yang kaya raya.

Kita berorientasi pada menjual hasil alamnya, terus dapat uang, dan membeli apa saja yang kita inginkan. Kita malas memproduksi barang dan jasa yang kita butuhkan. Yang seharusnya, sebagai bangsa besar kita bertanggungjawab memproduksi barang dan jasa berkualitas tinggi untuk kita, dan untuk bangsa-bangsa lain.

Tetapi mengapa kita tidak memegang prinsip nasionalisme untuk semua sektor, termasuk soal produksi dan distribusi barang-barang bernilai ekonomi tinggi, dan melakukan tanggungjawab ini. 

Saya pikir ada yang salah dengan pemikiran kita sebagai suatu bangsa merdeka. Kita, dalam setiap waktu selalu mengakui bentang alam kita yang kaya. 

Kita lupa, Tuhan menganugerahkan alam yang kaya ini, tetapi pada waktu yang sama Tuhan juga melengkapi kita dengan kemampuan berpikir. 

Kita mengeksploitir bumi ini habis-habisan, pada waktu yang sama kita menelantarkan kemampuan berpikir kita. Kita menganggap kekayaan alam penting, tetapi kemampuan berpikir kita tidak ditingkatkan, kita lupa bahwa kita manusia.

Ya. Tentu kita selalu ingat bahwa kita ini adalah persekutuan manusia yang hidup di tanah air Indonesia. Tetapi kita kadangkala lupa, bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai manusia dengan tugas menatalayani alam semesta ini, untuk kehidupan berkecukupan segala makhluk. 

Dan untuk itu kita diberi kemampuan berpikir dan kemampuan membuat barang dan jasa. Oleh karena itu, mari kita berpikir kreatif, kerja keras, gunakan waktu pemberian Tuhan dengan efisien. 

Mari kita selalu ingat bahwa kita bangsa Indonesia adalah persekutuan manusia yang bertanggungjawab. Kita harus membarui diri menjadi produsen dan konsumen yang seimbang. 

Kita harus membarui diri menjadi bangsa Indonesia yang bertanggingjawab, yang mau dan mampu memproduksi barang dan jasa berkualitas tinggi, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penghuni bumi dalam kerangka kerja saling menghidupi.

Dr Merphin Panjaitan Indonesia Terperangkap Dalam Keterbelakangan, Peringatan Bagi Para Pemimpin Parpol

Konklusinya, bahwa para pemimpin partai politik saat ini yang berkuasa maupun yang belum, sejatinya harus bertanggung jawab atas hal ini. Negara dan bangsa Indonesia telah masuk dalam perangkap keterbelakangan karena sifat hidup masyarakatnya yang konsumtif tanpa mempersiapkan produksinya.

Warga negara juga harus segera menyadari dan bersuara lantang kepada para pemegang kekuasaan agar memikirkan jalan keluar bagi Indonesia yang kita cintai bersama ini untuk segera keluar dari perangkap keterbelakangan. 

Stop juga saling memengaruhi antarsesama dalam konteks yang negatif, menghujat, menyinyir, tetapi memberikan kritikan yang membangun, tidak menghujat personal.

Kita bersama pemimpin negeri ini harus bersiap menghadapi tantangan zaman yang lebih menantang lagi di masa depan dengan memperkuat produksi dan distribusi. 

Editor: Konrad

COMMENTS

BEST MONTH