Edy Rahmayadi, Gubernur Sumut Yang Belum Sembuh Kesesatan Berpikir

Kurang lebih Anda sudah 4 tahun menjabat Gubernur Sumatera Utara, tapi tidak satupun prestasi yang dapat dibuktikan di tengah-tengah masyarakat,

Edy Rahmayadi, Gubernur Sumut Yang Belum Sembuh Kesesatan Berpikir
Edy Rahmayadi, Gubernur Sumut Yang Belum Sembuh Kesesatan Berpikir. [Foto: Cnn] 

Penulis: Konrad

SUARAUMAT.com - Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi, mengatakan jika dia adalah Putin, dirinya akan menyerang Ukraina tiga tahun lalu. Hal tersebut disampaikan Edy saat menjadi keynote speaker pada acara Sumateranomic ke-3 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) di Medan, Senin (6/6).

Awalnya, Edy berbicara tentang dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian Sumut. Mantan Pangkostrad itu meminta perbaikan ekonomi di Sumut.

Menurut Edy, dampak ekonomi Sumatera Utara juga disebabkan invasi Rusia ke Ukraina tapi tidak terlalu besar. 

Edy lantas menyinggung saat dirinya dimintai tanggapan terkait invasi Rusia ke Ukraina. Menurut dia, jika dirinya menjadi Putin, ia sudah menyerang Ukraina sejak tiga tahun lalu.

Pernyataan orang nomor satu Sumut itu mendapat tanggapan dari masyarakat, tanpa terkecuali Fredi Lumban Gaol, seorang aktivis di Kota Medan, Sumut.

"Jika tidak asal-asalan ngomong bukan Edy Rahmayadi namanya. Terlalu jauh Anda mengurusi perang Rusia dengan Ukraina. Sumatera Utara masih banyak yang harus diurus. Kalau sudah tidak sanggup Gubernur silakan mundur dan pergilah perang ke Ukraina, mana kala Anda rindu kembali perang," kata Fredi dalam keterangan tertulisnya kepada Suaraumat.com.

Menurut pria yang akrab disapa Fredi itu, Edy sebagai pejabat publik seharusnya meletakkan rasa sosial kemanusiaan di atas segala-galanya. 

"Bahwa tidak seorangpun di dunia ini yang menginginkan terjadinya perang. Karena dampak terbesar perang adalah korban nyawa yang terus berjatuhan, kematian menjadi sajian setiap hari, daging tulang belulang manusia berantakan dimana mana," ujarnya.

Perang di mana pun itu sebuah bencana kemanusiaan yang selalu menghantui sejarah kehidupan dan menimbulkan traumatik berkepanjangan. Bagaimana bisa seorang gubernur dengan pongahnya mengatakan perang kalau ia menjadi seorang presiden yang bernama Putin?

"Sebelum memberikan pandangan atau pendapat terhadap konflik yang terjadi seperti perang Rusia-Ukraina, seharusnya sikapi apa dampak dan situasi dunia internasional dari kesimpulan pendapat yang Anda sampaikan, dan itulah adab dan wibawa sebagai gubernur," tutur Fredi menjelaskan.

Fredi mengingatkan Gubernur Edy bahwa perang Rusia-Ukraina itu adalah faktor sejarah, kondisi geopolitik, situasi kekuasaan dan itu harus dipahami.

"Edy harus banyak membaca agar tidak ngawur berpendapat. Belajarlah berpendapat dari situasi, mengamati dampak kondisi apalagi menyangkut nilai-nilai kemanusiaan," tegas Fredi Lumban Gaol.

Cerminan seorang pejabat publik menurut Fredi adalah harus memiliki rasa empati sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di atas segalanya.

"Kurang lebih Anda sudah 4 tahun menjabat Gubernur Sumatera Utara, tapi tidak satupun prestasi yang dapat dibuktikan di tengah-tengah masyarakat, yang terjadi malah Anda hanya menciptakan ketersinggungan dan gesekan di tengah-tengah masyarakat, ngomong asal-asal, bicara seperti preman pasar," kata Fredi lagi.

Fredi menyarankan kepada Gubernur Edy untuk selesaikan masalah di Sumut. "Sudahlah fokus aja menyelesaikan persoalan dan membangun Sumatera Utara, bagaimana supaya maju tuntaskan dulu janji kampanye politik ERAMAS itu," ujarnya.

Fredi pun berdoa semoga perang Rusia dengan Ukraina segera berakhir, supaya masyarakat kembali rukun dan pulih beraktivitas seperti sedia kala. 

"Pak gubernur, lebih baiklah diam kalau tidak, tidur aja karena itu cara cukup membantu masyarakat, horas, seruput secangkir kopi," pungkasnya.

Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH