Pengadilan Imajiner

Yang Mulia Hakim, lima hari yang lalu saya mencuri satu ekor kerbaumu, dan telah saya sembelih, sebagian dagingnya telah saya barter dengan beras pada

Pengadilan Imajiner
Ilustrasi [Pixabay]

Oleh: Dr. Merphin Panjaitan, M.Si

SUARAUMAT.com - Sekitar 10.000 tahun lalu, di awal masa bertani, di suatu tempat di Nusantara terdapat suatu desa dengan penduduk sekitar 20 keluarga. Si BK seorang duda tanpa anak, pemilik banyak kerbau bertetangga jauh dengan Si BA seorang ayah dengan banyak anak. 

Pada suatu hari, Si BA mencuri seekor kerbau milik Si BK, dan beberapa hari kemudian pencurian itu diketahui oleh Si BK. Pada waktu itu masyarakat politik belum terbentuk, manusia masih berada dalam keadaan alamiah, dan setiap orang berhak menjadi hakim atas perkaranya sendiri.

Sesuai dengan kebiasaan itu, Si BK membuka pengadilan, memanggil Si BA untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, disaksikan oleh penduduk desa. Sidang pengadilan dibuka dengan Hakim Tunggal, yaitu Si BK sendiri, tanpa jaksa dan tanpa pembela. 

Si BK sebagai Hakim menyampaikan peristiwa pencurian tersebut, dan meminta Si BA sebagai terdakwa untuk mengakui kesalahannya. 

Si BA menjawab: Yang Mulia Hakim, lima hari yang lalu saya mencuri satu ekor kerbaumu, dan telah saya sembelih, sebagian dagingnya telah saya barter dengan beras pada penduduk desa tetangga, sebagian lagi saya masak sendiri. 

Beras itu cukup untuk kebutuhan kami sekeluarga selama satu bulan. Hari ini saya datang mengikuti pengadilanmu ini untuk mempertanggungjawabkan kesalahanku. Saya berharap mendapat hukuman ringan, karena pencurian ini saya lakukan demi kelangsungan hidup keluargaku. 

Si BK sebagai Hakim menjawab: terdakwa Si BA dan saudara-saudara sekalian, hari ini, saya Si BK bertindak sebagai Hakim atas pencurian kerbau saya oleh Si BA. Sebelum menjatuhkan hukuman, saya akan menyampaikan beberapa pertimbangan: 

Pertama, hukuman ini diharapkan akan membuat Si BA tidak mengulangi lagi perbuatannya, dan juga akan membuat orang lain tidak melakukan kesalahan yang sama. 

Kedua, hukuman ini akan membuat masa depan yang lebih baik bagi kami berdua, saya Si BK dan Si BA, lebih baik dari kondisi sekarang, yaitu Si BA mempunyai banyak anak tetapi tidak punya harta milik untuk menghidupinya, dan saya Si BK punya banyak kerbau tetapi tidak punya anak untuk menikmati harta milikku itu. 

Dan berdasarkan pertimbangan di atas, saya menjatuhkan hukuman sebagai berikut: 

Pertama, Saya minta istri Si BA untuk menjadi istriku, sebagai ganti kerbau yang dicurinya, dengan harapan sepuluh tahun dari sekarang, saya Si BK akan memiliki banyak anak dan tentunya juga banyak kerbau. Mengapa saya tidak meminta anak gadis Si BA, karena istri Si BA telah terbukti dapat melahirkan banyak anak. 

Kedua, Tentu tidak adil meminta seorang perempuan sebagai ganti seekor kerbau, dan oleh karena itu saya akan memberikan kepada Si BA dua ekor kerbau betina dan satu ekor kerbau jantan dewasa, dengan harapan sepuluh tahun dari sekarang Si BA memiliki banyak kerbau dan tentunya juga banyak anak. 

Si BA dan saudara-saudara sekalian, inilah keputusan saya selaku Hakim Tunggal atas pencurian satu ekor kerbau milik saya oleh Si BA. Keputusan ini final dan tidak ada banding. Sidang Pengadilan saya tutup. 

Editor: Kun

COMMENTS

BEST MONTH