Preman uang dan kekuasaan dalam putaran mesin waktu kehidupan manusia

Preman/jagoan/jawara menjadi koloni di Negara metropolitan, di perkotaan mereka berkoloni bergerak untuk kepentingan sendiri atau kelompok.

Preman uang dan kekuasaan dalam putaran mesin waktu kehidupan manusia
Foto Ilustrasi. [Kolase: Suaraumat.com/Konradus Fedhu]

Agung Puguh Ristanto -
SuaraumatHiburan

SUARAUMAT.com - “Pak cik pak pak preman preman oh oh Pak cik pak pak metropolitan…” Tidak ada yang salah dalam sebuah karya seni, Ikang Fawzi pelantun juga pencipta lagu preman, menggambarkan kehidupan di kota metropolitan.
Paman atau adik dari bapak atau ibu, mungkin itu arti dari pak cik pak pak…. 

Sedangkan preman selalu diidentikan dakan kriminal dan sisi gelap kota metropolitan. Berkisah, saat Ikang akan memulai perannya di film drama Indonesia “Biarkan Bulan Itu” tahun 1986 disutradarai Arifin C Noer.

Dari tuntutan perannya sebagai preman, kala itu Ikang mulai bergaul dan mengenal kehidupan preman di Blok M, Jakarta Selatan sebuah kawasan elit yang lengkap dengan pusat perbelanjaan dan hiburan kelas menengah atas. 

“Ada cerita beberapa hal yang mendalam sekali, di antaranya kesetiakawanan itu yang gua nggak dapet di orang lain, gitu loh, nggak didapat di kehidupan sosial biasa. Bener-bener komitmen mereka tentang kesetiakawanan itu luar biasa," dikutip PikiranRakyat-Pangandaran.com dari kanal YouTube Ari Lasso pada Senin, 5 April 2021.

Tapi saya juga ingin analisis mendalam, ini “mesin jahit jarum kecil” Preman di-framing tajam, menakutkan dan meresahakan. Barometer objektifnya “prasangka dan was-was”. Yang jelas sekarang kita sama sekali tidak berada di mana preman pada awalnya. 

Penamaan preman dikenal pada zaman kolonial Belanda (Hindia Belanda), kali pertama istilah itu ada di Medan Sumatera Utara, berasal dari bahasa Belanda vrijman, kata 'vrij' yang artinya bebas atau merdeka, dan 'man' yang artinya orang, sama dengan istilah dalam bahasa Inggris, free man, orang yang bebas atau merdeka. Kala itu bisa diartikan orang yang tidak terikat kontrak kerja.

“Pada masa kolonial istilah preman hanya dikenal di kawasan onderneming yakni perkebunan di sekitar kota Medan. Keberadaan vrije man dapat menakuti para pengusaha yang berkebangsaan Belanda. Vrijman justru sengaja dikembangkan oleh para pekerja perkebunan untuk melawan kesewanang-wenangan para pengusaha melalui centeng-centeng yang bertindak tidak manusiawi. 

Kebanyakan buruh perkebunan yang bekerja di Medan berasal dari Jawa, istilah preman itu pun dimaknai lagi menjadi prei mangan (libur makan) yang pengaplikasiannya gratis makan dan minum di warung-warung milik istri pekerja perkebunan. Sebab jika mereka ada di warung itu, pengusaha dan centeng-centeng perkebunan milik Belanda tidak berani berbuat macam-macam.” Dikutip dari AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 2, No. 2, Juni 2014.

Pada akhir abad ke-19 di Batavia kini DKI Jakarta, preman hadir dalam masyarakat sebagai penolong rakyat miskin dari penindasaan ekonomi dan kemanusiaan kolonial Belanda. 

Si pitung, Angkri, Si Conet, Entong Gendut dan Kai’in bin bayah, bebebrapa nama preman besar di Batavia,  di mata penjajah mereka adalah para pembuat rusuh. 

Mereka merampok harta milik tuan tanah dan Belanda untuk diberikan kepada warga masyarakat miskin.

Sejak tahun 1950 preman tidak lagi berpihak untuk kepentingan rakyat

Seiring waktu penamaan preman memasuki gelombang baru, untuk tetap eksis mereka bermutasi cepat, beberapa aspek fenomenal gelombang preman berkembang ketika ekonomi semakin sulit dan pengangguran semakin tinggi. 

Preman/jagoan/jawara menjadi koloni di Negara metropolitan, di perkotaan mereka berkoloni bergerak untuk kepentingan sendiri atau kelompok. 

Bahkan hampir semua preman hanya memiliki nyali, dan ada pihak-pihak yang memodali mereka untuk terus eksis. 

Penjagaan keamanan suatu kawasan tertentu seperti lahan parkir, tempat hiburan, pasar dan jasa penagihan utang, merupakan bisnis yang dilakukan sekelompok preman di kota besar. 

Preman merupakan individu yang sulit untuk berpura-pura sedangkan premanisme itu sendiri sifat yang tidak terlihat dan tersembunyi (laten), kejadian/peristiwa serupa berpotensi terulang di kemudian waktu. 

Secara terminologi konsep preman di kalangan akademisi mereka adalah “mafia, gangster, bandit dan kelompok kriminal terorganisasi (organized crime)”. 

Kejahatan (pembunuh bayaran), penyelundup (narkoba), sampai jasa  penagihan utang, preman juga kerap digunakan seperti perbankan atau perusahaan kredit dan lising kendaraan dalam menagih nasabah atau debitur yang tidak membayar atau telat membayar utang, mirisnya, sering sekali mereka menggunakan cara-cara intimidatif.

Premanisme berbasis Organisasi Masa (Ormas) untuk politik

Ini manifestasi rezim orde baru, sejak dahulu hingga sekarang ormas melakukan bisnisnya dengan kekerasan dengan pola hubungan yang beragam baik dengan penguasa ataupun masyarakat. 

Menurut Ian Douglas Wilson Peneliti dari Murdoch University, Australia, juga penulis buku “"Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia Pasca Orde Baru" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Desember 2018 lalu. 

"Yang pertama, dahulu mereka harus berinduk ke negara, jadi enggak mengherankan kelompok seperti Pemuda Pancasila (PP), mereka tujuannya untuk membela NKRI, membela Pancasila dan sebagainya. Jadi mereka dianggap punya peran ideologis tapi juga peran di jalan untuk mengawasi, mengontrol unsur-unsur masyarakat, kekuatan sosial yang lain, yang mungkin dianggap mengancam negara,"

Pascaorde baru banyak berubah Pemuda Pancasila mempertahankan ideologinya sebagai identitas. 

Di tahun 2001 juga muncul organisasi masyarakat Betawi dengan identitas budaya FBR (Forum Betawi Rempug) dan Forkabi (Forum Komunikasi Anak Betawi). 

Sedangkan Front Pembela Islam (FPI) muncul sebelumnya di tahun 1998/1999 dengan basis Islam. Saat itu, FPI masih dirangkul oleh para pejabat tinggi dari TNI (Pamswakarsa), termasuk merangkul eleman masayarakat untuk menghalangi gerakan reformasi. 

Menurut saya ini, semuanya menyerupai pola Orde Lama (NASAKOM). Fenomena sekarang ormas hadir dengan hubungan sebagai kekuatan jalanan memberikan jaminan kebutuhan anggota, bisa disewa atau dibayar.

Beranjak pada peradaban yang melunakan wajah mengkerut dan kusut, nilai-nilai masa lalu penataran Pedoman, Pengahayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4) yang usang tersingkir amandemen, harus kembali sebagai pedoman di instansi pendidikan sedini mungkin.

Preman dari masa ke masa berkembang menuju satu titik kumpul dan di sana menyediakan berbagai fasilitas kenyamanan walau dalam praktiknya sering melanggar hukum dan undang-undang yang berlaku. 

Saya yakin bukan satu-satunya yang mengeluh, Siapakah preman sebenarnya??? Dan Saya takut bahwa mereka akan membawa kecemasan interaksi sosial !!! Tuhan tolong kami.

(PuR/sum)

COMMENTS

BEST MONTH