BRIN Kembangkan Riset Hortikultura dan Perkebunan untuk Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Jejak karbon akan lebih lama tersimpan di tanah apabila berada dalam bentuk arang. Biochar merupakan arang biomassa yang dibuat dari limbah pertanian

BRIN Kembangkan Riset Hortikultura dan Perkebunan untuk Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca
BRIN Kembangkan Riset Hortikultura dan Perkebunan untuk Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca. [Pixabay]

SUARAUMAT.com -
Subsektor hortikultura dan perkebunan Indonesia meliputi komoditi penting yang memiliki peran strategis. Seperti sebagai tulang punggung perekonomian nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan untuk memenuhi permintaan dunia. 

Namun demikian, peningkatan produksi hortikultura dan perkebunan dengan cara memperluas area tanam di wilayah hutan dan lahan gambut menarik perhatian dunia karena dianggap merusak keragaman hayati, bahkan menjadi sumber emisi gas rumah kaca (GRK). 

Oleh karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membahasnya lebih dalam pada Webinar Session #3 Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan dengan topik “Peran Strategis Sub Sektor Hortikultura dan Perkebunan dalam Pencapaian Target Mitigasi Gas Rumah Kaca Nasional”, yang dilaksanakan pada  Jumat, 19 Agustus 2022.

Karbon merupakan unsur yang memiliki karakteristik unik. Dalam siklusnya, karbon di atmosfer ditangkap dan disimpan (sequestrate) oleh tanaman melalui proses fotosintesis dan disimpan dalam bentuk biomassa dan bahan organik tanah termasuk gambut. Seiring waktu, karbon kembali lepas ke atmosfer akibat deforestasi, dekomposisi bahan organik, dan kebakaran lahan.

Penanaman tanaman perkebunan yang memiliki kepadatan karbon tinggi di lahan yang memiliki kandungan karbon organik rendah merupakan cara yang sangat efektif dalam pengurangan konsentrasi karbon di atmosfer. 

Di sinilah, sub sektor perkebunan memiliki posisi penting dalam upaya mengidentifikasi komoditas yang paling sesuai dengan karakteristik lahan dengan memperhatikan aspek pengelolaan lahan, lingkungan, dan aspek pendukung lainnya. 

Peningkatan serapan karbon melalui pembangunan sub sektor perkebunan merupakan kontribusi besar pencapaian target pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) nasional dari sektor pertanian.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menjelaskan sektor pertanian memiliki posisi unik di dalam isu perubahan iklim global ini yaitu sebagai penyebab, sebagai korban, sekaligus sebagai solusi.

“Indonesia sebagai negara kepulauan dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia sangat rentan terhadap perubahan iklim. Dengan memahami ketiga posisi sektor pertanian tersebut secara utuh, kita dapat mengidentifikasi senjang riset dan menentukan arah penelitian dengan lebih baik,” terangnya.

“Riset di sektor pertanian terutama diarahkan untuk peningkatan produktivitas dengan memberikan perhatian serius terhadap aspek lingkungan sehingga akan meningkatkan upaya adaptasi, mitigasi (sebagai keuntungan dari upaya adaptasi), dan ketangguhan iklim,” sambung Puji.

Senada dengan Puji, Dwinita Wikan Utami selaku Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, mengatakan bahwa sektor hortikultura dan perkebunan memiliki potensi besar sebagai solusi perubahan iklim. 

“Budidaya hortikultura secara presisi akan menurunkan intensitas emisi sekaligus meningkatkan produksi dan kualitas. Sementara pengembangan tanaman perkebunan di lahan kritis dan terdegradasi akan meningkatkan serapan karbon daratan sekaligus untuk memenuhi permintaan dunia terhadap hasil komoditas perkebunan yang terus meningkat,” ungkapnya.

Setiari Marwanto, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN menyampaikan materinya mengenai jejak karbon di lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. 

“Sebagai produsen utama minyak kelapa sawit dunia, pemahaman aspek lingkungan khususnya jejak karbon ini akan sangat membantu menentukan research gap dalam upaya mendukung pembangunan industri kelapa sawit berkelanjutan dengan menerapkan best management practices mulai dari pengelolaan tanah, air, dan agronomis, dengan memperhatikan aspek ekonomi, hingga sosial budaya dan kelembagaan,” jelasnya.

Sementara Triyani Dewi, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN memaparkan modifikasi jejak karbon dan potensi pemanfaatan biochar di lahan pertanian. 

“Jejak karbon akan lebih lama tersimpan di tanah apabila berada dalam bentuk arang. Biochar merupakan arang biomassa yang dibuat dari limbah pertanian dalam kondisi keterbatasan oksigen (pyrolysis) sehingga memiliki karakteristik unik. Biochar selain dapat menjaga keseimbangan karbon dan nitrogen dalam tanah dalam jangka panjang, juga memiliki kemampuan sebagai bahan remediasi cemaran logam berat di lahan pertanian. Aplikasi biochar yang dikombinasikan dengan kompos ke dalam lahan akan lebih efektif dalam meningkatkan kesuburan tanah,  meningkatkan poduktivitas lahan marginal dan simpanan karbon di dalam tanah serta menurunkan ketersediaan logam berat pada tanah terkontaminasi logam berat,” rincinya.***

Sumber: BRIN

COMMENTS

BEST MONTH