Analisis Biblika Terhadap Konsep Teologia Kontemporer Rasionalisme

Penyesuaian pikiran kita dengan Firman Allah, dengan menanam benih firman Allah di hidup kita sedemikian rupa, sampai berproses dari tertanam, berakar

Analisis Biblika Terhadap Konsep Teologia Kontemporer Rasionalisme
Analisis Biblika Terhadap Konsep Teologia Kontemporer Rasionalisme/ Freepik


Oleh: Corry Chandra Prasetya, S.Th

SUARAUMAT.com - Analisis Biblika terhadap konsep teologia kontemporer dalam hal ini teologi filsafat atau aliran rasionalisme.

Aliran teologi filsafat atau aliran teologi rasionalisme mengedepankan rasio atau akal. Menjadikan rasio sebagai sumber untuk mendapatkan kebenaran. Di yakini rasio sebagai sumber ide-ide yang daripadanya manusia membangun ilmu yang mengabaikan realitas di luar rasio.

Para filsuf termasuk Desarter, seorang pelopor teologi rasionalisme berpendapat bahwa akal pikiran adalah kekuatan akal pikran sebagai sumber seluruh kebenaran dan sebagai asal usul keberadaan.

Sehubungan dengan hal ini penulis ingin menganalisis secara biblika mengenai Teologi Filsafat-Rasionalisme. 

Ada pun tujuannya adalah untuk mengetahui apakah teologi ini bertentangan dengan Alkitab atau tidak? 

Sehingga dapat memberikan informasi serta pengetahuan yang benar berkenaan dengan Teologi Filsafat-Rasionalisme, dan kita dapat mengambil yang bermanfaat dari hasil analisis bagi kehidupan kita. 

Tidak dapat diingkari lagi, perkembangan zaman dan revolusi industri, revolusi demokrasi, revolusi ekonomi, revolusi ilmu, revolusi intelektual, revolusi harapan, modernisasi telah mempengaruhi mempengaruhi manusia dalam berteologi. 

Peter Gay mengatakan, zaman ini adalah abad pencerahan. Pencerahan bagi manusia yang tidak mandiri dan merdeka dalam dan untuk berpikir, karena terikat oleh agama dan politik. 

Teologi Filsafat-Rasionalisme

Teologi Fisafat-Rasionlisme, teologi yang mengedepankan rasio-akal sebagai sumber kebenaran dari interpretasi dan penerjemahan Alkitab, menyampingkan kebenaran di luar rasio-akal.

Martina Novalina di dalam buku “Filsafat Dalam Dunia Teologi”, yang ditulisnya, filsafat adalah kecintaan terhadap kebijaksanaan atau keinginan yang sungguh-sungguh terhadap kebenaran sebagaimana diambil dari makna kata fisafat, yang berasal dari kata bahasa Yunani “Philosophia”.

Berfilsafat artinya dorongan dari diri kita sendiri untuk mengetahui apa yang belum kita ketahui. Mengoreksi diri dengan jujur terbuka secara terus menerus seberapa jauh kebenaran yang telah kita dapatkan.

Teologi Filsafat-Rasionalisme, merupakan hasil interpretasi dan penerjemahan manusia terhadap Allah-Tuhan dengan semangat perlawanan ketidakpuasan pada status quo dan kemapanan pemikiran tentang Allah-Tuhan.

Teologi Filsafat-Rasionalisme apakah benar?

Andrew Wommack di dalam buku “Filsafat Kristen” berkata, filsafat merupakan alasan kita memberikan tanggapan yang berbeda-beda terhadap situasi. Filsafat yang salah menghasilkan tanggapan yang salah dalam menghadapi sebuah situasi. 

Pesimisme dan optimisme, dua contoh filsafat yang berlawanan. Orang yang pesimisme akan melihat hal buruk di masa depan yang akan terjadi, sedangkan orang yang optimisme, orang yang mengharapkan yang terbaik yang akan terjadi. 

Teologi Filsafat-Rasionalisme, menjadi benar apabila Teologi Filsafat berlandaskan Kristus, bukan berlandaskan ajaran turun temurun, tipu daya dan prinsip dunia ini.

Sama seperti cara kita menerima Kristus, yaitu dengan menaruh iman, begitu pun pada saat kita berfilsafat dan menerima segala sesuatu (Kolose 2:6). 

Filsafat Kristen hanya dapat dimiliki oleh orang yang telah dimuridkan dan menjadi murid Kristus. 

Teologi Filsafat-Rasionalisme yang berlandaskan ajaran turun temurun, tipu daya dan prinsip dunia berkaitan dengan filsafat kita; manifestasi cara berpikir dan tingkah laku yang diturunkan pada kita dari generasi sebelum kita. 

Teologi Filsafat-Rasionalisme seperti itu, teologi yang meninggikan adat istiadat, yang membuat kuasa firman Allah tidak berlaku (Markus 7:13). Adat istiadat dan agama telah merusak cara berpikir kita, sebab apa yang kita pikirkan demikianlah kita (Amsal 23;7 KJV).

Aspek-aspek Teologi filsafat rasionalisme yang Alkitabiah

1. Memperbaharui cara kita berpikir (Roma 12:1-2). 

Sulit memang untuk memperbaharui cara berpikir. Tidak terjadi secara otomatis berubah. Cara berpikir kita berubah saat kita memberi makan pikiran kita dengan kebenaran Kristus. Kebenaran yang tidak sepotong-potong tetapi kebenaran yang utuh, dan dengan kesadaran kita berusaha sungguh-sungguh menerima kebenaran dan menganut kebenaran itu.

Kebenaran yang utuh, yaitu kebenaran Kristus yang memerdekakan kita, hasilnya kita memiliki lebih dari pemahaman intelektual. Kita akan memiliki pengenalan di dalam hati kita. (Yohanes 8:32). 

2. Tidak menambahkan kebenaran-kebenaran salah pada Firman Allah. Izinkan Firman Allah menjadi dasar filsafat kita. Yang terutama kita perlu mendewasakan cara kita menanggapi apa yang terjadi pada diri kita di dalam hidup ini. (2 Korintus 4:8-9).

3. Penyesuaian pikiran kita dengan Firman Allah, dengan menanam benih firman Allah di hidup kita sedemikian rupa, sampai berproses dari tertanam, berakar, bertumbuh dan berbuah. (Galatia 6:9).

4. Menyadari dan mengakui filsafat setiap kita tidak sempurna, setia dan berkomitmen untuk hidup di dalam filsafat Allah yang berakar pada Firman-Nya. (2 Timotius 3:15-17). 

Perkembangan Teologi Filsafat-Rasionalisme

Teologi Filsafat-Rasionalime menawarkan wawasan dunia Kristen sebagai wawasan dunia yang benar, yang dapat digunakan secara umum dan yang layak dipercaya.***

(sum)

COMMENTS

BEST MONTH