Wolowae Tuan Rumah MTQ VI Tingkat Kabupaten Nagekeo Flores NTT

Kampung nelayan Kaburea di Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae menjadi tuan tuan rumah kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Kabupaten Nagekeo,..

Wolowae Tuan Rumah MTQ VI Tingkat Kabupaten Nagekeo Flores NTT
Suasana pembukaan MTQ VI tingkat Kabupaten Nagekeo yang diselenggarakan di Kaburea, Wolowae. [Foto: Tangkapan layar Youtube POPPELLAR CHANNEL]

Penulis: Konrad

WOLOWAE, SUARAUMAT.com - Kampung nelayan Kaburea di Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae menjadi tuan tuan rumah kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Kabupaten Nagekeo, Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2022.

Kegiatan MTQ yang mengusung tema “Membumikan Al-Quran, Menjunjung Keberagaman Menuju Nagekeo Damai Maju dan Sejahtera" ini akan digelar selama 4 hari sejak 15 Juni hingga 18 Juni 2022, dan diikuti oleh 190 peserta dari 6 Kecamatan di Kabupaten Nagekeo.

"Ada enam kafilah dari enam Kecamatan yang ikut dalam kegiatan MTQ kali ini, kita minus Aesesa Selatan karena di sana belum ada Masjid" jelas Zulkifli Pua Jiwa salah satu panitia jelang acara pembukaan pada Rabu (15/6).

Zulkifli menerangkan bahwa pelaksanaan MTQ kali ini meliputi beberapa jenis perlombaan antara lain, Tilawak, Tahfidz, Tartil, Da’i dan Da’ia hingga pentas seni (Kasidah).

Kepala Desa (Kades) Tendakinde Petrus Florianus Misa Dae kepada media menyampaikan apresiasi dan menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, kepercayaan panitia pelaksanaan MTQ mengadakan kegiatan di Kaburea merupakan bukti perhatian Pemkab Nagekeo terhadap masyarakat di wilayah itu.

Wolowae Tuan Rumah MTQ VI Tingkat Kabupaten Nagekeo Flores NTT
Suasana pembukaan MTQ VI tingkat Kabupaten Nagekeo yang diselenggarakan di Kaburea, Wolowae. [Foto: Tangkapan layar Youtube POPPELLAR CHANNEL]

"Terima kasih kepada Pemkab Nagekeo yang sudah memilih Kaburea menjadi tuan rumah MTQ tahun 2022. Ini adalah bukti perhatian pemerintah terhadap masyarakat di sini baik itu infrastruktur maupun potensi penunjang lain seperti pengembangan sektor wisata," ujarnya.

Kades yang juga masuk dalam struktur panitia ini mengaku, optimis jika pagelaran MTQ akan berjalan lancar dan sukses sampai kepada acara penutup nanti. Sebab, selain umat muslim, masyarakat Tendakinde yang beragama Katolik juga ikut melibatkan diri menyukseskan kegiatan tersebut.

"Kegiatan kita ini sangat didukung bukan hanya umat Islam saja akan tetapi umat Katolik juga berpartisipasi menyukseskan kegiatan ini," ucapnya.

Sekilas tentang Kaburea

Wolowae Tuan Rumah MTQ VI Tingkat Kabupaten Nagekeo Flores NTT
Suasana pembukaan MTQ VI tingkat Kabupaten Nagekeo yang diselenggarakan di Kaburea, Wolowae. [Foto: Tangkapan layar Youtube POPPELLAR CHANNEL]

Wolowae Tuan Rumah MTQ VI Tingkat Kabupaten Nagekeo Flores NTT
Suasana pembukaan MTQ VI tingkat Kabupaten Nagekeo yang diselenggarakan di Kaburea, Wolowae. [Foto: Tangkapan layar Youtube POPPELLAR CHANNEL]

Pemilihan Kaburea sebagai tempat berlangsung MTQ bukan tanpa alasan. Selain letaknya di bibir pantai dan terkenal dengan tambak garamya, Kaburea dihuni oleh etnis Buton, Sulawesi Tenggara yang mayoritas memeluk agama Islam. 

Etnis Buton dikenal memiliki pengetahuan kebaharian yang kuat menjadikan mereka terus mengeksplorasi laut Flores bagian utara dan menemukan lokasi yang bagus untuk memasang bubu hingga ke Pulau Kinde di Desa Tendakinde. 

Etnis Buton juga mendatangkan pengetahuan baru bagi masyarakat pesisir Flores seperti mengolah kelapa menjadi kopra. Dari kopra ini juga menjadi awal kehadiran etnis Buton di Kaburea.

Wolowae Tuan Rumah MTQ VI Tingkat Kabupaten Nagekeo Flores NTT
Suasana pembukaan MTQ VI tingkat Kabupaten Nagekeo yang diselenggarakan di Kaburea, Wolowae. [Foto: Tangkapan layar Youtube POPPELLAR CHANNEL]

Wolowae Tuan Rumah MTQ VI Tingkat Kabupaten Nagekeo Flores NTT
Suasana pembukaan MTQ VI tingkat Kabupaten Nagekeo yang diselenggarakan di Kaburea, Wolowae. [Foto: Tangkapan layar Youtube POPPELLAR CHANNEL]

Dalam bahasa Toto etnis Buton disebut ata Butu itu berinteraksi sangat baik dalam hal perdagangan kopra yang biasa ditukar dengan hasil pertanian masyarakat Toto saat itu. 

Hubungan ini berjalan penuh kekeluargaan selama berpuluhan tahun, meskipun ada perbedaan keyakinan agama (Katolik & Islam) antara kedua kelompok etnis tersebut. 

Diketahui, gelombang pertama nelayan dari Buton diprakarsai oleh La Jaenubu yang kemudian meminta izin kepada kepala suku Toto yang diwakili oleh Ngange atau akrab disapa Ebu Ngange untuk mendapat izin menetap di Desa Tendakinde.

Pada tahun 1947, orang Buton diberi tanah di Kaburea sebagai tempat tinggal dan menanam kelapa. Ini membuka gelombang migrasi lebih lanjut; hingga kini mereka telah menjadi ikon wilayah Kaburea. 

Dalam interaksi dengan orang Toto, mereka memperoleh pengetahuan tentang mengolah kebun ladang dan sawah tadah hujan. Hal itu mereka lakukan ketika musim hujan karena melaut cuaca tidak bersahabat. 

Etnis Buton menjadi bagian tak terpisahkan dari Wolowae yang telah menjadi saudara dalam kemanusiaan tanpa sedikitpun melihat perbedaan agama dan etnis. 

Wolowae Tuan Rumah MTQ VI Tingkat Kabupaten Nagekeo Flores NTT
Suasana pembukaan MTQ VI tingkat Kabupaten Nagekeo yang diselenggarakan di Kaburea, Wolowae. [Foto: Tangkapan layar Youtube POPPELLAR CHANNEL]

Bukti teranyar toleransi dan saling mengasihi antarkedua etnis (Toto & Buton) yang berbeda agama ketika paduan suara Orang Muda Katolik (OMK) Wolowae menyanyikan lagu mars MTQ dengan penuh penghayatan saat turut meriahkan pembukaan MTQ VI tingkat Kabupaten Nagekeo.

Bukan hanya itu, masih banyak kisah toleransi dan kasih sayang antarorang Toto dengan orang Buton yang tidak atau belum diungkap melalui media massa online, tapi lewat cerita dari mulut ke mulut sudah banyak terungkap. 

Inilah kita Indonesia, inilah indahnya toleransi dan kebersamaan yang terbungkus dalam kasih tanpa melihat suku, agama dan ras. Sinar terang toleransi datang dari Kaburea Wolowae, Nagekeo Flores, NTT untuk Indonesia.

Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH