Relawan Itu Bukan Simbol Uang, Trimedya Bicara Darimana Biaya Ganjarist?

Saya bukan Ganjarist tapi jangan disimpulkan relawan itu bergerak karena ingin mendapatkan uang. Jawaban pertanyaan Trimedya ini adalah relawan...

Relawan Itu Bukan Simbol Uang, Trimedya Bicara Darimana Biaya Ganjarist
Fredi Lumban Gaol, Aktivis Sosial Keberagaman dan Kesetaraan, Sumatera Utara. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Fredi Lumban Gaol

MEDAN, SUARAUMAT.com - Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah yang juga kader PDI Perjuangan mendapat sorotan tajam dari Trimedya Panjaitan rekan sesama kader partai berlambang banteng hitam moncong putih itu. 

Sontak serangan Trimedya tersebut mendapat tanggapan beragam dari masyarakat, tidak terkecuali dengan para aktivis atau relawan, baik yang mendukung Ganjar maupun tidak.

Fredi Lumban Gaol misalnya, seorang aktivis sosial Keberagaman dan Kesetaraan sosial asal Medan, Sumatera Utara menanggapi Trimedya Panjaitan.

Saya bukan Ganjarist tapi jangan disimpulkan relawan itu bergerak karena ingin mendapatkan uang.

Jawaban pertanyaan Trimedya ini adalah relawan terbiasa bergerak yang bermodalkan makan minum dengan patungan dari kantong ke kantong pribadi. 

Nongkrong di pinggiran jalan yang bermodalkan gorengan dan air mineral segelas, berkumpul beratapkan terik matahari yang beralaskan debu jalanan, naik sepeda motor yang bensinnya dari kantong sendiri.

Memang jelas berbeda pemahaman, jika membandingkan gaya hidup para kader elit partai apalagi anggota DPR RI. Itu jelas beda, hidup dengan nongkrong di hotel setidaknya kafe mewah, naik mobil lengkap dengan sopir pribadi, makan minum ditanggung oleh Negara.

Mulai dari ujung baju sampai sepatu ditanggung Negara. Coba lae Trimedya tidur di rumah rakyat yang sedang kesusahan yang tidak pernah dipedulikan oleh lae dan pemerintah.

Relawan lahir karena situasi rakyat arus bawah yang rindu akan sosok pemimpin yang peduli pada rakyat. Pemimpin yang peduli pada penderitaan rakyat, dimana selama ini pemipin negara ini sibuk berpolitik dan berpidato di layar televisi. 

Akibat kerinduan itulah relawan lahir dari rahim penderitaan, membangkitkan agar negara menata masa depan generasi bangsa ini.

Di ILC kemarin Trimedy Panjaitan bertanya pada Eko Kuntadhi, apa prestasi Ganjar Pranowo? Dengan dasar pendapat bahwa rakyat harus tahu rekam jejak calon pemimpin, dan itu kita sepakat.

Nah...bagimana jika pertanyaan itu kembalikan pada pribadi Trimedya, apa yang sudah diperbuat lae Trimedya Panjaitan ini Dapilnya? kalau tidak salah sudah 5 periode atau 25 tahun.

Trimedya duduk di Senayan sejak tahun 2002. Trimedya menjadi anggota DPR periode 2002-2007, 2007-2012, 2012-2014, 2014-2019, dan 2019-2024. 

"Semoga di periode yang akan datang 2019-2024 bisa lebih maksimal memperjuangkan aspirasi masyarakat di dapil," kata Trimedya, Selasa (1/10), dikutip Kumparan.com.

Dengan apa yang diamanahkan konstituennya saat ini, Trimedya tak ingin jumawa, dia menilai perjuangannya untuk masyarakat Sumut harus lebih optimal lagi. 

Trimedya nyaleg DPR dari dapil Sumut II yang meliputi: Kabupaten Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Labuhanbatu Utara, Tapanuli Selatan, Kota Padangsidimpuan, Mandailing Natal, Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, Kota Gunungsitoli, Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Samosir, Padanglawas dan Padanglawas Utara.

Kita sama-sama Batak dan Kristiani coba dulu Trimedya membahas sesama elit partai bagaimana mencari solusi terhadap pelarangan beribadah dan penutupan rumah ibadah minoritas di negeri ini. 

Pasti Anda melihat dan membaca, mendengar situasi yang kejam ini, coba Anda peduli?

Perlu mungkin diberitahu ke elit kader partai yang satu ini bahwa gerakan relawan untuk Jokowi periode pertama sampai ke dua sangat tulus dan berpengaruh, dibandingkan kader partai yang satu ini.

Bermalam minggu dengan secangkir kopi, perlu koreksi diri.

Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH